Gallery

Rabu, 07 Maret 2018

Cerita Dua Umar

Umar ibn Khattab pada suatu malam berkeliling kota Madinah untuk mengetahui tingkat kejujuran warganya. Sekitar tengah malam, Umar mendengar suara sayup -sayup perdebatan antara seorang ibu dengan anak gadisnya. Inti pembicaraan mereka adalah ibu memengaruhi gadisnya untuk mencampur susunya dengan air agar besoknya ia bisa menjual susu dengan banyak liter. Tetapi anak gadisnya tidak terpengaruh dan tetap bersikukuh untuk tidak mencampur susu jualannya dengan air. Si anak gadis menolak sambil menjelaskan bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah Swt. Umar mendengar percakapan tersebut. Segera saja Umar ibn Khattab memerintahkan Aslam, ajudannya untuk memanggil ibu sang gadis. Saya mau menjadikan anak gadismu sebagai menantu. kata Umar. Bagaimana mungkin ya amiral mukminin. Kami tidak sekufu. Kami hanyalah rakyat jelata. Tidak, saya ingin puteraku Ashim menikah dengan seorang gadis yang bertakwa kepada Allah Swt, tegas Umar. mereka kelak akan melahirkan generasi yang shaleh. Demikianlah, Ashim memiliki putera yang sangat tersohor akan keadilan dan kejujurannya, yakni Umar ibn Abdul Aziz. Demikian pentingnya keturunan yang bertakwa. Gayung bersambut. Fathimah binti Abdul Malik ibn Marwan, isteri Khalifah Umar ibn Abdul Aziz, semenjak suaminya dilantik sebagai khalifah, ia mewakafkan hampir semua hartanya ke Batul Mal. Ia hanya menyisakan beberapa dirham untuk kebutuhan keseharian mereka. Hal ini dilakukannya karena mendengar nasehat suaminya, pilih mana? Harta atau cinta kita? Fathimah memilih untuk mendukung dan mensupport sang khalifah. Ternyata, ketika Ia menjadi permaisuri tidak menjadi lebih kaya, tetapi yang terjadi justeru sebaliknya. Inilah teladan kita. Kisah khalifah Umar ibn Abdul Aziz dan Fathimah isterinya tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Patut dicatat bahwa pada masa Umar ibn Abdul Aziz, karena kemakmuran rakyatnya, sehingga tidak ada orang yang mau menerima zakat, dan sedekah. Wa Allah a'lam.

Kamis, 22 Februari 2018

Memimpin: Berselancar di Atas Ombak

We have entered in revolutionary times, kata Bill Gates. Kita sedang memasuki era revolusi informasi. Revolusi informasi ditandai dengan akselerasi teknologi IT. Kita sedang mengalami era disrupsi. No ordinary disruption, sekarang telah terjadi kekacauan yang tidak biasa. Demikian hasil riset Richard Dobbs, James Manyika, dan Jonathan Woetzel dalam buku teranyarnya itu. Ada empat perubahan yang sedang terjadi dan memengaruhi dunia global. a. Akselerasi teknologi informasi. Terdapat 2/3 warga dunia yang memiliki android, hand phone dan mereka semua terkonek dengan internet. b. Aging population ( Populasi yang Menua). Di China dan Jepang, seorang dewasa harus merawat enam orang tua. Kedua orang tuanya. Dua mertuanya. Dan dua orang kakek buyutnya yang masih hidup. Sehingga mereka kewalahan dalam merawat manula. Apa yang terjadi? Mereka merawat orang tua tersebut dengan bantuan robot. Robot lebih praktis merawat para manula daripada seorang pembantu atau perawat. c. Urban society. Terdapat 440 kota di dunia ini yang menentukan mobilitas tenaga- tenaga profesional dan lajunya perekonomian dunia. Tianjin, China, Tokyo, Jepang, dst. d. Capital, people, investmen. Dalam kaitan ini, saya sangat senang membaca kiat dan taktik Robby Djohan, mantan Dirut Bank Mandiri. Beliau menulis buku inspiratif dengan judul: Leading in Crisis Praktik Kepemimpinan Dalam Mega Merger Bank Mandiri. Berikut kisah dan pelajaran yang dapat dipetik: 1. Krisis besar diperlukan pemimpin besar. Tepat sebulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, 19 september 1945, Soekarno dijadwalkan tampil berpidato di Monas (lapangan IKADA) dengan pengawalan sangat ketat oleh tentara Jepang. Rakyat marah karena Jepang belum hengkang dari Indonesia dan masih ingin penetrasi kekuasaan di sini. Soekarno membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin besar. Beliau tidak berpidato berapi- api membakar semangat rakyat sebagaimana biasanya. Soekarno kalem dan hanya berpidato tiga menit. Soekarno hanya bertanya: apakah rakyat masih memercayai pemimpin bangsa termasuk dirinya. Teriakan merdeka membahana di lapangan Ikada. Kalau kalian percaya, sekarang pulang ke rumah masing- masing dengan tenang dan damai. Serahkan urusan negara kepada para pemimpin bangsa. Andai saja Bung Karno berpidato berapi- api, maka barangkali Monas akan menjadi lautan darah. Inilah pemimpin besar. Makna kejadian ini adalah kita membutuhkan kepemimpinan yang berwibawa dan dipercaya rakyat. Trust adalah syarat utama seorang pemimpin. Sebatang lilin di tengah terowongan. 2. Kita ingat Syeikh Moh. Rasyid Makhthoum al Makhthoum, pemimpin Dubai. Ia mengubah Dubai yang gurun pasir menjadi pusat bisnis dunia yang mencengangkan. Dubai disulapnya menjadi "Hong Kong of the Middle East". Seorang leader bekerja dari segala keterbatasan, menembus dinding- dinding kesulitan dan memberikan sebatang lilin yang dinyalakan sumbunya di tengah - tengah terowongan tak bercahaya. Ia memberikan cahaya harapan, dan menuntun para pengikutnya menelusuri jalan- jalan baru yang beresiko gagal. Di tangannya terbentang sebuah peta, yang belum tentu betul denahnya. Tetapi, ia sadar betul ini adalah jalan terbaik untuk keluar dari kegelapan. Mereka percaya bahwa jalan baru pasti ditemukan, kendati mungkin saja mereka akan kesasar. Mereka beranggapan: kalau tak mau kesasar, mereka tidak akan pernah menemukan jalan baru itu, h. vi-vii. 3. Kita harus merumuskan perubahan, menggerakkannya, dan sekaligus menyelesaikannya. Membuat program unggulan, merumuskan strateginya, dan cepat mengeksekusinya. Management is organizational big ideas, like strategis, finances, and organize changes. Perhatikan olah raga arung jeram, white water rafting. Ketika rakit terseret arus, kita justeru harus mengayuh kuat- kuat. Kecepatan rakit harus disamakan dengan kecepatan arus, agar rakit bisa dikendalikan. Kalau kita tertegun dan diam, maka rakit akan semakin tak terkendali dan terseret arus. Begitulah ibaratnya memimpin dalam krisis. Untuk membangun Dream Team, maka diperlukan kerja keras, ketulusan, dan pengorbanan. Pegawai biasa akan membicarakan orang lain Pegawai luar biasa akan menawarkan ide dan gagasan.

