Gallery

Jumat, 15 Desember 2017

Terapi Rumi

Terapi Rumi dalam al- Masnawi Mari kembalilah dari semak berduri, Datanglah ke taman bunga mawar, (Jalaluddin Rumi) Suara Rumi terbersit dalam puisinya perlu didengar manusia di seluruh dunia, Di Timur maupun Barat. Terlebih pada masa modern ini ( komentar R.A Nicholson). Abad ke 21 adalah abad kearifan. Siapa yang tidak memiiliki kebijaksanaan, maka hidupnya akan sia- sia. Ibarat menyelam dalam kedalaman lautan, kita harus memiliki peralatan menyelam. Agar kita selamat dan menemukan harta karun kearifan di "samudera". Jika Anda bertanya, bagaimana saya bisa hidup bahagia dan sukses? Saya mengatakan, lihat dengan mata anda apa yang ditawarkan oleh Maulana Rumi. Suatu hari, Abu Jahal melihat Rasulullah shalla Allah alaih wa sallama, lalu berkata: Dengan melihatmu Muhammad, saya semakin yakin betapa buruknya keturunan Bani Hasyim. Nabi menimpali, sesungguhnya engkau telah melampaui batas, tapi apa yang kamu katakan adalah benar. Tak lama kemudian, datanglah Abu Bakar, dan ketika melihat Rasulullah, ia berkata: anta syamsum, ya rasulallah, engkau laksana matahari, wahai rasulallah. Sinarmu kuat menyinari bumi. Nabi menjawab, engkau benar wahai Abu Bakar. Para sahabat menyaksikan dua peristiwa tersebut. Nabi kemudian menjelaskan, aku adalah sebuah cermin. Siapa yang melihatku sesungguhnya ia sedang melihat dirinya sendiri. Rumi berkata: kamu tahu mengapa cermin tidak memantulkan cahaya bayanganmu? Itu karena karat di wajahmu belum dibersihkan. Bersihkanlah "kolam hati", maka badan akan bersih dengan sendirinya, penuhilah kolam itu dengan kebaikan. Hilanglah keburukan dengan sendirinya. Kunci selamat dari keburukan adalah bertahan dengan kebaikan. Bertarung melawan keburukan sama halnya dengan berjuang menghilangkan kotoran. Membersihkan kotoran lebih mudah karena akan hilang dengan sendirinya, (h. 145). Hal yang menarik buku Prof Nevzat Tarhan dibumbui dengan kisah- kisah hikmah. Seperti kisah si Badui dan sang filsuf. Seorang Badui meletakkan dua karung berat di atas punggung untanya. Ia kemudian duduk di antara dua karung tsb. Tak lama kemudian datanglah seseorang yang mengajaknya berbincang dan bertanya dari mana asalnya dan hendak ke mana? Apa isi kedua karung ini, tanya si filsuf? Badui menjawab, karung yang satu berisi gandum dan yang lainnya berisi pasir, tidak ada makanan. Mengapa kamu mengangkut sekarung pasir, tanya filsuf. Agar untaku terjaga keseimbangannnya, jawab si Badui. Filsuf: jika kamu menggunakan akalmu, kamu bisa saja meletakkan setengah gandum ini pada karung ini dan setengah sisanya pada karung yang lain. Dengan demikian, kedua karung ini menjadi lebih ringan. Sehingga untamu tidak kelelahan, terang si filsuf. Si Badui setuju dengan saran bijak sang filsuf. Dia pun bertanya, hai orang cerdas, mengapa orang pintar sepertimu berjalan kaki di tengah gurun seperti ini? Tidakkah kamu merasa lelah? Makanya, jangan teori melulu!!!...... Demikian cuplikan hikmah dari buku Prof Nevzat Tarhan yang berjudul: Terapi Mesnawi.

Kamis, 14 Desember 2017

Mencetak Guru Hebat

"Hanya orang- orang terbaiklah yang terpilih menjadi guru. Baru memilih profesi lainnya. Persoalan utama guru madrasah adalah upaya yang sungguh- sungguh dalam mencetak Guru Profesional. Pertanyaan yang harus dijawab adalah " How To Be An Amazing Teacher? Bagaimana mencetak Guru yang hebat. Terdapat beberapa syarat untuk melahirkan guru hebat, sebagai berikut: 1. Passion. Semangat dan gairah. Antusiasme. Passion sangat menentukan karier seorang guru. Guru yang memiliki passion akan melahirkan peserta didik yang bersemangat. Guru yang berdedikasi yang tinggi akan melahirkan kinerja yang baik. Proses pembelajaran berkualitas. 2. Kompetensi dan kualifikasi Expertise. Seorang guru harus memiliki bidang keahlian. Mereka harus menjadi guru profesional. Hal yang terkait dengan kompetensi adalah kualifikasi pendidikan seorang guru. Guru- guru yang belum berkualifikasi sarjana harus menempuh pendidikan sarjana. Kesarjanaan seorang guru akan berbanding lurus dengan penguasaan materi pembelajaran yang akan berujung pada kualitas proses pembelajaran dalam kelas. Guru yang menyandang gelar sarjana, sejatinya memiliki kemampuan berpikir logik dan sistematis. Dengan cara berpokir logik inilah yang akan membawa peserta didik menjadi berkualiats tinggi. 3. Komunikatif Salah satu tugas utama guru adalah mentransfer ilmu. Pola komunikasi seorang guru juga sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Seorang guru lohai dan pandai melempar jok dan humor pada saat yang tepat. Sehingga para peserta didiknya tidak bosan menerima materi pelajaran. Pola komunikasi sangat penting dijuasai oleh seorang guru. Selanjutnya, guru juga berkewajiban untuk mentransfer nilai- nilai luhur kepada murid- muridnya. Tugas mulia guru sudah barang tentu harus dibarengi dengan kepiawaian komunikasi. Mentransfer nilai- nilai luhur atau apa pun namanya bukanlah perkara mudah. Seorang guru dituntut keahlian khusus untuk tugas yang satu ini. Dan tentu, guru tersebut harus memiliki keteladanan dan integritas. Sekali lagi, selera humor juga menentukan dalam tugas yang satu ini. Agar peserta didik tertarik untuk mencerap ide pokok sang pendidik. Biasanya untuk mengubah suatu komunitas, membaca novel juga penting. Sebab, dalam novel itu karatkter manusia dan liku- liku kehidupan. Pernik- pernik kehidupan manusia biasanya termaktub dalam novel. Penanaman karakter sebagai knowledge biasanya lebih muda melalui novel. Sebab, karya atau buku- buku novel mampu menggiring pembacanya untuk mengetahui karakter tokoh- tokoh yang diceritakan dalam novel itu. Karya komik bagi anak- anak sekolah dasar juga merupakan salah satu cara yang ampuh untuk penanaman karakter baik. Ada beberapa penelitian yang telah membuktikan bahwa untuk mengubah karakter sebuah bangsa dimulai dari penulisan komik- komik yang secara massif didistribusikan kepada peserta didiknya. Mulai pada kelas play group sampai siswa sekolah dasar dan menengah pertama. Dalam komiklah depan plot ceritanya bisa memengaruhi si pembaca komik. Komik itu mudah, ringkas dan menyenagkan. Sekarang kita bisa lihat karya- karya komik dari Jepang dan Korea Selatan. Menurut Chambert Loir dalam buku Sadur Terjemahan Karya Sastra Melayu di Indonesia dan Malaysia bahwa penerjemahan karya novel dan komik Jepang menempati posisi kedua setelah bahasa Inggeris. Penerjemahan karya- karya berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia menempati peringkat ketiga. Bangsa Jepang dan Korea Selatan adalah dua bangsa maju dalam bidang ekonomi dan teknologi. Mereka mampu memengaruhi masyarakatnya menuju bangsa yang maju. Dan sekarang kedua negara ini meluaskan pengaruhnya kepada bangsa- bangsa lain termasuk kawasan ASEAN, salah satunya Indonesia. Hampir semua toko buku seperti Gramedia, semuanya mejajakan buku- buku komik Jepang dan Korea Selatan. Secara pelan- pelan, kedua bangsa ini mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang unggul. 4. Empati Seorang guru hebat harus berempati kepada murid- muridnya. Dia harus mengerti kesulitan atau masalah dan tantangan yang sedang dihadapi murid- muridnya. Masalah keluarga, kesulitan dalam belajar dan masalah- masalah keseharian lainnya haruslah dimengerti oleh seorang guru. Sekarang ini tantangan sebagai seorang guru profesional tidaklah muda. 5. Memberdayakan Guru juga bertugas untuk memberdayakan potensi peserta didiknya. Mereka harus mengerti talenta dan bakat murid- muridnya. Pertanyaan yang harus segera dijawab adalah what do students really want from their teacher? Guru bijak harus mampu dan mau mendengar suara positif dan negatif murid- muridnya. Guru harus terlebih dahulu membangun relasi yang baik dengan para peserta didiknya. Guru ibarat kapten dan nakhoda kapal. Dalam berlayar kapal terkadang oleng oleh ombak. Di situlah fungsi sang nakhoda. Nakhoda harus dengan tepat mengambil keputusan pada situasi sulit. Sang nakhoda juga harus tepat menentukan arah agar kapal tidak tersesat di samudera. Sang nakhoda harus menguasai ilmu tentang cuaca dan bahaya dalam melaut.

Selasa, 12 Desember 2017

Positioning PTKI

Pendidikan Tinggi: Ikhitiar Mencetak Sarjana Muslim, Tangkas, Unggul dan Religius Oleh: Dr Muhammad Zain Era Disrupsi We have entered in revolutionary times, kata Bill Gates. Kita sedang memasuki era revolusi informasi. Revolusi informasi ditandai dengan akselerasi teknologi IT. Kita sedang mengalami era disrupsi. No ordinary disruption, zaman Now telah terjadi kekacauan yang tidak biasa. Demikian hasil riset Richard Dobbs, James Manyika, and Jonathan Woetzel dalam buku teranyarnya itu. Ada empat perubahan yang sedang terjadi dan memengaruhi dunia global. a. Akselerasi teknologi informasi. Terdapat 2/3 warga dunia yang memiliki android, hand phone dan mereka semua terkonek dengan internet. Tinggal 1/3 warga dunia yang tidak memiliki hand phone. Sekarang semua sudah on line system. Pengusaha Taxi konvensional, collaps dan bangkrut. Mereka kalah cepat dengan Uber car. Grab, Gojek, yang tidak perlu kantor luas. Tidak perlu memiliki motor dan mobil. Mereka hanya menyiapkan on line system. Tidak ada yang salah dari Nokia. Nokia hanya kalah cepat merespon kebutuhan pasar. Sehingga Nokia, hampir gulung tikar, dan disalib oleh Samsung. Blackberry sudah tidak kedengaran lagi. Sarjana dan mahasiswa era sekarang, berbeda dengan 20 tahun yang lalu. Mahasiswa dan sarjana era sekarang, sejatinya multitasking. Mereka bisa mengerjakan dua atau tiga pekerjaan dalam satu waktu. b. Aging population ( Populasi yang Menua). Di China dan Jepang, seorang dewasa harus merawat enam orang tua. Kedua orang tuanya. Dua mertuanya. Dan dua orang kakek buyutnya yang masih hidup. Sehingga mereka kewalahan dalam merawat manula. Apa yang terjadi? Mereka merawat orang tua tersebut dengan bantuan robot. Robot lebih praktis merawat para manula daripada seorang pembantu atau perawat. c. Urban society. Terdapat 440 kota di dunia ini yang menentukan mobilitas tenaga- tenaga profesional dan lajunya perekonomian dunia. Tianjin, China, Tokyo, Jepang, dst. Sejatinya pendidikan yang modern tidak hanya menyasar masyarakat pedesaan, tetapi juga masyarakat kota. Sehingga, keterampilan adalah suatu kemestian. Apalagi dengan iklan Google, rekasasa IT yang mencari karyawan tanpa ijazah. Ini sesuatu yang mengejutkan dunia pendidikan yang selama ini mementingkan ijazah. Ijazah adalah azimat yang merupakan syarat utama dan pertama para pencari kerja. Job seeker sebelum mereka diterima pada suatu instansi atau perusahaan harus terlebih dahulu menunjukkan ijazah yang telah diraihnya. Google tidak memetingkan ijazah. Google memerlukan skill yang dimiliki oleh calon karyawan. Apakah ini merupakan lonceng kematian perguruan tinggi? KKN harus juga menyasar warga kota. Tidak hanya berorientasi ke desa. Sehingga mereka harus memiliki global dexterity, dan plan of prosperity. Ketangkasan global dan kemampuan untuk merencanakan kesejahteraan hidupnya di masa depan. d. Capital, people, investmen. Dengan melihat sejumlah perubahan revolusioner di atas, perguruan tinggi harus menerapkan strategi baru dalam merespon tuntutan zaman. Menteri Pendidikan tinggi dan sains Malaysia telah menerapkan kebijakan 2 U and 2 i. Two years in university, and two years in industry. Mahasiswa dua tahun menerima teori di bangku kuliah, dan dua tahun langsung terjun di dunia industri atau masyarakat. Robert W. McChesney and John Nichols dalam bukunya: People Get Ready the Fight Against a jobless economy and a citizenless democracy, 2016. Bahwa The future is now. Masa depan itu dirancang dan ditentukan sekarang. Masa depan itu ya sekarang. Tidak ada yang bisa menentukan takdir, tetapi kita bisa menemukannya dengan cara berlari kencang. Era Kompetisi Dalam dunia bisnis, persaingan adalah sebuah kemestian. Kalau tidak mampu bersaing, maka sebuah perusahaan akan ditinggal pelanggannya. Sebentar lagi perusahaan tersebut akan collaps. Dalam persaingan yang terpenting adalah berusaha untuk membentuk kompetitif, untuk mengendalikan nasib kita sendiri. Memasuki abad ke 21, kita dihadapkan pada kebutuhan yang mendesak akan pentingnya memiliki strategi dan visi yang jelas mengenai cara menampilkan diri yang unik dan berbeda dengan yang lain. Kalau tidak, kita akan ditelan hidup-hidup oleh persaingan yang semakin sengit. Keunikan dan diferensiasi sangat penting dalam sebuah persaingan. Bahkan sangat boleh jadi persaingan itu dimaknai sebagai pertarungan dalam pengertian yang positif. Untuk itulah dibutuhkan strategi yang jitu. Visi kita adalah untuk mewujudkan pendidikan Islam yang unggul, moderat dan menjadi referensi pendidikan Islam dunia. Kita harus fight untuk mewujudkan