Gallery

Selasa, 16 Agustus 2016

Pelita Hati

Saya ingin berbagi beberapa tweet Desi Anwar. Desi Anwar adalah seorang jurnalis dan presenter TV yang pertama- tama memperkenalkan gaya yang khas dalam membaca berita di Indonesia. 1. Kesuksesan datang karena melakukan hal baik, bukan karena menghancurkan kompetitor, lawan atau saingan. 2. Yang penting bukan berapa banyak uang yang diperoleh, tetapi berapa banyak yang kita tabung. 3. Jangan terlalu lama menunda menikmati hidup, karena tidak ada jaminan kita akan menikmatinya besok. 4. Hidup seperti perjalanan dengan mobil. Berhati- hatilah, jangan sampai ego kita yang mengambil alih kemudi. 5. Betapa pun buruknya suasana hati kita, carilah satu hal yang patut disyukuri. Sehingga, hidup ini terasa indah. 6. Jangan terlalu banyak berkhutbah, kerjakan sajalah. ( Desi Anwar, Tweets flr Life, 2011).

Minggu, 31 Juli 2016

Semuanya Akan Berlalu....

Saya terkesima membaca sebuah artikel untuk rubrik Psikologi This Too, Shall Pass. Kalimat ini adalah kata bijak dari tradisi sufi Persia pada abad pertengahan. Alkisah, seorang tukang cincin yang diminta untuk menulis kalimat bijak dan paling bijak. Ia kebingungan, dan akhirnya ia menulis frase " This too, Shall Pass, Yang ini pun, akan berlalu". Kalimat bijak ini semakin terkenal ketika Abraham Lincoln, pada tahun 1859 memasukkannya dalam pidato kenegaraannya. Bahwa kita tidak boleh mengeluh apalagi outus asa ketika dirundung masalah. Kita pun tidak boleh kehilangan keseimbangan ketika merasakan kenikmatan jabatan, harta, dan penghirmatan. Sebab, semuanya hanyalah bersifat sementara. Demikian sekelumit pandangan psikolog Kristi Poerwandari. Kompas, 10 Juli 2016, h. 25.

Senin, 25 Juli 2016

Cerita Baharuddin Lopa

Kisah pak Lopa ini berdasarkan cerita Dr Wajidi Sayadi, kemanakan Prof Lopa yang sehari- hari bersama beliau di kediamannya. Jadi kisah ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan langsung. 1. Bertengkar dengan isteri. Karena sebagai Menteri Kehakiman, pakaian beliau di mata isteri sangat sederhana. Tidak pantas sebagai pakaian pesta. Bertengkar hebat. Isteri beliau, Bu Andi Endara wulan tidak mau ikut kalau beliau tidak mengganti bajunya. Sementara pak Lopa melihat bajunya sudah pantas untuk ikut pesta. Lalu, pak Lopa pada akhirnya mengalah. Beliau mengganti bajunya. Mereka berdua melenggang ke pesta pernikahan kerabatnya. 2. Mengembalikan burung titipan. Satpam yang menerima burung entah darimana mendapat semprot dari pak Lopa. Satpam jatuh sakit. Dan tidak pernah sehat sampai pak Lopa wafat. Dengan nada keras, beliau berkata, siapa yang menyuruh anda menerima burung ini. Tolong kembalikan burung ini. Dan jangan pulang sebelum ada bukti bahwa burung itu sudah kembali ke pemiliknya. 3. Beli baju yang super murah. Pak Lopa kalau membeli baju seharga 15 ribu. Tolong belikan baju kaos yang berkera yang seharga 15 ribu.,jangan lebih dengan harga tersebut. Orang yang disuruh tentu kesulitan untuk mendapatkan baju seharga 15 ribu rupiah. Dia punya ide, menggunting harga baju tersebut, sehingga memudahkan urusan. Semoga pak Lopa tidak menanyakan lagi harga baju super murah tersebut. 4. Menjahit sepatu. Sepatunya cuma ada satu. Sewaktu robek, beliau menyuruh kemanakannya untuk menjahitnya. Karena tidak mendapatkan penjahit sepatu, maka dijahit di pinggir jalan. Karena beliau tidak bisa menunggu lama. Beliau hanya memiliki satu sepatu. 5. Tulisan terakhir yang ditulis di Suara Pembaharuan adalah Kebebasan Pers. Beliau memuji Habibie yang mengusung kebebasan pers tetapi tetap dalam koridor hukum. Regulasi dan hukum tetap ditegakkan. Kebebasan tidak bersrti sebebas- bebasnya. 6. Suatu hari, Prof Lopa bertemu kawan lamanya di Pasar Minggu. Beliau sangat akrab dan kangen dengan lamanya tersebut. Setelah perbincangan selesai, keduanya berpisah. Dan mengucapkan salam perpisahan. Dan pak Lopa merogoh kantongnya sembari memberi uang temannya tersebut. Berspa jumlahnya? Rp 15 ribu. Isterinya nyeletuk, mipasiri'o tongang abba Khalid. Engkau membuat malu kita. Bayangkan, seorang Menteri Kehakiman memberi uang sejumlah rp. 15 ribu. Apa kata orang? Ah, itu sudah banyak, jawab Lopa enteng. Kita tidak tahu, apakah Prof Lopa itu tidak mengerti nilai uang. Atau mengajarkan kesederhanaan kepada siapa pun. Atau memang kurang peka terhadap warna dan nilai uang, maaf. 7. Setiap pak Lopa menyuruh sesuatu, selalu mengulanginya. Seumpama beliau menyuruh seseorang untuk membeli meperluan sehari- hari, setelah yang bersangkutan hendak berangkat, beliau mengecek lagi. Apakah yang bersangkutan mengerti apa yang disuruhkan. Beliau sangat teliti. Sama halnya, ketika beliau diwawancarai seorang wartawan. Sebelum sang wartawan selesai menulis, pak Lopa pasti mengecek lagi, apa yang telah ditulis sang wartawan. Jangan sampai ia salah mengutip pendapat Prof. Kalau ada yang kurang pas, pak Lopa langsung mengoreksinya pada saat itu juga. Mohon maáf kepada keluarga Lopa kalau ada yang bersifat personal. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengambil íbrah keteladanan dan kesederhanaan seorang Barlop.