Jumat, 15 Desember 2017

Terapi Rumi

Terapi Rumi dalam al- Masnawi Mari kembalilah dari semak berduri, Datanglah ke taman bunga mawar, (Jalaluddin Rumi) Suara Rumi terbersit dalam puisinya perlu didengar manusia di seluruh dunia, Di Timur maupun Barat. Terlebih pada masa modern ini ( komentar R.A Nicholson). Abad ke 21 adalah abad kearifan. Siapa yang tidak memiiliki kebijaksanaan, maka hidupnya akan sia- sia. Ibarat menyelam dalam kedalaman lautan, kita harus memiliki peralatan menyelam. Agar kita selamat dan menemukan harta karun kearifan di "samudera". Jika Anda bertanya, bagaimana saya bisa hidup bahagia dan sukses? Saya mengatakan, lihat dengan mata anda apa yang ditawarkan oleh Maulana Rumi. Suatu hari, Abu Jahal melihat Rasulullah shalla Allah alaih wa sallama, lalu berkata: Dengan melihatmu Muhammad, saya semakin yakin betapa buruknya keturunan Bani Hasyim. Nabi menimpali, sesungguhnya engkau telah melampaui batas, tapi apa yang kamu katakan adalah benar. Tak lama kemudian, datanglah Abu Bakar, dan ketika melihat Rasulullah, ia berkata: anta syamsum, ya rasulallah, engkau laksana matahari, wahai rasulallah. Sinarmu kuat menyinari bumi. Nabi menjawab, engkau benar wahai Abu Bakar. Para sahabat menyaksikan dua peristiwa tersebut. Nabi kemudian menjelaskan, aku adalah sebuah cermin. Siapa yang melihatku sesungguhnya ia sedang melihat dirinya sendiri. Rumi berkata: kamu tahu mengapa cermin tidak memantulkan cahaya bayanganmu? Itu karena karat di wajahmu belum dibersihkan. Bersihkanlah "kolam hati", maka badan akan bersih dengan sendirinya, penuhilah kolam itu dengan kebaikan. Hilanglah keburukan dengan sendirinya. Kunci selamat dari keburukan adalah bertahan dengan kebaikan. Bertarung melawan keburukan sama halnya dengan berjuang menghilangkan kotoran. Membersihkan kotoran lebih mudah karena akan hilang dengan sendirinya, (h. 145). Hal yang menarik buku Prof Nevzat Tarhan dibumbui dengan kisah- kisah hikmah. Seperti kisah si Badui dan sang filsuf. Seorang Badui meletakkan dua karung berat di atas punggung untanya. Ia kemudian duduk di antara dua karung tsb. Tak lama kemudian datanglah seseorang yang mengajaknya berbincang dan bertanya dari mana asalnya dan hendak ke mana? Apa isi kedua karung ini, tanya si filsuf? Badui menjawab, karung yang satu berisi gandum dan yang lainnya berisi pasir, tidak ada makanan. Mengapa kamu mengangkut sekarung pasir, tanya filsuf. Agar untaku terjaga keseimbangannnya, jawab si Badui. Filsuf: jika kamu menggunakan akalmu, kamu bisa saja meletakkan setengah gandum ini pada karung ini dan setengah sisanya pada karung yang lain. Dengan demikian, kedua karung ini menjadi lebih ringan. Sehingga untamu tidak kelelahan, terang si filsuf. Si Badui setuju dengan saran bijak sang filsuf. Dia pun bertanya, hai orang cerdas, mengapa orang pintar sepertimu berjalan kaki di tengah gurun seperti ini? Tidakkah kamu merasa lelah? Makanya, jangan teori melulu!!!...... Demikian cuplikan hikmah dari buku Prof Nevzat Tarhan yang berjudul: Terapi Mesnawi.

Kamis, 14 Desember 2017

Mencetak Guru Hebat

"Hanya orang- orang terbaiklah yang terpilih menjadi guru. Baru memilih profesi lainnya. Persoalan utama guru madrasah adalah upaya yang sungguh- sungguh dalam mencetak Guru Profesional. Pertanyaan yang harus dijawab adalah " How To Be An Amazing Teacher? Bagaimana mencetak Guru yang hebat. Terdapat beberapa syarat untuk melahirkan guru hebat, sebagai berikut: 1. Passion. Semangat dan gairah. Antusiasme. Passion sangat menentukan karier seorang guru. Guru yang memiliki passion akan melahirkan peserta didik yang bersemangat. Guru yang berdedikasi yang tinggi akan melahirkan kinerja yang baik. Proses pembelajaran berkualitas. 2. Kompetensi dan kualifikasi Expertise. Seorang guru harus memiliki bidang keahlian. Mereka harus menjadi guru profesional. Hal yang terkait dengan kompetensi adalah kualifikasi pendidikan seorang guru. Guru- guru yang belum berkualifikasi sarjana harus menempuh pendidikan sarjana. Kesarjanaan seorang guru akan berbanding lurus dengan penguasaan materi pembelajaran yang akan berujung pada kualitas proses pembelajaran dalam kelas. Guru yang menyandang gelar sarjana, sejatinya memiliki kemampuan berpikir logik dan sistematis. Dengan cara berpokir logik inilah yang akan membawa peserta didik menjadi berkualiats tinggi. 3. Komunikatif Salah satu tugas utama guru adalah mentransfer ilmu. Pola komunikasi seorang guru juga sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Seorang guru lohai dan pandai melempar jok dan humor pada saat yang tepat. Sehingga para peserta didiknya tidak bosan menerima materi pelajaran. Pola komunikasi sangat penting dijuasai oleh seorang guru. Selanjutnya, guru juga berkewajiban untuk mentransfer nilai- nilai luhur kepada murid- muridnya. Tugas mulia guru sudah barang tentu harus dibarengi dengan kepiawaian komunikasi. Mentransfer nilai- nilai luhur atau apa pun namanya bukanlah perkara mudah. Seorang guru dituntut keahlian khusus untuk tugas yang satu ini. Dan tentu, guru tersebut harus memiliki keteladanan dan integritas. Sekali lagi, selera humor juga menentukan dalam tugas yang satu ini. Agar peserta didik tertarik untuk mencerap ide pokok sang pendidik. Biasanya untuk mengubah suatu komunitas, membaca novel juga penting. Sebab, dalam novel itu karatkter manusia dan liku- liku kehidupan. Pernik- pernik kehidupan manusia biasanya termaktub dalam novel. Penanaman karakter sebagai knowledge biasanya lebih muda melalui novel. Sebab, karya atau buku- buku novel mampu menggiring pembacanya untuk mengetahui karakter tokoh- tokoh yang diceritakan dalam novel itu. Karya komik bagi anak- anak sekolah dasar juga merupakan salah satu cara yang ampuh untuk penanaman karakter baik. Ada beberapa penelitian yang telah membuktikan bahwa untuk mengubah karakter sebuah bangsa dimulai dari penulisan komik- komik yang secara massif didistribusikan kepada peserta didiknya. Mulai pada kelas play group sampai siswa sekolah dasar dan menengah pertama. Dalam komiklah depan plot ceritanya bisa memengaruhi si pembaca komik. Komik itu mudah, ringkas dan menyenagkan. Sekarang kita bisa lihat karya- karya komik dari Jepang dan Korea Selatan. Menurut Chambert Loir dalam buku Sadur Terjemahan Karya Sastra Melayu di Indonesia dan Malaysia bahwa penerjemahan karya novel dan komik Jepang menempati posisi kedua setelah bahasa Inggeris. Penerjemahan karya- karya berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia menempati peringkat ketiga. Bangsa Jepang dan Korea Selatan adalah dua bangsa maju dalam bidang ekonomi dan teknologi. Mereka mampu memengaruhi masyarakatnya menuju bangsa yang maju. Dan sekarang kedua negara ini meluaskan pengaruhnya kepada bangsa- bangsa lain termasuk kawasan ASEAN, salah satunya Indonesia. Hampir semua toko buku seperti Gramedia, semuanya mejajakan buku- buku komik Jepang dan Korea Selatan. Secara pelan- pelan, kedua bangsa ini mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang unggul. 4. Empati Seorang guru hebat harus berempati kepada murid- muridnya. Dia harus mengerti kesulitan atau masalah dan tantangan yang sedang dihadapi murid- muridnya. Masalah keluarga, kesulitan dalam belajar dan masalah- masalah keseharian lainnya haruslah dimengerti oleh seorang guru. Sekarang ini tantangan sebagai seorang guru profesional tidaklah muda. 5. Memberdayakan Guru juga bertugas untuk memberdayakan potensi peserta didiknya. Mereka harus mengerti talenta dan bakat murid- muridnya. Pertanyaan yang harus segera dijawab adalah what do students really want from their teacher? Guru bijak harus mampu dan mau mendengar suara positif dan negatif murid- muridnya. Guru harus terlebih dahulu membangun relasi yang baik dengan para peserta didiknya. Guru ibarat kapten dan nakhoda kapal. Dalam berlayar kapal terkadang oleng oleh ombak. Di situlah fungsi sang nakhoda. Nakhoda harus dengan tepat mengambil keputusan pada situasi sulit. Sang nakhoda juga harus tepat menentukan arah agar kapal tidak tersesat di samudera. Sang nakhoda harus menguasai ilmu tentang cuaca dan bahaya dalam melaut.

Selasa, 12 Desember 2017

Positioning PTKI

Pendidikan Tinggi: Ikhitiar Mencetak Sarjana Muslim, Tangkas, Unggul dan Religius Oleh: Dr Muhammad Zain Era Disrupsi We have entered in revolutionary times, kata Bill Gates. Kita sedang memasuki era revolusi informasi. Revolusi informasi ditandai dengan akselerasi teknologi IT. Kita sedang mengalami era disrupsi. No ordinary disruption, zaman Now telah terjadi kekacauan yang tidak biasa. Demikian hasil riset Richard Dobbs, James Manyika, and Jonathan Woetzel dalam buku teranyarnya itu. Ada empat perubahan yang sedang terjadi dan memengaruhi dunia global. a. Akselerasi teknologi informasi. Terdapat 2/3 warga dunia yang memiliki android, hand phone dan mereka semua terkonek dengan internet. Tinggal 1/3 warga dunia yang tidak memiliki hand phone. Sekarang semua sudah on line system. Pengusaha Taxi konvensional, collaps dan bangkrut. Mereka kalah cepat dengan Uber car. Grab, Gojek, yang tidak perlu kantor luas. Tidak perlu memiliki motor dan mobil. Mereka hanya menyiapkan on line system. Tidak ada yang salah dari Nokia. Nokia hanya kalah cepat merespon kebutuhan pasar. Sehingga Nokia, hampir gulung tikar, dan disalib oleh Samsung. Blackberry sudah tidak kedengaran lagi. Sarjana dan mahasiswa era sekarang, berbeda dengan 20 tahun yang lalu. Mahasiswa dan sarjana era sekarang, sejatinya multitasking. Mereka bisa mengerjakan dua atau tiga pekerjaan dalam satu waktu. b. Aging population ( Populasi yang Menua). Di China dan Jepang, seorang dewasa harus merawat enam orang tua. Kedua orang tuanya. Dua mertuanya. Dan dua orang kakek buyutnya yang masih hidup. Sehingga mereka kewalahan dalam merawat manula. Apa yang terjadi? Mereka merawat orang tua tersebut dengan bantuan robot. Robot lebih praktis merawat para manula daripada seorang pembantu atau perawat. c. Urban society. Terdapat 440 kota di dunia ini yang menentukan mobilitas tenaga- tenaga profesional dan lajunya perekonomian dunia. Tianjin, China, Tokyo, Jepang, dst. Sejatinya pendidikan yang modern tidak hanya menyasar masyarakat pedesaan, tetapi juga masyarakat kota. Sehingga, keterampilan adalah suatu kemestian. Apalagi dengan iklan Google, rekasasa IT yang mencari karyawan tanpa ijazah. Ini sesuatu yang mengejutkan dunia pendidikan yang selama ini mementingkan ijazah. Ijazah adalah azimat yang merupakan syarat utama dan pertama para pencari kerja. Job seeker sebelum mereka diterima pada suatu instansi atau perusahaan harus terlebih dahulu menunjukkan ijazah yang telah diraihnya. Google tidak memetingkan ijazah. Google memerlukan skill yang dimiliki oleh calon karyawan. Apakah ini merupakan lonceng kematian perguruan tinggi? KKN harus juga menyasar warga kota. Tidak hanya berorientasi ke desa. Sehingga mereka harus memiliki global dexterity, dan plan of prosperity. Ketangkasan global dan kemampuan untuk merencanakan kesejahteraan hidupnya di masa depan. d. Capital, people, investmen. Dengan melihat sejumlah perubahan revolusioner di atas, perguruan tinggi harus menerapkan strategi baru dalam merespon tuntutan zaman. Menteri Pendidikan tinggi dan sains Malaysia telah menerapkan kebijakan 2 U and 2 i. Two years in university, and two years in industry. Mahasiswa dua tahun menerima teori di bangku kuliah, dan dua tahun langsung terjun di dunia industri atau masyarakat. Robert W. McChesney and John Nichols dalam bukunya: People Get Ready the Fight Against a jobless economy and a citizenless democracy, 