competitiveness pendidikan Islam. Daya saing pendidikan Islam sedang dilirik, baik secara nasional maupun internasional. Orientasi program dan kegiatan kita harus mengarah pada visi dan misi tersebut. Untuk Mewujudkan pendidikan Islam menjadi rujukan Islam dunia, maka Karakteristik dan distingsi pendidikan Islam harus dikedepankan. Posisi Perguruan Tinggi di Era Akselerasi Era revolusi IT adalah era akselerasi. Semua serba sibuk dan berlangsung serba cepat. Siapa yang lambat akan terlindas oleh zaman. Ibarat naik kereta super cepat, telat satu menit akan tertinggal, dan berdampak beberapa jam kemudian. Kita harus berlari kencang. Seperti seekor kijang yang hendak diterkam harimau. Pilihannya hanya dua: Berlari kencang dan selamat. Atau lambat, dan mati diterkam harimau. Sekarang serba cepat. Semua orang mengalami busy, super sibuk. Itulah ciri Digital population; Populasi digital. Bahwa fasilitas dan sarana digital sebagai sarana yang terbaik. Sebab, dengan buku digital, lebih murah, dan lebih cepat. Teknologi adalah alat untuk kemashlahatan. Teknologi harus familiar dengan kita semua. Seperti seirang bapak kalau tertinggal dompetnya pasti tidak balik. Kalau hpnya yang tertinggal, pasti balik. Kita harus mendrive teknologi untuk menjadi mashlahat, bukan mudharat. Hati-hati dengan mazhab google, karena banyak alirannya. Banyak pandanggan ulama ada di google. Saudara-saudara belajar agama harus dari sumber yang jelas. Saya berharap, dengan wisuda kali ini bisa berguna untuk bangsa dan agama. Saudara ibarat etalasi dan akan lahir lagi etalasi berikutnya. Dengan segala keterbatasan, kita terus berkembang. Dengan keterbatasan, bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk bangsa. Selanjutnya, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran kita untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi kita. 1. Rendahnya Literasi Indonesia sudah 72 tahun merdeka. Tetapi menurut data masih terdapat sekitar 5,9 juta warganya yang buta huruf. Jawa Timur memiliki angka tertinggi buta aksaranya, sekitar 1.458.184. Meskipun mereka ini melek terhadap aksara arab gundul. Secara internasional, UNESCO melancarkan gerakan Reading the Past, Writing the Future. Agar warga dunia terbebas dari buta huruf ini. Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia, kata Nelson Mandela. Kita harus melakukan terobosan untuk menghapus buta aksara ini. Dan patut dicatat, buta aksara melanda hampir semua negara- negara berkembang dan masyarakat muslim. Buta aksara atau literasi masih menjadi masalah yang masif melanda dunia muslim. Rata- rata wilayah yang lebih dikenal sebagai "Bulan Sabit" masih mengalami problem rendahnya literasi. Rendahnya literasi keagamaan menjadi problem lanjutannya. Bahwa umat kita pada grassroot, akar rumput memiliki pemahaman keagamaan yang belum memadai. Memahami ajaran dan ujaran keagamaan secara "hitam-putih" masih tinggi. Cara pandang agama semacam ini sangat berbahaya masih keberlangsungan demokrasi dan Islam rahmatan li al- 'alamin. Kampus harus bergegas merespon perkembangan zaman dan berikhtiar untuk mencetak intelektual publik. Sarjana muslim harus tampil pada garda terdepan dalam menyuarakan Islam moderat, santun, dan menyebarkan kedamaian. Sarjana kita harus terus mengedukasi masyarakat dalam arti sesungguhnya. Bahwa peran- peran profetik semacam harus menjadi bagian yang inheren dalam tugas dan tanggung jawab kita sebagai sarjana muslim. 2. Pendidikan Karakter Dewasa ini kita menyadari betapa pentingnya memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum. Setidaknya ada tiga landasan pendidikan karakter ( character-building education). yakni: (a)memasukkan nilai-nilai humanisme, seperti saling menghargai dan menghormati antar sesama. Jepang barangkali bisa menjadi contoh dalam pendidikan karakter yang dimulai sejak pendidikan usia dini. Halmana tradisi dan nilai- nilai luhur mereka tidak tergerus oleh modernitas. Integritas, kejujuran, tanggung jawab, menghormati yang lebih senior, sportifitas, nilai malu terintegrasi dalam kurikulum pendidikan mereka. b) mengembangkan karakter keilmuan, yakni dengan menciptakan curiosity, rasa ingin tahu yang tinggi ( search of inquiry), sehingga ilmu, kreatifitas dan inovasi dapat berkembang; dan (c) menanamkan kecintaan dan kebanggaan kepada Indonesia. Pancasila, UUD 1945, Persatuan Indonesia, NKRI adalah pilar- pilar kebangsaan kita dan sudah final. Current Issues Pendidikan Tinggi Barangkali untuk pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia, realitas berikut dapat menjadi bahan pemikiran. (1) Tantangan pendidikan di era MEA. New Think Asean, kata Philip Kotler. Asean sulit diprediksi. Ada banyak pemain baru dalam seluruh sektor, ekonomi, politik, pendidikan dan budaya. Asean sekarang sudah sangat berbeda dengan 20 tahun yang lalu. MEA adalah peluang pasar bagi Indonesia. Tantangan kita, (a). Masalah bahasa. (b). Mobilitas mahasiswa, dosen dan peneliti. Kedua tantangan ini bisa dilakukan international summer program, lecturer/ researcher exchange program, joint research, joint seminar, dst. (2) Menyehatkan PTN- PTS Ada sepuluh PT terbaik Amerika. Semuanya PTS dan didanai oleh donatur kaya. Universitas Harvard memiliki dana abadi sebanyak Rp. 473,2 triliun. Donatur dari filantropis kaya semacam Rockefeller, John F Kennedy, dan Melinda Gates banyak investasi untuk pendidikan dan kesehatan. Di Indonesia kita sulit mendapatkan orang kaya seperti itu. PTS kita secara nasional banyak yang sakit- sakitan. Dari 3.078 PTS, baru 111 (3,6%) mengajukan akreditasi institusi. Itupun baru 4,5% yang mampu terakreditasi B, dan selebihnya C. Masih ribuan yang belu mengajukan akreditasi. Mengerikan. Sementara ada 70% mahasiswa Indonesia kuliah di PTS. Ditambah lagi, dengan 1/3 PTS yang masih luhur dan bersikukuh dalam menjalankan misi PT. Selebihnya, PTS dijadikan sebagai pundi- pundi income oleh pendirinya. Ada juga untuk kepentingan bisnis, kepentingan pribadi sebagai sumber dana kampanye, dst. PTS sulit mendapatkan izin prodi yang laris- manis seperti Prodi Ilmu Kedokteran dan semua turunannya. Dosen PTS juga hanya sedikit yang bisa berfungsi sebagai dosen. Padahal untuk melaksanakan tridharma, PT sangat membutuhkan dosen yang bermutu, laboratorium, perpustakaan yang lengkap, proses belajar mengajar yang maju. Sehingga kita bisa melahirkan lulusan yang terampil dan berdaya saing. (3) Pengembangan bidang ilmu. Data Forlap Kemenristek Dikti (2016), jumlah prodi sebanyak 23.747. Sains dan teknik yang mencakup MIPA, teknik, kedokteran, kesehatan, dan pertanian. Selebihnya ilmu- ilmu sosial dan humaniora, seperti ekonomi, politik, hukum, sosiologi, antropologi, sejarah, filsafat, dan agama. Jumlah prodi sains- keteknikan lebih sedikit dibanding ilmu sosial dan humaniora. Sains keteknikan sebanyak 10.135 prodi sekitar 43%. Dan ilmu sosial dan humaniora sebanyak 57% ( 13.611). Dari jumlah mahasiswa sebanyak 5. 228.562, yang menekuni sains keteknikan hanya 1.593.882(30,5 persen). Dan mereka yang menekuni bidang ilmu sosial dan humaniora sebanyak 3. 634.679(69,5 %).Sehingga terjadilah ketimpangan. Terjadilah inflasi sarjana ilmu-ilmu sosial humaniora. Lebih banyak " pengamat" daripada ahli. Defisit sarjana teknik tak terhindarkan. Indonesia kekurangan insinyur. Diperkirakan tahun 2015-2025, kita kekurangan insinyur sekitar 15 ribu pertahun. Pada tahun 2020-2025 kita membutuhkan insinyur sebanyak 90.500 pertahun. What Next? Kita harus menjawab tantangan- tantangan pengembangan pendidikan tinggi tersebut. Kita harus terus berinovasi untuk menciptakan peluang- peluang baru. Penguatan akreditasi prodi dan institusi harus menjadi konsern pimpinan perguruan tinggi. Peningkatan kualitas dosen adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Publikasi ilmiyah harus terus digenjot agar kita mendapatkan recognition, pengakuan baik nasional, regional ASEAN maupun internasional. Pemenuhan infrastruktur kampus harus terus dibenahi agar civitas akademik bisa betah mengembangkan ilmu dan proses pembelajaran di kampus. Kampus yang ikonik harus kita bangun yang akan menjadi kebanggaan Kemenag dan bangsa kita. PTKI harus berdiri pada garis terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam. Pimpinan PTKI harus tegas menolak bentuk- bentuk gerakan dan kegiatan radikalisme agama yang berujung pada pelemahan pilar- pilar bangsa. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Nasehat Wisudawan 1. Isteri yang menyandang gelar sarjana lebih banyak positif thinking, bukan negatif thinking. Kalau isteri tidak sarjana, begitu suaminya keluar doanya berbeda. Ya Allah, Hindarkanlah suamiku dari godaan para janda. 2. Di sini sarjananya juga tidak berwajah takfiri. Sedikit-sedikit mengkafirkn orang lain. Sedikit sedikit membid'ahkan orang yang berbeda. Kita mencetak sarjana Islam wasathiyah. Islam moderat. 3. Jadilah harimau. Sebab harimau meskipun diam, tetap saja harimau. Ditakuti dan disegani. Jangan seperti anjing yang suka menggonggong tetapi tetap saja tidak didengar. 4.Jadilah sarjana Muslim Indonesia. Kita lahir dan besar di tanah air Indonesia. Jadilah penyebar kedamaian dan merawat NKRI. 5. Saat hidup menjatuhkanmu, kamu harus memilih, bangkit atau tetap tergeletak. Diam.

Rabu, 08 November 2017

Tantangan dan Peluang Ekonomi Syariah di Indonesia

Di antara problem utama umat Islam adalah penguasaan dan kepemilikan harta. Hampir semua sudut bumi yang dihuni umat Islam pastilah tidak hidup makmur. Meskipun mereka memiliki sumber daya alam yang kaya. Menurut Prof Hasan Langgulung, Allah Swt telah menyiapkan seluruh kebutuhan umat Islam di mana bumi yang mereka huni. Sebutlah Indonesia, umat Islamnya banyak yang masih hidup dalam kemiskinan. Solusi ekonomi syariah, dan perbankan syariah serta sejumlah bisnis syariah lainnya belum juga memberikan janji kemakmuran secara menyeluruh dan sistematis. Apalagi, Ekonomi Syari'ah mengalami "gangguan" dengan adanya gerakan Islam garis keras, seperti ISIS. Sesuatu yang " berbau" syariah dicurigai sebagai agenda Islamic radicalism. Gangguan semacam ini, merupakan salah satu faktor penghambat ekonomi berbasis syariah, demikian Pandangan Ali Allawi dalam buku terbarunya: The Crisis of Islamic Civilization. Apakah fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Bahwa 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami conservative turn. Yakni ada upaya pembalikan wajah Islam Indonesia yang toleran, damai, santun menjadi intoleran dan keras. Mudah- mudahan dengan The4th Indonesia Syaria Economic Festival, justeru Indonesia mengalami sebaliknya. Ekonomi Syariah semakin maju dan diminati umat. Apa yang salah? Apakah pendidikan Islam yang belum mengajarkan kurikulum " kemakmuran"? Dalam artian, mereka belajar hanya sekedar mengerti dan memahami kitab suci. Ilmu pengetahuan keagamaan yang dimilikinya belum mengarahkan peserta didik untuk sampai menghasilkan " kemakmuran". Ataukah karena teologi jabariyah demikian menguat bagi masyarakat Islam Indonesia. Sehingga, mentalitas masyarakat agraris masih demikian kuat bercokol dalam "alam bawah sadar" kita? 1. Tantangan a. Prof Ali Allawi, dalam the Crisis of Islamic Civilization menulis bahwa tantangan kita sekarang ini adalah pemilikan umat Islam terhadap wealth, kekayaan. Masalah kita adalah kesajahteraan yang rendah. Rata-rata umat Islam, atau negara yang mendeklarasikan diri sebagai negara Islam itu miskin. Why? Negara-negara muslim dari Maroko sampai ke Merauke memiliki beberapa ciri utama. (a) Terbelakang, (b) tidak terpelajar. (c) Rendah demokrasi. Dan (d) minim penghormatan kepada perempuan. Dalam penelitian terakhir 19 megacities yang tidak toleran kepada perempuan, kota Kairo, Pakistan, Afghanistan, dan India masuk dalam kategori kota yang sering terjadi pelecehan seksual kepada kaum perempuan. Justeru London, Inggeris dan Kanada sebagai kota yang ramah perempuan. Sementara negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, masyarakatnya terpelajar, civilized. Sejahtera, tidak banyak pengangguran. Dan sehat. Panjang umur. Menghormati hak-hak perempuan. Demokratis. Padahal, kita kaya akan value dan nilai-nilai luhur. Tetapi kita tidak memasukkan value tersebut kedalam sebuah sistem kehidupan. Itulah kritik Prof Jasser Auda dalam buku terbarunya, Maqashid al Syariah as Philosophy of Islamic Law. A system approach. Tantangan kita adalah membangun sistem kehidupan dan ekonomi yang kuat. b. Apakah kita sepakat memakai nomenklatur Islamic Finace atau Islamic Economy. Ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Sebab, sekarang ini sedang menyeruak Islamic radicalisme. Islam radikal cukup mengganggu. Ini tantangan ke depannya. Saya punya cerita. Di Sydney Air port, terdapat toko buku. Ada banyak koleksi buku yang dijual. Begitu bertanya tentang buku-buku agama, mereka kebingungan. Dan heran. Religion? Barangkali mereka tidak terlalu butuh tentang topik ini. Agama formal sudah ditinggalkan karena tidak mencerahkan. Tidak mendamaikan. Beragama malah tambah sulit, tidak toleran. Tidak humanis. Barangkali mereka berpikir, "Tuhan terlalu jauh untuk digapai". Sekarang ini, di dunia nyata, kita menghadapi kehidupan demikian dinamis. Barangkali di barat masih berkembang para pemikir bebas. Barangkali mereka menggugat agama-agama formal yang menjadi biang pertengkaran kemanusiaan. kalau agama benar, dan Tuhan ada mengapa masih terjadi bencana. Mengapa masih terjadi ketidakadilan sosial. Mengapa masih banyak masyarakat miskin. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, agama harus hadir menyapa masyarakat yang rasional dan empiris ini. 2. Isu-isu krusial ekonomi Syariah atau Perbankan syariah, antara lain a. Dari sisi market share, pangsa pasar masih sangat kecil, masih 4,9 persen per mei 2015 dibanding bank-bank konvensional. Bank-bank Syariah baru mengelola dana sekitar 240 T dari 2.000 T. Konon, nasabah bank konvensional yang tertarik kepada bank-bank syariah hanya menyentuh angka 14%. Sangat sedikit dibanding jumlah populasi umat Islam yang melimpah di Indonesia. b. Persoalan Sumber Daya Manusia. Di mana SDM di Bank-bank syariah masih mayoritas masih dari latar belakang SDM bank-bank konvensional. c. Regulasi ekonomi syariah dan turunannya masih sangat sedikit, dan belum maksimalnya sinkronisasi kebijakan antar lembaga pemerintah. Yang sudah ada sekarang adalah Undang-Undang SBSN nomor 19 tahun 2008 dan UU nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. d. Masih kurangnya sosialisasi. Banyak orang yang belum mengetahui sistem ekonomi syariah, termasuk pegawai pegawainya. Mudharabah, takaful, musyarakah mutanaqishah MMQ, dst. 3. Peluang a. Indonesia adalah masyarakat muslim terbesar