Gallery

Senin, 13 Februari 2012

Pondok Dalwa, Bangil

Darullughah Wal-dakwah, Bangil

Pesantren ini didirikan atas saran dan nasehat Syekh Muhammad Alawy al-Maliky al-Makky al-Hasany. Pondok ini sudah berdiri sekitar 25 tahun oleh pendirinya Allah yaghfir lahu  semoga Allah mengampuninya) al-Habib Hasan bin Baharun. Sekarang pondok ini dilanjutkan oleh putra-putra beliau, yakni al-Habib Zain ibn Hasan ibn Baharun, al-Segaf ib n Hasan ibn Baharun, dan al-Habib Ali ibn Hasan ibn Baharun. Al-Habib Ali ini masih muda berumur sekitar 30-an tahun tapi sudah menulis kitab, seperti al-Syams al-Munirah yang memuat pandangan-pandangan fiqih fuqaha mazhab al-Syafi’iyah.
Al-Habib Zain ibn Hasan ibn Baharun adalah pimpinan Pondok, dan pernah diasuh langsung oleh Syekh Muhammad Alawy al-Maliky selama tujuh tahun. Oleh santrinya, ia disebut sebagai seorang muhaddith ( ahli hadis). Ia juga biasa bertindak sebagai juru tulis Syekh Muhammad Alawy al-Maliki. Menurut penuturannya, Syekh Muhammad Alawy ini memiliki tujuh orang juru tulis yang senantiasa mendampinginya untuk mencatat kitab atau materi dakwah beliau.
Al-Habib Hasan ibn Baharun adalah seorang pejuang dakwah di jalan Allah. Selama membangun pondok Darul Lughah memiliki prinsip:
(a)    Al-ikhlash kepada Allah. Beliau tidak pernah kendor semangatnya untuk membangun pondok walaupun berhutang tiada putus-putusnya. Beliau berpenampilan biasa, bersahaja dan tidak ada tanda-tanda khusus pada dirinya. Beliau lebih memilih sebagai al-waly al-mastur, yakni orang yang dicintai Allah, yang tidak nampak di mata orang bnayak. Majhul fi al-ardh wa lakin ma’lum fi al-sama’ ( tidak terkenal bagi penduduk bumi, tapi populer bagi penghuni langit)
(b)   Akhlak yang tinggi. Sewaktu beliau dikeluarkan oleh gurunya al-Habib Husein yang konon kabarnya penganut syi’ah, dan terpaksa mengeluarkan muridnya al-Habib Hasan ibn Baharun. Beliaupun menulis surat dengan sangat hati-hati untuk pamit, dan tidak sedikitpun kalimatnya yang menyinggung perasaan gurunya. Beliau memiliki akhlak yang sangat santun dan mulia.
(c)    Al-qudwah, keteladan. Keteladanan ini sangat melekat pada diri al-Hasan ibn Baharun. Menurut penuturan salah seorang santrinya, kalau putra beliau melanggar aturan pondok, maka beliau member sanksi dua kali lipat dari santri kebanyakan. Umpamanya, puteranya menonton televisi di kala sedang ujian, maka dia akan disanksi dua kali lipat dari santri kebanyakan.
Al-Habib Zain ibn Hasan ibn Baharun memiliki kebiasaan kalau beliau berkunjung ke sebuah daerah, maka beliau mencari alumninya yang tidak mengajar, bukan yang sudah mapan atau mereka yang telah mendirikan pesantren. Beliau akan mendatangi yang tidak mengajar dan memberinya semangat agar mengajarkan ilmu yang telah didapatkannya selama nyantri. Kalau mereka merasa tidak cukup ilmu agama, maka al-Habib Zain akan meyakinkannya bahwa mengajarkan baca tulis al-Qur’an pun cukup. Bukankah itu juga sangat manfaat bagi umat Islam?
Beliau memiliki cita-cita besar untuk memajukan pesantren yang berorientasi pada kemajuan iptek. Halmana para santrinya bukan hanya mempelajari ilmu-ilmu agama an sich, tapi menekuni sains dan teknologi. Hal ini menjadi perhatian beliau agar umat ini mampu bersaing dan memimpin peradaban dunia. Mungkin bukan pesantren namanya, tapi semacam Islamic Boarding School. Kurikulumnya 80% ilmu-ilmu sains dan teknologi dan 20% ilmu-ilmu agama.
Al-Habib Zain berkeyakinan dengan memerhatikan pondok pesantren bangsa Indonesia akan maju akhlaknya. 
Pada penghujung acara Multaqa Nasional V ada dialog mengenai Prospek Pesantren dan pendidikan Islam. Saya diberi kesempatan untuk memimpin dialog ini. Saya mencoba membahas dua hal, karena keterbatasan waktu shalat zuhur. Yakni: (a) ada tekanan dunia secara sistematis untuk melemahkan arti dan peran pondok pesantren, sepeti tulisan Graham Fuller, a World without Islam, dan (b) dinamika dan siatuasi pondok pesantren antara Indonesia dan Yaman. Saya sempat menyinggung sedikit mengenai Ma’had Darul Hadith al-Salafy Dammaj pimpinan Syekh Yahya al-Hajury, salah seorang murid Syekh Muqbil hady al-Wadi’iy. Rupanya salah seorang peserta dialog ada ust yang bernama Yahya yang sudah lama nyantri di Tarim Hadhramaut, sekitar 10 tahun lamanya. Bahkan sekarang ini sedang menulis disertasi di al-Ahqaf University.  Ia sangat anti terhadap Syekh Muqbil dan menilainya sebagai seorang yang tidak layak diapresiasi pemikiran dan tindakannya. Syekh Muqbil itu keterlaluan dan menganggap selain kelompoknya sebagai kafir. Syekh Muqbil tidak bisa menerima pendapat orang selain dirinya.
Padahal, syekh Muqbil ini adalah seorang da’i dan muhaddhith, ia menulis banyak buku, di antaranya: al-Shahih al-Musnad mimma laisa fi al-Shahihain, al-Fatawa al-Hadithiyah, dll. Apakah karena kita tidak setuju atas sikapnya yang sangat “keras” itu, sehingga menutup mata kita untuk melihat kebaikan-kebaikan lain Syekh Muqbil?
Dari ust yahya  ini ( orang Cirebon), saya mendapat informasi, bahwa di kalangan Islam garis keras di Yaman ada lapisan tertentu. Yang pertama, adalah pengikut Syekh Muqbil. Dan lapisan kedua adalah mereka yang mengikuti Dr Nashiruddin al-Albany yang juga seorang muhaddhith yang menulis Silsilat al-ahadith al-Shahihah, silsilat al-ahadith al-maudhu’ah wa atharuha al-sayyi’ fi al-ummah, dll.
Sewaktu saya masuk ke wilayah Sumailah dan ikut shalat berjama’ah di Masjid Jami’ al-Khair, saya menemukan banyak kitab karya Sayyid Quthub dan Ibnu Taimiyah di perpustakaan mereka. Saya berpikir, ternyata ulama-ulama inilah yang banyak menginspirasi kalangan Islam garis keras. Perlukah kita waspada terhadap karya Sayyid Qutub, Imam Ibnu Taimiyah?   
Wa allah a’lam.
13 pebruari 2012.

Tidak ada komentar: