Gallery

Rabu, 15 Februari 2012

Semarang nan Elok

Medio Pebruari 2011, saya mendapat undangan workshop penilaian angka kredit dosen, yang acaranya dipusatkan di Bandungan. Panitianya dari IAIN Walisongo, Semarang. Bandungan adalah salah satu daerah wisata. Bandungan ini memiliki alam yang elok nan indah. Daerahnya pegunungan dengan udaranya yang bersih, tata kotanya yang asri. Konon, di puncak Bandungan merupakan tempat yang memiliki energy positif terbaik di dunia. Di kakan kiri jalan terdapat hotel dan wisma yang bertuliskan: di sini ada karaoke.
Kota Semarang terkenal dengan kulinernya. Ada Lunpia, ada wingko Babat, dll.
Kami juga sempat berkunjung di Sam Poo Kong, Laksamana Cheng Ho.di sana, kami berfoto bersama. Banyak obyek yang kita lihat. Ada spanduk besar berwarna yang bertuliskan: menyambut kedatangan patung Cheng Ho yang terbesar.  Ada juga patung-patung lainnya yang mungkin pengikut setia Laksamana Cheng Ho. Ada juga baju Cheng Ho yang disewakan, sekali berfoto bayar Rp 75.000.
Selesai melihat obyek wisata Cheng Ho, kami menuju Kampus II IAIN Walisongo Semarang. Di sana, kami sudah ditunggu Dr Fadholan yang sehari-hari beliau bertugas sebagai dosen yang menangi program khusus, Ma’had Takhassus Tahfiz al-Qur’an (Pesantren kampus yang khusus untuk hafal al-Qur'an). Sahabat yang satu sewaktu masih tinggal di Mesir banyak menulis buku, disamping bertugas sebagai staf local di KBRI Mesir. Salah satu karyanya yang saya ingat adalah: al-Shalat fi al-Hawa’. Di dalamnya dibahas tata cara shalat di atas pesawat mulai tata cara berwudhu, hal-hal teknis mengenai bersuci dengan tissue (kering dan basah), sampai bagaima menentukan kiblat. Dari buku ini, kelihatan bahwa yang bersangkutan mengetahui secara mendalam fiqih perbandingan mazhab.
Ia banyak bercerita mengenai pengembangan Ma’had al-Jami’ah dan nilai plus mahasiswa diasramakan.
Ia juga bercerita mengenai kitab-kitab yang diajarkan kepada mahasiswanya. Kalau fiqih yang diajarkan adalah al-Yaqut al-Nafa’is kayra ahmad Muhammad al-Jasiri, seorang ulama kenamaan kelahiran Hadhramaut, Yaman. Kitab ini memuat ensiklopedi masalah-masalah fiqih. Inilah cirri khas kitab ini dan sangat mudah dipahami oleh pelajar pemula. Umpamanya bab mengenai wudhu’, memuat pembahasan pengertian wudhu, syatat-syarat sahnya, dan membatalkannya serta hikmahnya. Kitab ini berhaluan mazhab al-Syafi’iyah.
Di bidang tasawuf, pak Fadholan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-din.
Di bidang akhlak, diajarkan kitab karya al-Mawardy yang berjudul Adab al-Dunya wa al-Din.
Saya membayangkan kalau Ma’had Aly (Ma’had al-Jami’ah) di beberapa PTAI memiliki spesifikasi keilmuan agama yang mendalam, maka sarjana IAIN akan menjadi primadona. Lulusan PTAI akan terhindar dari “sarjana kertas”—meminjam istilah Prof Djoko Santoso, Dirjen Dikti--. Sarjana kertas adalah sarjana yang hanya mengantongi ijazah tanpa memiliki kompetensi yang cukup untuk bidang keilmuan yang digelutinya.  
Saya lagi teringat cerita (Dr.HC) Ir Ciputra. Beliau ini adalah raksana entrepreneur Indonesia terutama di dunia property. Pak Ci—demikian beliau disapa—menantang hidup berkat keuletan dan ketekunan serta lobbynya. Rupanya beliau selama bekerja dan menekuni bidang wirausaha tidak pernah memakai dan membawa-bawa ijazah. Pak Ci hanya mengandalkan kompetensinya. Setelah berselang 40 tahun, suatu waktu ketika isterinya memeriksa koper tua di rumahnya. Dalam koper itu ternyata tersimpan rapi ijazah pak Ci. Pak Ci meraih sukses tanpa ijazah ITB yang sudah lama diraihnya di bidang arsitek.
Lalu, bagaimana dengan lulusan PTAI kita?

Wa Allah a’lam.

1 komentar:

HASAN_OK mengatakan...

PTAI di Indonesia blm punya inner power. lebih suka mencontoh yg dari barat. dosennya lebih suka berpolitik dalam kampus...aq juga miris, kalau lihat alumni PTAI blm lancar baca al Qur'an