Pas Photo

Pas photo adalah dokumen penting bagi seseorang yang akan mengurus CPNS. Atau seseorang yang akan mengurus lelang jabatan. Studio photo pastilah diuntungkan. Saya lihat setiap tahun studio photo ramai dikunjungi oleh pelamar pekerjaan. Bahkan mereka biasa berjubel untuk mendapatkan giliran cuci photo sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Sekarang untuk mendapatkan pas photo cukup sederhana. Bisa membawa pas photo lama. Tidak perlu photo ulang. Studio photo sudah memiliki alat scanning yang canggih. Dalam hitungan menit pas photo yang dipesan sudah diprint-out. Teknologi sudah canggih. Teknologi telah memberikan kemudahan kepada umat manusia. Saya tidak bisa membayangkan betapa rumitnya si tukang photo kalau tidak memiliki alat yang canggih seperti yang telah saya gambarkan di atas. Sebab, pelanggan untuk cuci photo semakin hari semakim banyak. Barangkali 10 tahun mendatang, kita akan menyaksikan teknologi yang lebih canggih lagi. Saya berharap, ke depan layanan publik bisa lebih simpel dan terintegrasi. Supaya investasi waktu dan tenaga para pencari kerja lebih efektif dan lebih produktif. Time is money. Waktu adalah uang. Waktu dan tenaga adalah investasi yang tak tergantikan.

Minggu, 24 Juli 2016

Prof Sendok

Seorang kawan bercerita tentang kelakuan seorang professor dari perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Sang prof memiliki kebiasaan unik setiap naik pesawat. Beliau selalu mengantongi sendok dari pesawat untuk dijadikan "ole- ole". Sehingga di rumahnya ada lemari khusus untuk tempat koleksi sendok yang dikumpulkannya sejak zaman Orde baru. Banyangkan saja, sudah berapa ratus koleksi sendok yang dikumpulkannya itu. Saya tidak bisa mengerti, mengapa beliau sangat suka mengoleksi sendok. Cerita dari seorang mahasiswa beliau. Identitas professor ini adalah kawan akrab Prof M. Alvian Ibrahim. Professor yang kedua ini lain lagi. Beliau gemar mengoleksi uang koin. Bahkan disertasinya pun mengkaji masalah koin di nusantara. Barangkali Prof Annabel, Cambridge Univ, Inggeris juga terinspirasi oleh beliau. Annabel menulis disertasi tentang stempel surat raja- raja di nusantara. Annabel sampai memiliki surat berstempel raja Mandar, Majene. Konon, ketika beliau meneliti, surat tersebut sangat sulit didapatkan. Karena surat tersebut disimpan disimpan di balik kasur. Bahkan ada yang disimpan di dslam atau di balik bantal. Menyimpan surat yang sangat berharga dengan cara- cara manual.