Gallery

Rabu, 15 Agustus 2012

Khutbah Idul Fitri, 1433 H

Khutbah Idul Fithri, 1 Syawal 1433 H Makna Puasa Bagi Kehidupan Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Hari ini takbir, Allah Akbar (meng-Agungkan Asma Allah), Tasbih, Subhanallah (mensucikan Allah), dan tahmid, walillah al-hamd (segala puja dan puji hanya milik Allah) berkumandang di seluruh dunia. Pekik suara itu juga kita gemakan di sini, disaksikan dan disambut riuh-rendah suara para malaikat Allah Swt. Gema Takbir membahana ke seluruh pelosok bumi yang disuarakan oleh lebih satu seperempat miliyard umat manusia. Di lapangan, di masjid-masjid, di musholla, di surau, di Langgar, di desa-desa, di dusun-dusun, di gunung-gunung, di pinggir pantai, di kampung-kampung di seluruh pelosok negeri Islam. Setiap jengkal tanah yang di atasnya lafaz La Ilah Illa Allah—tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, maka tanah itu adalah negeri Islam. Hari ini, dengan berat hati, kita meninggalkan bulan suci ramadhan yang penuh berkah itu yang salah satu malamnya, lailatul-qadri, lebih mulia dari seribu bulan. Hari-hari ramadhan, Allah telah mencurahkan rahmat-kasih-sayangnya, Allah memberikan kucuran maghfirah-ampunan-Nya; Dan Allah membebaskan manusia dari siksaan api neraka. Kita telah menunaikan ibadah shaum ramadhan pada siang harinya, kita telah menghidupkan qiyamul-lail ( shalat sunnah tarawih, witir dan tahajjud) pada malam harinya. Kita telah membasahi bibir dan lisan kita dengan zikir dan tilawatil Qur’an. Kita telah berupaya sekuat tenaga untuk mengekang hawa nafsu kita, kita telah menahan lapar, dahaga dan tidak berhubungan suami-isteri pada siang harinya. Kita telah menunaikan zakat mal-hartanya dan zakat fithrah kita sebagai wujud kepatuhan total kita kepada Allah. Lalu pertanyaannya kemudian: akankah kita masih diberi umur yang panjang untuk bersua lagi pada ramadhan tahun depan. Akankah kita masih diberi kesehatan yang sempurna pada ramadhan tahun depan. Akankah kita masih utuh dalam satu keluarga pada ramadhan tahun depan. Akankah kita masih utuh sebagai jama’ah Masjid al-Muttaqiin, pada ramadhan tahun depan. Marilah kita berdo’a: Allahumma ballighna ramadhan, Ya Allah, berikanlah umur yang panjang kepada kami, agar kami dapat bersua dengan ramadhan tahun depan. Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Menurut catatan sejarah, idul fitri pertama kali dirayakan oleh umat Islam adalah pada tahun kedua Hijriyah. Yakni ketika Nabi dan para sahabatnya baru saja memenangkan perang Badar. Secara spontan umat Islam bergembira atas kemenangan melawan tentara kafir Quraisy. Abu Jahal yang selalu “menjahati” Nabi dan para sahabatnya, tewas dalam perang Badar. Perang Badar sangat menentukan perjalanan sejarah Islam, sangat menentukan hidup matinya agama Islam. Itulah sebabnya, sehingga Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama berdo’a: “Ya Allah, jika pasukan Islam ini hancur, maka siapakah lagi yang akan menyembah-MU di muka bumi ini”. Ketika kemenangan di tangan kaum muslimin, Nabi bersabda: “Kita telah kembali dari perang kecil, namun kita akan menghadapi perang atau jihad yang lebih besar. Para sahabat bertanya: apakah jihad akbar itu? Jihad al-nafsu. Memerangi hawa nafsu, jawab Nabi”. Idul Fitri pada masa itu disambut dengan meriah. Sampai-sampai kita selalu mendengarkan lafaz yang selalu dibaca ketika melantunkan takbir, tahmid dan tasbih. …La ilah Illa Allah wahdah. Shadaqa wa’dah. Wa nashara ‘abdah. Wa a’azza jundah. Wa hazama al-azhab wahdah…Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Dia (Tuhan) yang selalu menepati janji-Nya. Dia (Tuhan) yang telah dan selalu member pertolongan kepada hamba-Nya. Dia (Tuhan) yang telah mengokohkan tentara-Nya. Dia (Tuhan) yang telah menghancurkan musuh-musuh-Nya…. Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama menasehati salah seorang isterinya agar mengetuk pintu surga setiap harinya. Isterinya lalu bertanya, dengan apa ya Rasullah? Dengan lapar, jawab Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama. Imam al-Ghazali, hujjat al.Islam pernah berkata: Puasa itu seperempat iman. Bahkan dalam salah satu sabda Nabi disebutkan bahwa al.shaum nisfu al.shabr, puasa itu separohnya adalah sabar. Demikianlah ternyata lapar memiliki kekuatan dahsyat. Mungkin itulah sebabnya, sehingga puasa merupakan salah satu ibadah yang sangat istimewa. Konon, pada masa dahulu kala, kalau ada jawara—pendekar-- yang mau meningkatkan kesaktiannya, biasanya ia menempuh suluk berpuasa dengan ritual tertentu. Imam al-Ghazali dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah mengutip Firman Allah Swt dalam salah satu hadis qudsi, Setiap amal kebaikan akan diberi pahala sepuluh sampai 700 kali lipat, kecuali puasa. al-shaumu li wa ana ajzi bihi. Puasa adalah milik-Ku, dan aku pulalah yang akan membalas atas ganjaran puasa tersebut. Ada apa dengan puasa? Bukankah seluruh ibadah adalah milik Allah? Bukankah seluruh amal ibadah seorang hamba juga akan dibalas oleh Allah Swt? Rupanya puasa ini memiliki sifat-sifat dan pesan-pesan ketuhanan yang mendalam. Orang yang berpuasa adalah sedang mencontoh sifat-sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum. Orang yang berpuasa, dan selanjutnya berderma dengan memberi makan kepada mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa juga sedang mencontoh sifat Allah swt. Yakni, Allah yang selalu menyiapkan seluruh kebutuhan hamba-hamba-Nya. Itulah sebabnya, al-Barr--Allah Maha Baik--salah satu asma' al-husna--nama-nama terbaik bagi Allah. Sebagai al-Barr, Allah Swt menyiapkan seluruh yang dibutuhkan semua makhluk-Nya, sementara Allah sendiri tidak menikmatinya. Mungkin inilah salah satu pesan spiritual ayat al-Qur'an yang berbunyi: lan tanalu al-birr hatta tunfiqu mimma tuhibbun...Kalian belum sampai mendapatkan derajat kebajikan, sebelum kalian menafkahkan harta yang sangat engkau cintai. Orang yang lapar akan merasakan betapa sulitnya bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi dalam menjalani kehidupan ini. Dengan merasakan lapar, seseorang diharapkan dapat memiliki kepekaan sosial. Di sinilah, hikmah puasa yang di dalamnya mengandung ibadah mahdhah sekaligus ibadah sosial. Mestinya, seseorang yang berpuasa memiliki kecerdasan sosial yang tinggi pula. Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Keutamaan puasa yang lainnya adalah menyehatkan tubuh kita. Ada banyak testimony dan kesaksian tentang keutamaan puasa. Bahkan penelitian dunia kedokteran membuktikan bahwa tikus yang dikurangi makanannya sebanyak 40% memiliki umur yang panjang daripada tikus yang diberikan makanan sesuai dengan kebutuhannya setiap harinya. Hal ini telah diwartakan oleh Rasulullah shalla Allah ‘alaih wa sallama: shumu tashihhu….berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat. Prof H. M. Amin Rais—Mantan Ketua MPR RI-- bercerita tentang seorang ibu yang semula diperkirakan telah berumur kisaran 50an. Si Ibu ini kebetulan duduk bersebelahan di kursi pesawat dengan Pak Amin Rais. Ketika waktu masuk maghrib terdengar sayup-sayup si ibu membaca do'a allahumma laka sumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa bi-ka amantu…dan seterusnya. Pak Amin bertanya, ibu sedang puasa Senin- Kamis? Jawabnya, ya. Sejak kapan ibu melaksanakannya? sejak gadis, jawabnya lagi. Dan saya jarang sakit hingga memasuki umur 65 tahun. si ibu sudah memiliki 5 anak, dan belasan cucu. Pada kesempatan lain, pak Amin Rais kedatangan tamu di PP Muhammadiyah di Jakarta. Waktu itu, hari rabu. Ketika tiba waktu makan siang, Pak Amin mengajak tamu tadi yang kebetulan juga seorang Kyai. pak Kyai menjawab bahwa beliau sedang berpuasa. Pak Amin heran. Puasa Dawud? Ya, jawabnya dengan sangat rendah hati. Sejak kapan, tanya Pak Amin lagi. Sejak zaman penjajahan Jepang. Dapat dibayangkan betapa teguhnya sang Kyai yang mendawamkan puasa Dawud selama puluhan tahun. Hari ini puasa, besoknya berbuka, demikian seterusnya. Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Puasa adalah ibadah yang sangat sarat dengan pesan-pesan sosial. Selanjutnya, orang yang sedang berpuasa juga sangat dianjurkan untuk berderma, mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah. Orang yang berpuasa juga dianjurkan untuk memberi buka puasa. Berpuasa juga dimaksudkan untuk membentuk karakter dan pribadi yang jujur. Orang yang berpuasa adalah pribadi yang jujur. sebab, seseorang berbuka atau berpuasa hanya dirinya dan Tuhan yang tahu bahwa yang bersangkutan sedang menunaikan ibadah puasa. Seseorang boleh saja kelihatan loyo dan lemas, padahal sesungguhnya yang bersangkutan tidak sedang menjalankan puasa. Sebaliknya,ada orang tampak lincah, gesit dan segar, padahal yang bersangkutan sedang menunaikan puasa ramadhan. Allah akbar 3x Allah akbar wa li Allah al-hamd. Orang yang sedang menunaikan ibadah puasa, do’a-do’a yang dipanjatkannya akan diijabah oleh Allah Swt. Hanya saja do’a itu bisa menjadi penghapus dosa, atau ditangguhkan pada waktu yang tepat, atau do’a itu sebagai penolak bala’, atau sangat boleh jadi do’a seseorang nanti dibalas di akhirat kelak. Sebagai seorang muslim, senantiasa harus husn al-zann—berbaik sangka—kepada Allah Swt. Nabi Musa a.s berdo’a selama 40 tahun untuk menumbangkan tirani dan kekejaman Fir’aun di Mesir. Nabi Zakariya a.s berdo’a hampir 60 tahun untuk mendapatkan keturunan, dan pada usia 80 tahun beliau baru dikaruniai seorang puteri, yakni Maryam a.s. Hal yang sama juga terjadi pada diri Nabi Ibrahim a.s, justeru di usia senja beliau baru dikaruniai dua putera, yaitu Ismail dan Ishaq. Bahkan ketika mendapatkan “bocoran” informasi dari langit bahwa Beliau akan mendapatkan keturunan, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah “tertawa” lirih. Mungkin beliau “membatin akankah di usia senja akan mendapatkan keturunan? Do’a memang bukan lampu aladin. Selama ini, kalau kita berdo’a, maunya kita langsung diijabah oleh Tuhan. Jama’ah ‘idul fitri yang dimuliakan Allah Swt Ada kisah seorang raja yang lalim, dan seorang shaleh. Keduanya mengalami sakit yang sama dan pada waktu yang hampir bersamaan pula. Untuk sang raja zalim, Tabib, dokter berpendapat bahwa obat satu-satunya adalah ikan tertentu yang kebetulan tidak muncul di laut pada saat ini. Jadi, untuk sembuh sangat tipis harapan. Lalu, raja berdo’a agar diberi kesembuhan. Tuhanpun mengerahkan para malaikat agar menggiring sekelompok ikan yang dibutuhkan untuk keperluan pengobatan. Singkatnya, sembuhlah sang raja lalim. Sebaliknya, orang shaleh pada saat lain juga mengalami sakit yang sama. Bedanya, si Shaleh pada saat itu, ikan yang dibutuhkan lagi musim. Sehingga, tabib tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari ikan di laut. Berdo’alah si shaleh agar diberi kesembuhan. Apa yang terjadi? Ketika tabib mencari ikan pengobatan di laut, Tuhan memerintahkan para malaikatnya agar menggiring ikan-ikan tersebut untuk bersembunyi di dasar laut. Maka, ikan pengobatanpun tidak ditemukan. Akhirnya, si shaleh meninggal. Lalu, pertanyaannya kemudian, mengapa Tuhan member kesembuhan kepada sang raja yang tiranik, sementara kepada hamba yang shaleh tidak? Rupanya Tuhan punya rencana lain. Semua orang, siapa pun dia pasti pernah berbuat