dunia, dan nomor tiga negara demokrasi terbesar di dunia. Tidak terlepas dari kontribusi PTKI dan pondok pesantren serta madrasah dalam menambah jumlah middle class muslim. Perlu kurikulum ekonomi syariah yang menjadi flatform bersama. Sehingga alumni kita bisa berkualitas dan diakui oleh pasar kerja. Kemenag sudah mengeluarkan 101 prodi ekonomi syariah, mualamat, perbankan syariah, dst. b. Kita ini umat Muslim terbesar di dunia. Tetapi market share per Mei 2015 baru menyentuh angka 4,9 persen, sekitar 240 T dari 2.000 T pangsa pasar, yang dikelola lembaga keuangan. Masih sangat jauh dari angka ideal. Apa yang harus kita kerjakan. Kita harus melakukan quantum leap. Lompatan yang jauh agar bisa mendicipi market share tadi. Barangkali dengan paket ekonomi jilid lima, ada angin segar terutama kebijakan deregulasi parbankan syariah. Bagaimana masyarakat bisa lebih mudah untuk mengakses bank-bank syariah. c. Prof Greg Feely (ed.), Expressing Islam, Religious Life and Politics in Indonesia. Pada akhir buku tersebut terdapat tiga artikel yang membahas tentang Islamic Economy, atau ekonomi syariah. Termasuk laporan mengenai perkembangan Baitul Mal wa tamwil di Pondok- pondok Pesantren di Jawa Timur. Sebab, Bank-bakn konvensional lebih tertarik mengurus kelompok jelita. Sedang Bank-Bank syariah, apalagi BMT pastilah mengurus rakyat Jelata. Padahal, tugas kita adalah mensejahterakan yang jelita dan yang jelata. 4. Karl Kruszelnicki, House of Karls, 2014. Ada bab yang membahas Bank Robbery, perampokan bank. Dan pembahasan Greed is not good. Tamak itu tidak baik. Secara moral, filosof Yunani, Plato dan Aristoteles sudah menegaskan keburukan sifat tamak itu. Kritik yang lebih komprehensif dan solutif adalah pandanga Prof Muhammad Yunus dalam buku teranyarnya: A World of Three Zeros, the new economics of Zero Poverty, Zero Unemployment, Zero net carbon emissions, 2017. Muhammad Yunus melihat mesin ekonomi kapitalis sudah pecah dan ambruk. Ditandai dengan merajalelanya ketidakadilan ekonomi, masifnya angka pengangguran, dan destruksi lingkungan hidup. We need a new economic system that unleashes as a creative force just as powerful as self- interest. Pada bab pertama bukunya, Yunus langsung menohok The Failures of Capitalism. Kegagalan- kegagalan kapitalisme. Saya pernah mengikuti acara pada salah satu TV Nasional yang bertopik Membangun Peradaban Ekonomi Syari'ah ( tanggal 4 Agustus 2017). Ada beberapa tokoh nasional yang mengajukan pandangan dan pikirannya. Tokoh- tokoh nasional dimaksud, antara lain Dr Muhammad Syafii Antonio, Prof Komaruddin Hidayat, Prof Mudjia Rahardjo. Saya sarikan perbincangan menarik tersebut sebagai berikut: 1. Tantangan kita, bagaimana membumikan gagasan yang baik ini. Bagaimana Pemuda Islam memiliki mental entrepreneurship. Sebab, kita tidak pernah mengalami era industri. Kekayaan alam kita yang melimpah belum mendatangkan kekayaan bagi warganya. Pemdidikan kita kurang mengembangkan skill, dan mental entrepreneurship. Saya pesimis, mata kuliahnya masih happy pada normatif. Dan dosen pengajarnya, bukan praktisi ekonomi. Meskipun mereka memiliki gelar prof dan doktor, tetapi bukan praktisi. Tantangan kita berikutnya adalah masyarakat kita belum syariah. Ada Kyai bertanya, Bank Syariah itu bunganya berapa? Dulu masa Agricultural, siapa yang tanahnya luas, disegani. Sekarang eranya tidak lagi. Maka pemenangnya Bill Gates. Steve Jobs. Lompatannya sangat jauh. Ini era milenia....lompatannya sangat jauh. (Prof Komaruddin Hidayat). 2. Bagaimana mengajak praktisi ekonomi syariah ini untuk mengajar di kampus? 90 persen pegawai di Bank Syariah tidak berlatar belakang ekonomi syariah. Bagaimana kualitas pendidikan tinggi supaya bisa mengenal syariah Islam. Berapa tahun lagi agar mimpi ini bisa terwujud. Jawabannya, seberapa keras dan kuat kita bergerak. Perlu market delivery.Tourisme haji and umrah bisnis. Industri farmasi.Creative industry. Harus kuat dari segi tafsir, hadis, maqashid syariah. Agar anak anak kita berorientasi ke sana. Peraturan Menterinya dipermudah. Peran media harus terus menggaungkan untuk terus bergulir. Endingnya, Indonesia bisa menjadi rule model dunia ( Dr Muhammad Syafii Antonio). Beberapa tawaran solutif, sebagai berikut: 1. Mengajak dan memperbanyak para praktisi dan kalangan profesional untuk masuk kampus. Hal ini dipermudah dengan kebijakan Prof Muhammad Nasir untuk pemberian NIDK, Nomor Induk Dosen Khusus bagi kaum profesional dan praktisi yang memilih profedi dosen. 2. Merombak kurikulum Ekonomi Syari'ah dengan konsep 2 U and 2 I, two years in university, dan two years in industry. Kurikulum tersebut mengakomodasi kebijakan pendidikan dan ristek Malaysia. Bahwa untuk merespon Era revolusi Industri Generasi ke empat, Malaysia memberlakukan kebijakan pendidikan tinggi 2 U and 2 i di atas. Mahasiswa dua tahun duduk di bangku kuliah untuk menerima dan mempelajari teori- teori keilmuan. Dan dua tahun pula terjun di dunia industri untuk memperkuat teori- teori yang mereka pelajari sambil mereka menambah skill dan kecakapan hidup. 3. Kemenag harus mendorong riset- riset unggulan dan riset kolaborasi bidang ekonomi syariah dan segala derivasinya. Riset ekonomi syariah dan segala turunannya harus tercermin dalam ARKAN ( Agenda Riset Keagamaan Nasional). 4. Memperkuat Asosiasi dan atau Konsosrsium Keilmuan bidang Ekonomi Syari'ah yang selama ini sudah terbentuk. Demikian. Semoga sukses. Dan Indonesia makmur.

Senin, 06 November 2017

Redesain Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri Generasi ke-4

We have entered in revolutionary times, kata Bill Gates. Kita sedang memasuki era revolusi. Revolusi informasi. Akselerasi teknology IT. Kita mengalai era disrupsi. No ordinary disruption, telah terjadi kekacauan yang tidak biasa. Ada empat perubahan yang sedang terjadi dan memengaruhi dunia global. a. Akselerasi teknologi informasi. Terdapat 2/3 warga dunia yang memiliki android, Hp dan mereka semua terkonek dengan internet. Tinggal 1/3 warga dunia yang tidak memiliki Hp. Semua sekarang sudah on line system. Pengusaha Taxi konvensional, collaps dan bangkrut. Mereka kalah cepat dengan Uber car. Grab, Gojek, yang tidak perlu kantor luas. Tidak perlu memiliki motor dan mobil. Mereka hanya menyiapkan on line system. Tidak ada yang salah dari Nokia. Nokia hanya kalah cepat merespon kebutuhan pasar. Sehingga Nokia, hampir gulung tikar, dan disalib oleh Samsung. Blackberry sudah tidak kedengaran lagi. Sarjana dan mahasiswa era sekarang, berbeda dengan 20 tahun yang lalu. Mahasiswa dan sarjana era sekarang, sejatinya multitasking. Mereka bisa mengerjakan dua atau tiga pekerjaan dalam satu waktu. b. Aging population..... Di China dan Jepang, seorang dewasa harus merawat enam orang tua. Dua orang tuanya. Dua mertuanya. Dan dua orang kakek buyutnya yang masih hidup. Sehingga mereka kewalahan dalam merawat manula. Apa yang terjadi? Mereka merawat orang tua tersebut dengan bantuan robot. c. Urban society. Terdapat 440 kota di dunia ini yang menentukan mobilitas tenaga- tenaga profesional dan lajunya perekonomian dunia. Tianjin, China, Tokyo, Jepang, dst. Sejatinya pendidikan yang modern tidak hanya menyasar masyarakat pedesaan, tetapi juga masyarakat kota. Sehingga, keterampilan adalah suatu kemestian. Apalagi dengan iklan Google, rekasasa IT yang mencari karyawan tanpa ijazah. Ini sesuatu yang mengejutkan dunia pendidikan yang selama ini mementingkan ijazah. Ijazah adalah azimat yang merupakan syarat utama dan pertama para pencari kerja. Job seeker sebelum mereka diterima pada suatu instansi atau perusahaan harus terlebih dahulu menunjukkan ijazah yang telah diraihnya. Google tidak memetingkan ijazah. Google memerlukan skill yang dimiliki oleh calon karyawan. Apakah ini merupakan lonceng kematian perguruan tinggi? KKN harus juga menyasar warga kota. Tidak hanya berorientasi ke desa. Sehingga mereka harus memiliki global dexterity, dan plan of prosperity. Ketangkasan global dan kemampuan untuk merencanakan kesejahteraan hidupnya di masa depan. d. Capital, people, investmen. Dengan melihat sejumlah perubahan revolusioner di atas, perguruan tinggi harus menerapkan strategi baru dalam merespon tuntutan zaman. Menteri Pendidikan tinggi dan sains Malaysia telah menerapkan kebijakan 2 U and 2 i. Two years in university, and two years in industry. Dua tahun menerima teori di bangku kuliah, dan dua tahun langsung terjun di dunia industri atau masyarakat. Robert W. McChesney and John Nichols, People Get Ready the Fight Against a jobless economy and a citizenless democracy, 2016. The future is now. Here's how it works. I don't know. I'm not in charge. It is not think different or be what's next... Many of us are not even aware that the game we are watching isn't entertainment, isn't virtual reality. It is our lives. This book will speak about new technologies, about virtual reality, about digitsl destinies, about automation of everything, and about the moment, not far from now, when all the trends of the future that is now give way to what comes next.