2016. Bahwa The future is now. Masa depan itu dirancang dan ditentukan sekarang. Masa depan itu ya sekarang. Tidak ada yang bisa menentukan takdir, tetapi kita bisa menemukannya dengan cara berlari kencang. Era Kompetisi Dalam dunia bisnis, persaingan adalah sebuah kemestian. Kalau tidak mampu bersaing, maka sebuah perusahaan akan ditinggal pelanggannya. Sebentar lagi perusahaan tersebut akan collaps. Dalam persaingan yang terpenting adalah berusaha untuk membentuk kompetitif, untuk mengendalikan nasib kita sendiri. Memasuki abad ke 21, kita dihadapkan pada kebutuhan yang mendesak akan pentingnya memiliki strategi dan visi yang jelas mengenai cara menampilkan diri yang unik dan berbeda dengan yang lain. Kalau tidak, kita akan ditelan hidup-hidup oleh persaingan yang semakin sengit. Keunikan dan diferensiasi sangat penting dalam sebuah persaingan. Bahkan sangat boleh jadi persaingan itu dimaknai sebagai pertarungan dalam pengertian yang positif. Untuk itulah dibutuhkan strategi yang jitu. Visi kita adalah untuk mewujudkan pendidikan Islam yang unggul, moderat dan menjadi referensi pendidikan Islam dunia. Kita harus fight untuk mewujudkan competitiveness pendidikan Islam. Daya saing pendidikan Islam sedang dilirik, baik secara nasional maupun internasional. Orientasi program dan kegiatan kita harus mengarah pada visi dan misi tersebut. Untuk Mewujudkan pendidikan Islam menjadi rujukan Islam dunia, maka Karakteristik dan distingsi pendidikan Islam harus dikedepankan. Posisi Perguruan Tinggi di Era Akselerasi Era revolusi IT adalah era akselerasi. Semua serba sibuk dan berlangsung serba cepat. Siapa yang lambat akan terlindas oleh zaman. Ibarat naik kereta super cepat, telat satu menit akan tertinggal, dan berdampak beberapa jam kemudian. Kita harus berlari kencang. Seperti seekor kijang yang hendak diterkam harimau. Pilihannya hanya dua: Berlari kencang dan selamat. Atau lambat, dan mati diterkam harimau. Sekarang serba cepat. Semua orang mengalami busy, super sibuk. Itulah ciri Digital population; Populasi digital. Bahwa fasilitas dan sarana digital sebagai sarana yang terbaik. Sebab, dengan buku digital, lebih murah, dan lebih cepat. Teknologi adalah alat untuk kemashlahatan. Teknologi harus familiar dengan kita semua. Seperti seirang bapak kalau tertinggal dompetnya pasti tidak balik. Kalau hpnya yang tertinggal, pasti balik. Kita harus mendrive teknologi untuk menjadi mashlahat, bukan mudharat. Hati-hati dengan mazhab google, karena banyak alirannya. Banyak pandanggan ulama ada di google. Saudara-saudara belajar agama harus dari sumber yang jelas. Saya berharap, dengan wisuda kali ini bisa berguna untuk bangsa dan agama. Saudara ibarat etalasi dan akan lahir lagi etalasi berikutnya. Dengan segala keterbatasan, kita terus berkembang. Dengan keterbatasan, bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk bangsa. Selanjutnya, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran kita untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi kita. 1. Rendahnya Literasi Indonesia sudah 72 tahun merdeka. Tetapi menurut data masih terdapat sekitar 5,9 juta warganya yang buta huruf. Jawa Timur memiliki angka tertinggi buta aksaranya, sekitar 1.458.184. Meskipun mereka ini melek terhadap aksara arab gundul. Secara internasional, UNESCO melancarkan gerakan Reading the Past, Writing the Future. Agar warga dunia terbebas dari buta huruf ini. Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia, kata Nelson Mandela. Kita harus melakukan terobosan untuk menghapus buta aksara ini. Dan patut dicatat, buta aksara melanda hampir semua negara- negara berkembang dan masyarakat muslim. Buta aksara atau literasi masih menjadi masalah yang masif melanda dunia muslim. Rata- rata wilayah yang lebih dikenal sebagai "Bulan Sabit" masih mengalami problem rendahnya literasi. Rendahnya literasi keagamaan menjadi problem lanjutannya. Bahwa umat kita pada grassroot, akar rumput memiliki pemahaman keagamaan yang belum memadai. Memahami ajaran dan ujaran keagamaan secara "hitam-putih" masih tinggi. Cara pandang agama semacam ini sangat berbahaya masih keberlangsungan demokrasi dan Islam rahmatan li al- 'alamin. Kampus harus bergegas merespon perkembangan zaman dan berikhtiar untuk mencetak intelektual publik. Sarjana muslim harus tampil pada garda terdepan dalam menyuarakan Islam moderat, santun, dan menyebarkan kedamaian. Sarjana kita harus terus mengedukasi masyarakat dalam arti sesungguhnya. Bahwa peran- peran profetik semacam harus menjadi bagian yang inheren dalam tugas dan tanggung jawab kita sebagai sarjana muslim. 2. Pendidikan Karakter Dewasa ini kita menyadari betapa pentingnya memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum. Setidaknya ada tiga landasan pendidikan karakter ( character-building education). yakni: (a)memasukkan nilai-nilai humanisme, seperti saling menghargai dan menghormati antar sesama. Jepang barangkali bisa menjadi contoh dalam pendidikan karakter yang dimulai sejak pendidikan usia dini. Halmana tradisi dan nilai- nilai luhur mereka tidak tergerus oleh modernitas. Integritas, kejujuran, tanggung jawab, menghormati yang lebih senior, sportifitas, nilai malu terintegrasi dalam kurikulum pendidikan mereka. b) mengembangkan karakter keilmuan, yakni dengan menciptakan curiosity, rasa ingin tahu yang tinggi ( search of inquiry), sehingga ilmu, kreatifitas dan inovasi dapat berkembang; dan (c) menanamkan kecintaan dan kebanggaan kepada Indonesia. Pancasila, UUD 1945, Persatuan Indonesia, NKRI adalah pilar- pilar kebangsaan kita dan sudah final. Current Issues Pendidikan Tinggi Barangkali untuk pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia, realitas berikut dapat menjadi bahan pemikiran. (1) Tantangan pendidikan di era MEA. New Think Asean, kata Philip Kotler. Asean sulit diprediksi. Ada banyak pemain baru dalam seluruh sektor, ekonomi, politik, pendidikan dan budaya. Asean sekarang sudah sangat berbeda dengan 20 tahun yang lalu. MEA adalah peluang pasar bagi Indonesia. Tantangan kita, (a). Masalah bahasa. (b). Mobilitas mahasiswa, dosen dan peneliti. Kedua tantangan ini bisa dilakukan international summer program, lecturer/ researcher exchange program, joint research, joint seminar, dst. (2) Menyehatkan PTN- PTS Ada sepuluh PT terbaik Amerika. Semuanya PTS dan didanai oleh donatur kaya. Universitas Harvard memiliki dana abadi sebanyak Rp. 473,2 triliun. Donatur dari filantropis kaya semacam Rockefeller, John F Kennedy, dan Melinda Gates banyak investasi untuk pendidikan dan kesehatan. Di Indonesia kita sulit mendapatkan orang kaya seperti itu. PTS kita secara nasional banyak yang sakit- sakitan. Dari 3.078 PTS, baru 111 (3,6%) mengajukan akreditasi institusi. Itupun baru 4,5% yang mampu terakreditasi B, dan selebihnya C. Masih ribuan yang belu mengajukan akreditasi. Mengerikan. Sementara ada 70% mahasiswa Indonesia kuliah di PTS. Ditambah lagi, dengan 1/3 PTS yang masih luhur dan bersikukuh dalam menjalankan misi PT. Selebihnya, PTS dijadikan sebagai pundi- pundi income oleh pendirinya. Ada juga untuk kepentingan bisnis, kepentingan pribadi sebagai sumber dana kampanye, dst. PTS sulit mendapatkan izin prodi yang laris- manis seperti Prodi Ilmu Kedokteran dan semua turunannya. Dosen PTS juga hanya sedikit yang bisa berfungsi sebagai dosen. Padahal untuk melaksanakan tridharma, PT sangat membutuhkan dosen yang bermutu, laboratorium, perpustakaan yang lengkap, proses belajar mengajar yang maju. Sehingga kita bisa melahirkan lulusan yang terampil dan berdaya saing. (3) Pengembangan bidang ilmu. Data Forlap Kemenristek Dikti (2016), jumlah prodi sebanyak 23.747. Sains dan teknik yang mencakup MIPA, teknik, kedokteran, kesehatan, dan pertanian. Selebihnya ilmu- ilmu sosial dan humaniora, seperti ekonomi, politik, hukum, sosiologi, antropologi, sejarah, filsafat, dan agama. Jumlah prodi sains- keteknikan lebih sedikit dibanding ilmu sosial dan humaniora. Sains keteknikan sebanyak 10.135 prodi sekitar 43%. Dan ilmu sosial dan humaniora sebanyak 57% ( 13.611). Dari jumlah mahasiswa sebanyak 5. 228.562, yang menekuni sains keteknikan hanya 1.593.882(30,5 persen). Dan mereka yang menekuni bidang ilmu sosial dan humaniora sebanyak 3. 634.679(69,5 %).Sehingga terjadilah ketimpangan. Terjadilah inflasi sarjana ilmu-ilmu sosial humaniora. Lebih banyak " pengamat" daripada ahli. Defisit sarjana teknik tak terhindarkan. Indonesia kekurangan insinyur. Diperkirakan tahun 2015-2025, kita kekurangan insinyur sekitar 15 ribu pertahun. Pada tahun 2020-2025 kita membutuhkan insinyur sebanyak 90.500 pertahun. What Next? Kita harus menjawab tantangan- tantangan pengembangan pendidikan tinggi tersebut. Kita harus terus berinovasi untuk menciptakan peluang- peluang baru. Penguatan akreditasi prodi dan institusi harus menjadi konsern pimpinan perguruan tinggi. Peningkatan kualitas dosen adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Publikasi ilmiyah harus terus digenjot agar kita mendapatkan recognition, pengakuan baik nasional, regional ASEAN maupun internasional. Pemenuhan infrastruktur kampus harus terus dibenahi agar civitas akademik bisa betah mengembangkan ilmu dan proses pembelajaran di kampus. Kampus yang ikonik harus kita bangun yang akan menjadi kebanggaan Kemenag dan bangsa kita. PTKI harus berdiri pada garis terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam. Pimpinan PTKI harus tegas menolak bentuk- bentuk gerakan dan kegiatan radikalisme agama yang berujung pada pelemahan pilar- pilar bangsa. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Nasehat Wisudawan 1. Isteri yang menyandang gelar sarjana lebih banyak positif thinking, bukan negatif thinking. Kalau isteri tidak sarjana, begitu suaminya keluar doanya berbeda. Ya Allah, Hindarkanlah suamiku dari godaan para janda. 2. Di sini sarjananya juga tidak berwajah takfiri. Sedikit-sedikit mengkafirkn orang lain. Sedikit sedikit membid'ahkan orang yang berbeda. Kita mencetak sarjana Islam wasathiyah. Islam moderat. 3. Jadilah harimau. Sebab harimau meskipun diam, tetap saja harimau. Ditakuti dan disegani. Jangan seperti anjing yang suka menggonggong tetapi tetap saja tidak didengar. 4.Jadilah sarjana Muslim Indonesia. Kita lahir dan besar di tanah air Indonesia. Jadilah penyebar kedamaian dan merawat NKRI. 5. Saat hidup menjatuhkanmu, kamu harus memilih, bangkit atau tetap tergeletak. Diam.