kebaikan termasuk si raja zalim tadi. Tuhan menerima do’anya karena perbuatan baiknya selama di dunia. Tuhan cepat membalasnya di dunia, sehingga di akhirat dia sudah tidak menagih balasan amal kebajikannya. Sebaliknya, sebaik-baik seseorang pastilah ia pernah berbuat dosa, kecuali para nabi dan rasul karena mereka maksum. Demikian pula halnya dengan si shaleh tadi pastilah ia pernah berbuat dosa. Sehingga, do’a kesembuhan yang dia minta tidak dikabulkan karena untuk menebus dosa-dosanya. Sehingga di akhirat kelak, ia menuju jalan yang lempang masuk surga. Oleh karena itu, kita harus tetap husn al-zann, berbaik sangka kepada Allah Swt apapun yang menimpa kita. Berdo’a memiliki adab dan etika tersendiri. Ada pendapat bahwa do’a yang diijabah adalah do’a yang abstrak dan tidak detail serta tidak terkesan mendikte Tuhan. Kita tentu biasa mendengar lafaz-lafaz do’a yang dimunajahkan di kantor-kantor. Si pembaca do’a –mungkin juga seorang pejabat--seakan-akan sedang “mendikte” Tuhan karena disangkanya sedang “memerintahkan sesuatu” kepada bawahannya. Marilah kita perhatikan do’a para Nabi dan rasul berikut. Nabi Ibrahim ketika sakit hanya berucap, wa iza maridhtu fa-huwa yasyfini—…dan apabila aku sakit, maka Dialah (Tuhan) yang menyembuhkanku. Nabi Ayyub ketika ditimpa sakit yang menahun, beliau bermunajat: Sakit telah menimpaku, Dikaulah Tuhan yang paling pengasih. Nabi Ayyub tidak mengeluh, dan apalagi mengalamatkan “sesuatu’ kepada Tuhan. Nabi Yunus a.s ketika ditelan ikan, dan menyadari kesalahan serta kehinaan atas dirinya, beliau berucap: La Ilaha illa Anta, subhanaka inny kuntu min al-zalimin:…Tiada Tuhan selain Dikau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri (Q.S. al-Anbiya’: 87). Nabi Adam a.s berucap, Q.S. al-A’raf:23, Rabbana zhalamna anfusana wa in-lam taghfir lana la-nakunanna min al-khasirin:… Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengasihani kami, maka kami pastilah termasuk orang-orang yang merugi. A’idin wa al-‘A’idat rahimakumu Allah Pada bulan suci Ramadhan, Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama sangat gemar bersedeqah melebihi hari-hari di luar Ramadhan. Berderma atau sedekah memiliki banyak keutamaan. Diantaranya, sedekah dapat menolak bala’ atau musibah yang akan menimpa kita, dapat menyembuhkan penyakit yang menahun, dapat memperpanjang umur, dan dapat menyuburkan harta yang disedekahkan. Dalam kaitan ini, Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama bersabda, “Takutlah kalian kepada api neraka, walaupun sebiji kurma. Kalau kalian tidak menemukannya, maka cukuplah dengan perkataan yang baik.” (ittaqu al-nar wa law bi-shiqqi tam-rin, fa-in lam tajidu fa-kalimat-un tayyibat-un). Hadis riwayat Imam al-Bukary, Imam Muslim dan Imam Ahmad ibn Hanbal bersumber dari ‘Ady ibn Hatim (seorang sahabat). Bahkan ada dosa yang hanya akan diampuni oleh Allah Swt. hanya dengan bersedekah. Seperti orang yang telah men-zihar istrinya, maka ia harus membayar kaffaratdengan memberi makan 60 orang miskin. (Q.S al-Mujadilah(58): 4). Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. Hadis-hadis Nabi saw. yang lain yang menganjurkan bersedekah antara lain: a. hadis bersumber dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: inna al-sadaqat la-tamna’u maitat al-su’i, wa innaha la-taqa’u fi> yad Alla>h qabl an-taqa’a fi> yad al-sa>’il (sesungguhnya sedekah itu pasti mencegah orang yang bersedekah itu dari mati dalam keadaan buruk. Sesungguhnya, sedekah itu akan tiba di tangan Allah sebelum tiba di tangan si penerima (sedekah). Yang dimaksud maitat al-su>’i (mati dalam keadaan buruk) adalah seperti mati tenggelam, terbakar, dimakan binatang buas, dan lain-lain. Sedang sedekah itu lebih dulu tiba di tangan Allah, karena orang yang bersedekah berniat ikhlas hanya kepada Allah semata. Lihat Abu Ubaid al-Qasim ibn Sallam, Kita>b al-Amwa>l, (Beirut: Dar al-Fikri, 1408 H./1988 M), hlm. 438. b. Hadis lain berbunyi, dari Abu Hurairah, Nabi pernah ditanya, ayyu al-sadaqat afdal? Fa-qa>la, al-sadaqat ‘ala dhy> al-rahim al-ka>shih} (Sedekah yang bagaimana yang paling utama?. Jawab Nabi, sedekah kepada keluarga dekat (yang menyembunyikan permusuhan dengan kita). Sebab, dengan sedekah semoga mereka dapat padam rasa permusuhannya kepada kita. c. Dari Salman ibn ‘Amir al-Dhabby, Nabi shalla Allah 'alaih wasallama bersabda: al-sadaqat ‘ala> al-miski>n s}adaqat-un, wa hiya ‘ala> dhy> al-rah}im thinta>ni, s}adaqat-un wa s}ilat-un. (Sedekah kepada orang miskin adalah sebagai sedekah (saja). Sedang sedekah kepada keluarga dekat memiliki makna dua, yakni sebagai sedekah dan silaturahim. d. Dari Abdullah ibn Mas’ud, ia berkata: al-s}adaqat maghnam-un, wa tarkuha> maghram-un (sedekah adalah investasi yang pelakunya akan beruntung, dan bagi yang meninggalkannya adalah kerugian besar). e. Dari Abdullah, Nabi bersabda: man aqa>ma al-s}ala>t wa lam yu’addi al-zaka>t fa-la> s}ala>t lahu> (Barang siapa yang mendirikan shalat, tetapi tidak menunaikan zakat, maka hilanglah pahala shalatnya). (Lihat ibid., hlm. 443). Jadi, bersedekah bukan hanya memiliki nilai pahala yang tinggi di sisi Tuhan, tetapi dapat menjadikan hubungan yang baik dengan keluarga dekat atau siapa saja yang diberi sedekah. Bahkan, sedekah itu sendiri akan berdampak sangat positif bagi orang yang gemar melaksanakannya. Terlebih lagi, sedekah itu bukan berarti harta yang disedekahkan berkurang, melainkan bertambah keberkahannya. Bersedekah juga bukan hanya dimaknai sebagai ibadah, melainkan harus dipahami sebagai ajaran yang menganjurkan kepada umatnya untuk bekerja keras agar dapat memberi sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi sesamanya. Oleh sebab itu, orang yang tidak bekerja keras atau bermalas-malasan tentu sangat sulit untuk mendapatkan harta yang berkecukupan untuk diri dan keluargannya. Sehingga, ia tentu sulit untuk bersedekah. Jama’ah ‘idul fitri yang dimuliakan Allah Swt Tidak ada Lebaran tanpa mudik, sebagaimana tidak ada Ramadhan tanpa tarawih. (Andre Moller, Ramadhan di Jawa, 2005) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mudik bermakna (1) berlayar, pergi ke udik (hulu sungai atau pedalaman). Ada yang berpendapat bahwa mudik berasal dari kata udik, bahasa Betawi yang berarti kampung. (2) cak—bahasa Madura—pulang ke kampung halaman; seperti pada ungkapan: Seminggu menjelang lebaran sudah banyak orang yang mudik. (3) memudik; berlayar mudik; tiga buah perahu nelayan berlayar memudik sungai; (4) memudikkan; menjalankan perahu ke arah hulu; seperti pada ungkapan: Para nelayan itu memudikkan perahunya ke daerah pedalaman. (5) pemudik, orang yang pulang ke kampung halaman. Sesungguhnya Idul Fitri adalah idul shagir, perayaan kecil dalam Islam. Justeru Idul Adhha yang merupakan idul kabir, perayaan besar. Tapi tidak demikian di Indonesia. Yang terjadi justeru sebaliknya. Idul Fitri merupakan “puncak pengalaman hidup sosial keagamaan rakyat Indonesia”, demikian pandangan cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Nurcholish Madjid. Itulah sebabnya, sehingga krisis moneter, atau apapun namanya tidak mampu menghambat mobilitas massa umat Islam kembali ke kampung halaman. Heboh mudik lebaran. Sepertinya hanya di Indonesia yang memiliki tradisi mudik dan mobilitas massa kota ke desa demikian masifnya. Di belahan dunia muslim lainnya seperti Mesir, Maroko tidak semeriah Indonesia. Di Maroko, Arab Saudi, justeru pada perayaan Idul Qurban-lah demikian semaraknya. Bahkan di Maroko terkadang terlihat pemandangan yang unik, yakni mobil-mobil mewah mengangkut hewan-hewan kurban, kambing dan domba. Orang kayanya tidak peduli dengan mobil mewahnya yang penting mereka dapat segera menyembelih hewan kurban kepada yang lebih berhak menerimanya. Pejabat pemerintah, wirausaha, maasyarakat biasa atau siapa pun dia, maka dengan senang hati mengangkut hewan kurban dengan cara mereka masing-masing. Strata sosial dan perbedaan lainnya tidak terlihat di kala perayaan Idul Qurban. Heboh mudik lebaran ada banyak dikisahkan. Bahkan Elie Mulyadi menceritakan pengalaman mudik dan rindu kampung halaman dalam buku yang ditulisnya dengan judul: Ramadhan di Musim Gugur, 2009. Buku ini menceritakan kisah-kisah seru, lucu, dan inspiratif sekitar mudik lebaran. Ada kisah pekerja kebun sawit yang sudah bertahun-tahun bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Ketika mereka sudah memiliki cukup uang untuk pulang, merekapun bersepakat untuk mudik lebaran. Ada di antara mereka yang tak tahan dengan penderitaan yang melilit selama di rantau orang, sehingga ia memutuskan untuk membeli pakaian baru, baju baru, celana baru, kacamata baru. Parlente, kesannya. Ada juga yang tetap berpenampilan biasa-biasa saja agar tidak terlalu menyolok. Karuan saja, Paijo dan Jupri yang necis itu kehilangan koper pakaian dan berisi uang titipan kawannya dalam perjalanan kapal laut menuju Tanjung Priok. Jupri juga kehilangan dompet ketika naik metro mini dari Tanjung Priok menuju kampungnya. Hanya yang berpakaian lusuh yang selamat dari copet. Demikian seterusnya. Ada juga kisah Mbak Nurmala yang mudik ke Garut, tak tahunya ketemu jodoh dengan anak seorang Kyai di Bandung. Ada juga kisah inspiratif seorang dokter (bidan) yang dilanda rindu pulang ke Padang setelah sekian lama tidak pulang kampung. Malam lebaran matanya tidak bisa tidur. Begitu rasa kantuk menderanya ternyata, seorang tukang becak mengetuk pintu kliniknya dengan kerasnya. Dan ternyata si tukang becak membawa Mini isterinya yang sudah mengerang kesakitan. Tolong bu dokter, pintanya. Rupanya ia hendak melahirkan, dan sudah pintu tujuh. Sebentar lagi Mbak Mini akan melahirkan. Setelah diperiksa dan istirahat sebentar, sang dokter membantunya untuk melahirkan. Dan Alhamdulillah, ia dan bayinya selamat. Dan Mbak Mini melahirkan bayi laki-laki. Sehat, dan ganteng. Tidak lama kemudian, si tukang becak, dan juga suaminya itu, dengan tersipu-sipu malu merogoh kantongnya, seraya berucap: ma’af bu dokter, hanya ini uang saya. Selembar uang dua puluh ribu rupiah. Bu dokter berpikir sejenak. Uang dua puluh ribu rupiah tentu sangat tidak mencukupi untuk ongkos mudik ke Padang, pikirnya. Segera ia mengambil uang dua puluh ribu rupiah tersebut, dan memasukkannya di amplop. Lalu amplop tersebut ditambahkannya dengan uang seratus ribu rupiah, dan menyerahkannya kepada si tukang becak, sambil berucap: ini hadiah lebaran untuk si kecil!. Allah akbar, Allah akbar. Maha besar Allah yang telah mengatur segalanya sehingga saya masih bisa menolong kelahiran baru bagi si kecil tadi. Ini adalah sebuah keajaiban. Demikian kisah-kisah menarik mudik lebaran. Ada kisah sukses. Ada kisah inspiratif. Ada kisah lucu. Ada kisah pilu tentunya. Mudik sebagai pengejewantahan eksistensi diri. Sukses di rantau. Mereka akan berbagi cerita di kampung. Baik mereka yang sukses, atau mereka yang belum eksis juga tetap memiliki kerinduan akan kampung halaman. Ada masa-masa indah di kampung. Ada kearifan di sana. Tentu pemandangan kampung sangat berbeda dengan kota metropolis seperti Jakarta. Jakarta yang bising, hiruk-pikuk, penuh godaan. Kejamnya ibu tiri lebih kejam ibukota Jakarta. Sebaliknya, di desa, hidup sederhana, apa adanya, jujur, udara bersih, sawah ladang, air bersih, muka berseri-seri. Penduduknya hidup dengan tulus, bertutur kata yang sopan. Tutur katanya selaras dengan perangainya. Berbeda dengan orang kota yang hidup penuh dengan intrik. Sehingga kita sulit membedakan mana kawan, mana lawan. Hari ini sahabat, besok musuh bebuyutan. Demikian seterusnya. Ada juga yang berpendapat, bahwa dengan tradisi mudik sangat berdampak pada distribusi dan pemerataan hasil pembangunan. Selama ini sekitar 70% uang hanya beredar di Jakarta. Dengan mudik, uang dapat merata ke seantero nusantara. Sebab, para pemudik biasanya pulang kampung dengan buah tangan, mereka pulang tentu bukan dengan sepuluh jari. Tangan kosong. Mereka biasanya membawa ole-ole, baju baru, kacamata baru, hand phone baru, dan mungkin juga membawa makanan ringan khas daerah tempat rantau. Pendek kata, para pemudik telah melakukan distribusi keuangan secara merata. Hasil-hasil pembangunan juga dirasakan oleh banyak orang. Dan sangat boleh jadi, para pemudik yang sukses akan membawa handai taulan, sanak family yang tertarik bertarung hidup di kota-kota metropolis. Atau setidaknya bagi para tetangga di kampung dapat menjadi spirit untuk masa depan mereka. Mereka para pemudik itu tentu akan berbagi cerita sukses atau kisah-kisah inspiratif lainnya. Suasana lebaran, betul-betul mereka manfaatkan untuk berbagi dengan sanak keluarga di kampung. Dan dengan melihat penampilan mereka yang kece-kece dengan segala pernik-pernik dan asesoris yang melengket pada dirinya, mungkin juga dengan hand phone dengan aneka merek juga cukup menaruh perhatian bagi orang kampung. Mungkin juga dengan merek kendaraan yang mereka bawah. Entah itu milik sendiri, atau masih kendaraan dinas, atau mobil rental. Yang dulunya, sang pemudik itu, jangankan mobil mewah sepeda ontelpun mungkin sulit dimilikinya. Tentu dengan pemandangan demikian akan memberi pandangan lain bagi masyarakat kampung yang terbiasa dengan hidup dengan kesederhanaan, kebersahajaan. Entah itu positif, atau justeru sebaliknya. Tradisi mudik pasca lebaran Idul Fitri juga terjadi di Turki, China-muslim. Mereka juga memiliki kebiasaan ziarah ke makam para leluhur. Seperti halnya di Jawa ada tradisi “nyekar”. Menjelang memasuki bulan Ramadhan, orang Jawa pulang kampung untuk ziarah ke makam orang tua. Atau bagi mereka yang masih meiliki orang tua, mereka berkunjung dan menyatakan berbakti kepada kedua orang tuanya. Jadi, dalil syar’i secara eksplisit, tradisi mudik tidak ada. Tetapi substansi mudik yaitu birr al-walidain, berbakti kepada kedua orang tua dapat ditemukan dalam al-Qur’an (Q.S. al-Isra’(17): ayat 23-24): (23) Tuhanmu telah memutuskan, janganlah menyembah yang selain Ia. Berbuatlah baik kepada ibu bapakmu—jika salah seorang dari keduanya, atau keduanya mencapai usia tua padamu. Janganlah katakana kepada mereka, “Cis!” dan janganlah bentak mereka, Tapi berkatalah dengan kata-kata yang hormat kepada mereka. (24) Rendahkanlah hati terhadap keduanya karena kasih. Dan katakanlah, “Tuhanku! Kasisilah mereka (dengan kasih) Sebagaimana mereka mendidik aku semasa kecil. Berbakti kepada kedua orang tua inilah yang sangat penting. Ada banyak orang sukses karena senantiasa memelihara dan memupuk birr al-walidain. Sebaliknya, ada banyak orang sukses yang “terjatuh”, bahkan bangkrut, biasanya karena sudah melupakan “asal-muasalnya. Mereka sudah melupakan jasa-jasa orang yang telah berbuat baik kepadanya. Puasa ramadhan mengajarkan untuk meningkatkan silaturahim dengan sesama, handai tolan, sahabat karib, dan terutama kedua orang tua. Pada suatu hari, seorang pemuda menghadap kepada rasulullah Saw perihal ayahnya yang sering mencuri uangnya. Nabi berkata: tolong panggilkan ayahmu kemari. Datanglah pemuda tadi dengan ayahnya. Nabi bertanya, apa betul anda telah mengambil uang putramu. Jawab sang ayah, ya rasul: silahkan Tanya kepadanya, saya apakan uangnya, apakah saya berikan bibinya atau saya makan sendiri. Tanya Nabi, saya tidak mau membahas hal ini. Tapi, tolong sampaikan sesuatu yang terbersit dalam hatimu yang berbeda dengan ucapanmu tadi. Sang ayah membaca sebuah gubahan syair/ puisi yang telah dipersiapkannya untuk si buah hati ang tidak tahu diri, dan tidak tahu balas budi baik orang tuanya. Saat engkau lahir, aku memberimu makan Saat engkau beranjak besar, aku selalu setia menjagamu Engkau diberi minum atas jerih payahku Jika engkau sakit, di malam hari, mataku tak terpejam Aku tidak bisa tidur karena memikirkan sakitmu Hingga tubuhku limbung, sebab kantuk yang menyerang Seolah akulah yang sakit, bukan engkau Wahai anakku, aku meneteskan air mata, Jangan sampai engkau meninggal Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah ditakdirkan Saat engkau beranjak dewasa, saat di mana telah pantas aku menggantungkan Hidupku padamu. Kau balas kebaikan diriku dengan kekerasan demi kekerasan Seakan engkau adalah satu-satunya pemberi kebaikan kepadaku Andai saja, ketika itu aku tidak dapat melaksanakan kewajibanku sebagai ayah Kau perlakukan aku, tak ubahnya sebagai seorang yang hidup bertetangga. Setelah selesai membaca gubahan syair tersebut, rasulullah saw menghardik anak tadi dengan sabdanya: anta wa maluka li-abika ( engkau dan hartamu adalah milik ayahmu, Hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hadirin yang berbahagia, bagi yang masih memiliki orang tua, maka muliakanlah mereka, berikanlah pelayanan dan service yang prima kepada mereka, dengarkan keluhan dan harapan-harapannya. Jika ada kekeliruan, maka bersegeralah meminta dan memohon ridhonya. Bagi yang kedua orang tuanya, telah meninggal, maka mohonkanlah ampun dan do’a kepada keduanya, carilah sahabat karib kedua orang tua kita, mintalah nasehat dari kerabat orang tua kita, jalinlah silaturahim dengan mereka. Penuhi dna lanjutkan cita-cita kedua orang tua kita yang belum sempat diwujudkannya selama beliau masih hidup. Jama’ah Idul Fitri yang dirahmati Allah Mudik, kembali ke asal-muasal. Mudik memiliki makna spiritual yang lebih mendalam lagi. Sesungguhnya mudik itu bisa dimaknai sebagai proses perjalanan ke asal. Mudik mengingatkan kita, bahwa siapa pun kita, dan sudah seberapa jauh kita melangkah, dan sudah berapa benua yang telah kita jajaki, pasti pada akhirnya kita akan kembali ke asal. Itulah makna Inna li Allah, wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan suatu waktu nanti pasti akan kembali kehadirat-Nya. Suatu malam, A’isyah—isteri terkasih Nabi-- menghidupkan lampu (lilin). Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, dan memadamkan lampu (lilin) tersebut. Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama langsung berucap: Inna li Allah, wa inna ilaihi raji’un. A’isyah bertanya, bukankah kalimat tersebut hanya diucapkan pada saat ada yang kematian? Api tadinya dari tiada, kembali kepada tiada, jawab Nabi. Semoga tradisi mudik lebaran dapat memberi penyadaran baru kepada kita bahwa ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk kembali kepada Yang Abadi. Semoga Allah Swt tetap menuntun kita menjadi hamba yang selalu kembali ke jalan-Nya, dan menuai kehidupan sorgawi. Wa ja’alana wa iyyakum minal a’idin wa al-fa’izin. Taqabbal ya kariem. Marilah kita saling mema’afkan kesalahan dan kekhilafan masa lalu. Marilah kita membuka lembaran baru dalam kehidupan kita di dunia yang fana ini. Marilah kita menyongsong fajar kehidupan yang baru dengan kebeningan hati terbebas dari dosa dan noda. Amin. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Tidak ada komentar: