Gallery

Kamis, 02 Februari 2012

Membangun Tradisi Akademik



Membangun Tradisi Akademik[1]
Oleh: Muhammad Zain[2]



Al-kisah seorang ada pebisnis terkemuka, CEO ternama dan sangat sukses. Ketika beliau wafat, yang melayat banyak kalangan dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan ada egyptolog, ahli tentang Mesir, museum. Mereka ini tidak ada yang saling mengenal. Mereka heran, bertanya-tanya mengapa almarhum memiliki teman ahli museum Mesir.
Lalu para egyptolog juga bertanya-tanya mengapa ada pelayat dari latar belakang pebisnis? Diam-diam almarhum mengembangkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan keahliannya. Konon, Peter Drucker, disamping ahli manajemen nomor wahid di dunia, ia juga ahli kesenian Jepang.

Kisah di atas mengingatkan kita pentingnya membangun komunitas. Dewasa ini, kebutuhan untuk menambah pengetahuan akan semakin penting artinya. Banyak orang yang berkunjung ke dunia maya bukan untuk membeli barang elektronik kesukaannya, seperti radio tape, mobil, TV, dll. Tapi kebanyakan dari mereka berkunjung ke internet hanya untuk mencari informasi yang terkait dengan kebutuhannya untuk menambah pengetahuan[3].
Semangat untuk “berbagi” termasuk membagi tulisan, membagi pengetahuan kita semakin membutuhkan ter-connect dengan komunitas kita. Kita terhubung dengan komunitas akademik kita.
Dan dari menulis itu, kita akan dibayar dengan banyak rupiah atau dolar.
Berbagi informasi atau bertindak sebagai konsultan akan menambah wawasan.
Bagi seorang dosen, menulis dapat menambah point dan coin sekaligus.

Sekarang ini “ditengarai” terdapat beberapa ilmu-ilmu keislaman yang sudah mulai “tercecer” dan hampir punah. Seperti ilmu fara’idh, ilmu falak, fiqih mawaris, uslub (al-Qur’an), sudah tidak banyak lagi peminatnya.
Fiqih mawaris umpamanya, yang menggelutinya sekarang ini justeru David S. Powers. David S. Powers adalah dosen, professor Kajian  Arab dan Islam pada Cornell University Law School. Ia memperoleh M.A dan gelar Ph.D-nya dari Princeton University dalam bidang Sejarah Islam ( Islamic History) pada tahun 1979. Dan B.A-nya dari Yale University pada tahun 1973.

David S. Powers telah menulis dua buku yang penting terkait studi Islam, yakni: Studies in Qur’an and Hadith: The Formation of the Islamic Law of Inheritance, (University of California Oress, 1986); dan Muhammad is not the Father of any of Your Men, the Making of the Last Prophet ( 2009).

David. S.Powers pada mulanya tertarik pada pengalihan harta waris pada abad pertengahan Islam di Spanyol dan Afrika Utara, dan fatwa-fatwa tentangnya. Baru belakangan ia tertarik pada pewarisan Islam masa awal.

Meskipun dalam karyanya ini, Powers masih mendasarkan pikirannya pada tesis Joseph Schacht bahwa praktik hukum Islam formal belum dipraktikkan pada masa Nabi Saw dan masa sahabat melainkan hukum Islam didasarkan pada putusan hakim agama dari para gubernur pemerintahan Umayyah.

Lalu pertanyaannya kemudianm, bagaimana menumbuh-kembangkan budaya akademik di kampus? Dulu, Dr Jahja Umar, mantan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI sering menegaskan bahwa: saya melihat di kampus banyak civitas politika ketimbang civitas akademika. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi suksesi rektor atau dekan. Civitas akademika berbondong-bondong ke kampus. Bahkan para dosennya biasanya begadang semalam suntuk hanya untuk membicarakan strategi memenagkan calon yang diusungnya.
Fenomena seperti ini tidak terjadi pada budaya akademik. Para dosen hanya melaksanakan program pembelajaran yang standar saja. Sementara di negara-negara maju, setiap dosen dalam seminggu memiliki “office hours”(jam kerja) tiga sampai lima jam hanya untuk melayani dan membimbing mahasiswa. Biasanya dosen tertentu menuliskan secarik kertas di pintu kantornya yang di dalamnya tertulis mahasiwa mana yang telah dijadwal untuk melakukan bimbingan.
Prinsipnya, dosen harus memberikan bimbingan dan pelayanan yang penuh kepada mahasiswa.  Setiap dosen juga memiliki link dengan internet, sehingga memudahkan para mahasiswa untuk mengakses latar dan dasar pemikiran sang dosen, baik karya-karyanya dalam bentuk buku, artikel dan ataupun power point. Hal ini sangat memudahkan mahasiswa untuk mempelajari terlebih dahulu pokok-pokok pikiran sang dosen sebelum ia sendiri mengikuti perkuliahan di kelas.
 Seorang dosen mestinya tidak mencari “objekan” di luar kampus. Seorang dosen harus menyadari sepenuhnya bahwa pilihan menjadi pendidik memang harus hidup sederhana, dan tidak sampai kaya. Demikian pengakuan  Nico Kaptein salah seorang dosen di Leiden University, Belanda.

Tradisi akademik harus bertumbuh subur di kampus. Sudah barang tentu, ruh akademik di PTAI harus tumbuh dan “diracik” dengan ajaran suci agama. Seperti nilai-nilai kejujuran. Sebab, salah satu kunci sukses adalah menjaga dan memelihara integrity (kejujuran)[4].

Nilai-nilai utama Arab Pagan yang telah mendapat “peneguhan” al-Qur’an dapat menjadi inspirasi dan landasan moral bagi kita. Yakni: al-karim (kemurahan hati dalam berderma); al-syaja’ah (keberanian); al-hilm (sopan santun; murah hati); al-shidqu (kejujuran); al-wafa’ (kesetiaan; al-maufuna bi-‘ahdihim; setia dengan janji); dan al-shabru (kesabaran; ketabahan hati)[5].  
Tradisi akademik ini diharapkan akan melahirkan peserta didik yang memiliki kepercayaan yang tinggi (confidence of self). Success is about confidence, not about personal background, kata Michelle Obama.
Abraham Lincoln (1809-1865) adalah Presiden A.S ke-16 yang sangat percaya diri. Pada hari pertama beliau dilantik, beliau menyampaikan pidato di depan Senator AS. Lalu ia dikritik oleh salah seorang senator (kaya dan aristokrat), bahwa dia itu hanyalah anak seorang penjahit tukang sepatu keluarganya. Atas kritikan ini, Abraham Lincoln menjawab:

Sir, I Know that my Father used to make shoes for Your family,
And there will be many others here,
Because He made shoes the way nobody else can.
He was A Creator,
His shoes were not just shoes
He poured his whole soul into them.
I want to ask you,
Have any complaint?
Because I know how to make shoes myself.
If you have any complaint I can make you another pair of shoes.
But as far I know, nobody has ever complained about my father’s shoes.
He was a Genius,
A Great Creator.

Percaya diri adalah salah satu nilai yang dipercaya oleh para pakar sebagai pintu sukses. Rhenald Kasali mengisahkan suatu ketika seorang temannya sekitar 20 tahun yang lalu, di Boulder, Colorado. Teman Jepangnya ini mengajaknya untuk makan siang di suatu tempat kuliner yang sangat enak. Teman Jepangnya menyebut restoran tersebut dengan Makuto Naruto. Setelah mereka tiba di tempat tersebut, ternyata Mc Donald. Orang Jepang sulit menyebutkan kata yang huruf penutupnya bukan huruf hidup.
Selain itu, orang Jepang demikian juga Orang China, meskipun tidak memiliki kecakapan bahasa Inggeris yang memadai, tapi mereka terkenal sebagai bangsa yang senang berpetualang. Dulu, jauh sebelum mereka menjajah bangsa kita, kita sudah melihat orang Jepang masuk ke pelosok-pelosok desa memikul hasil pertanian. Mereka tidak memiliki kemampuan bahasa Indonesia, tapi sudah terjun untuk melihat dan mengamati langsung situasi masyarakat kita.
Demikian pula orang China, hampir seluruh wilayah di penjuru dunia ini pernah dikunjungi orang China. Meskipun mereka tidak memiliki kecakapan bahasa Inggeris dan bahasa tempat wilayah yang mereka kunjungi.
Oleh karena itu, sebetulnya kita membutuhkan tradisi akademik yang dapat mendorong mahasiswa kita untuk menjadi generasi yang gemar berpetualang. Marco Polo, contohnya. Marco Polo dikenal sebagai Explorer (penjelajah) dan sekaligus sebagai story-teller; pencerita yang piawai. Marco Polo meskipun tidak sempat ke pulau Jawa, apalagi ke wilayah Timur Indonesia, tapi sempat mendengar bahwa ada pulau yang paling ajaib di dunia yang menghasilkan lada, pala, kayumanis, laos, dan rempah-rempah lainnya, yang belakangan dikenal dengan Pulau Maluku[6]. Tapi catatan Marco Polo cukup meyakinkan orang Eropa. Belakangan muncullah nama Vasco da Gama yang tercatat menemukan India. Marco Polo memiliki “sense of PR/ Public Relation—menjual diri?--[7].
Dalam sejarah Islam juga terkenal nama Ibnu Battutah dengan kitabnya yang tersohor al-Rihlah[8]. Demikian juga nama Ibnu Khaldun, dengan kitab Muqaddimah[9]-nya terkenal sebagai seorang petualang dan pencerita yang piawai. Bahkan beliau dikenal sebagai Bapak Sosiologi Islam, bahkan ada yang berpendapat bahwa beliaulah yang meletakkan dasar-dasar sosiologi yang belakangan dikembangkan ilmuwan Barat.
Pertanyaan selanjutnya, apa kabar Islamic Studies?                                            
Suatu hari, kami mengundang K.H. Jalaluddin Rakhmat, tepatnya pada tanggal 17 Desember 2010 di Cisarua, Bogor. Topik yang dikaji adalah “Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum.
Pada acara tersebut, Kang Jalal mengurai beberapa hal yang cukup mengejutkan, yakni:
  1. Sekitar 20 tahun yang lalu mahasiswa ITB Bandung lebih senang belajar agama Buddha. Sebab, agama Buddha lebih mengajarkan kasih-sayang. Sedang proses pembelajaran agama lainnya kurang menarik, sehingga mahasiswanya lebih banyak mengantuk. Selain itu, para dosen agama Buddha biasanya dalam memberi nilai  murah. Agama Buddha mengajarkan teknik meditasi. Katholik bercerita tentang kasih. Dosen-dosen agama Islam bercerita tentang ritus-ritus.
 
  1. PTAI ditengarai sangat liberalis. Semua orang masuk sorga, kecuali orang-orang Islam.  Sementara kaum fundamentalis berkumpul di PTU. Kaum fundamentalis mengalami kemajuan di PTU. Cirinya adalah kesetiaan kepada teks yang umumnya diikuti secara harfiyah. Keinginannya untuk menjalankan ritus-ritus ajaran agama dalam praktik sehari-hari. Janggut , betapapun tidak suburnya tetap dipelihara. Mereka juga cenderung untuk menghakimi orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.

  1. Di UIN atau IAIN ada kelompok-kelompok atheis. Anak-anak muda NU—yang membangun Jaringan Islam Liberal--. Di Utan Kayu, Jakarta ada diskusi menggugat mukjizat Nabi. Mukjizat itu tidak ada, kata mereka ( JIL). Hadis-hadis tentang mukjizat dipabrikasi 200 tahun setelah wafatnya Nabi Saw.

Sementara itu, Karen Armstrong dalam dua buku terbarunya, yakni The Case for God: What Religion Really Means, (2009)[10], dan Twelve Steps to a Compassionate Life (2010) sepertinya merekomendasikan agama Buddha sebagai “agama pilihan” di masa depan. Agama masa depan adalah agama sunyi, dan hening. Agama yang penuh gegap gempita, apalagi yang gaduh bukanlah agama yang diminati menurut teori ini.
Elizabeth Gilbert:  Eat, Pray, Love: One Women’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia (2006), pada akhirnya ia juga memilih agama Buddha sebagai tambatan hatinya yang sedang galau.
Tiga buku berikut, meskipun kita tidak sepenuhnya setuju terhadap tesis yang diajukan, tapi perlu untuk menjadi bahan kajian.

         Stephen Hawking co-authored with Leonard Mlodinow, The Grand Design (Bantam Press, 2010), Tuhan telah pensiun.  
         Karl Marx, religion  is the opium of the people. Agama adalah candu masyarakat. Ada teori alienasi, keterasingan manusia dari pekerjaannya, masyarakatnya, dirinya sendiri.
         Richard Dawkins, The God Delusion, (what’s wrong with religion? Why be so hostile?.  

Pertanyaannya kemudian adalah di mana posisi Islam? Bagaimana nasib dan posisi agama-agama besar dunia dalam menjawab kegalauan dan nestapa manusia modern? Islam “diminati” sepanjang menampilkan sisi esoteriknya. Pandangan dan model Islam tasawuf akan lebih menggugah dan memberi penyadaran. Eksoterik Islam yang “kering” akan tidak banyak memberi solusi. Sehingga, buku-buku seperti Ihya’ “Ulum al-Din (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) karya Imam al-Ghazali; Hujjat Allah al-Balighah karya Syah Wali Allah al-Dihlawy; Farid al-Din al-Aththar, Tadzkirat al-Auliya’, Sa’di al-Syirozi, Gulistan, dll menarik sebagai “oase” di tengah “dahaga spiritual” manusia modern.     
    Suatu hari saya diundang oleh Lazuardi Birru ( sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsern mengkampanyekan deradikalisasi agama, Islam rahmatan li al-‘alamin. Judul yang diminta oleh panitia cukup provokatif. Yakni, Membahas Tafsir Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Jihad, Perang, Teror. Bagi saya, pada hakikatnya tidak ada hubungan antara al-Qur’an dengan terorisme. al-Qur’an itu suci dan sakral. Sedang terorisme itu adalah sesuatu yang profan, terkait dengan perilaku manusia. Sama halnya dengan “tafsir al-Qur’an” yang juga profan bersumber dengan pergumulan nalar dan pemikiran manusia dengan teks al-Qur’an. Mengenai Jihad dalam al-Qur’an, kita akan banyak menemukan terma tersebut. Hanya saja pertanyaan yang sampai kini masih hangat diperbincangkan adalah what is jihad?  Apakah jihad itu sama dengan “the holy war”? ( perang suci?). Apakah jihad berkait kelindan dengan aksi-aksi “terorisme”? Atau antara jihad dengan terorisme adalah dua entitas yang sangat berbeda?
Pada acara tersebut, saya juga bercerita mengenai kisah inspiratif Prof. Jeffry Lang. Ia adalah seorang profesor pada Departemen Matematika pada University of Kansas, AS. Ia pada awalnya adalah seorang penganut Kristen. Ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat. Suatu hari di hotel, ia mendengarkan azan yang sangat merdu yang menyebabkannya terpikat dengan ajaran Islam. Suara azan tersebut membuatnya bergetar. Dan setelah itu, ia mencari tahu bagaimana ajaran Islam itu. Ia dan keluarganya berkelana ke Saudi Arabiyah, negara tempat lahirnya Islam. Ia dan keluarga melaksanakan ibadah haji. Meskipun kecewa dengan perilaku kebanyakan umat Islam di sana, dan tidak sepenuhnya berkesesuaian dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi  Saw. Perjalanannya itu, ia abadikan dalam buku yang berjudul: Even Angels Ask: A Journey to Islam in America, 1997.[11]
 Suatu hari ia bertemu dengan seorang wanita di Swalayan. Wanita tersebut tidak diberi kesempatan untuk shalat berjama’ah di mesjid. Ia juga tidak habis pikir dengan adanya mutawwa’, polisi yang mengawasi gerak-gerik orang lain. Ini sangat menggelikan, pikirnya. Apakah memang di Arab, akhlak secara individual lebih dipentingkan ketimbang akhlak sosial atau etika secara universal? Seperti keadilan, kejujuran, responsibility, tanggung-jawab, kemaslahatan bersama, dll.
Hal yang menarik dari Jeffry Lang ini adalah:
(a)    Ia mengusung ber-Islam yang kritis. Ia banyak mempertanyakan doktrin-doktrin Islam dengan kritis. Islam yang kritis yang diusungnya bukannya melemahkan imannya tapi justeru memperkuat iman-islamnya.
(b)   Ia tetap mempertahankan Islam rahmatan li al-‘alamin. Islam itu adalah ajaran dan agama universal, bukan agama Arab. Tidak ada arabisasi, yang ada adalah islamisasi. Seperti terma Alhamdulillah, bukan diucapkan Alhamdulillah bagi komunitas Islam non-Arab, tapi tetap memakai  Thank’s God. Tentu pikiran seperti ini sangat kontras dengan kebiasaan sebagian dari kita yang sering melafalkan kalimat-kalimat islami, seperti Alhamdulillah, subhanallah, Allah akbar, masya Allah, Insya Allah, dst. Meskipun terkadang mereka ini bersikap eksklusif dalam pergaulan sehari-hari. Dalam artian, mereka berkeyakinan bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Dan dalam batas-batas tertentu hanya merekalah pemilik kebaikan dan kemuliaan. Dan sangat boleh jadi mereka mempermaklumkan diri sebagai calon penghuni sorga, sedang yang lain “belum tentu”.
(c)    Pijakan argumentasi Jeffry Lang adalah Q.S al-Baqarah (2): 31, ketika para malaikat mengajukan protes kepada Tuhan tentang akan diciptakannya makhluk baru, yaitu Adam a.s. Mengapa Tuhan akan menciptakan Adam, bukankah kami ini yang sejak penciptaan awal, kami selalu memuji-Mu, mensucikan-Mu, dan tidak pernah melanggar perintah-Mu? Dari sinilah, sehingga Prof Lang tambah mantap dengan iman-Islam.

Islam kritis bukan Islam Keturunan. Apakah selama ini kita sudah pernah bertanya terhadap Islam-iman kita? Apakah aqidah dan tauhid kita sudah benar? Apakah cara wudhu’ dan shalat kita sudah benar? Apakah tata cara bertutur kita sudah benar? Apakah cara kita mempergauli pasangan hidup kita sudah benar? Apakah cara kita mengendarai mobil dan motor sudah tepat? Apakah ketika kita tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas termasuk dosa sosial? Apakah membunyikan klakson mobil “semau gue” adalah perbuatan yang benar? Apakah cara baca (tajwid dan tartilnya) al-Qur’an kita benar? Apakah kita sudah bersyahadat dan memahaminya dengan benar? Apakah makna agama dalam kehidupan kita? Apa betul kita sudah beragama yang benar? Apakah kita sudah memosisikan agama sebagai way of life? Ataukah agama hanya sekedar lipstik belaka? Atau agama hanya sebagai “tameng” kalau sudah “berperkara” di pengadilan baru memakai simbol-simbol agama? Apakah kita beragama hanya sekedar “menggugurkan” kewajiban, ataukah sudah menjadi sebuah kebutuhan? Atau kita beragama karena kesadaran batin? Ataukah kita beragama karena ikut-ikutan?


Bagaimana posisi PTAI dan kajian Islam?  Ada ilmu-ilmu keislaman yang terancam   punah. Seperti Ilmu ‘Arudl; Fiqih Mawaris; Ilmu   Falak/Astronomi Islam; dan Ilmu Uslub al-Qur’an.
Perlu repositioning meminjam istilah Jack Trout & Al Ries.[12]Repositioning”  mengusung tiga konsep utama (3 C), yakni: Competition (Kompetisi); Change (Perubahan); dan Crisis (Krisis).  Perlu perhatian serius untuk penguatan prodi-prodi Agama. bagaimana “Jalan Keluarnya”?
  
  RETHINK: Memikirkan kembali market prodi agama ( PTAI).  
  REFOCUS: Menfokuskan kembali kebijakan “branding” (merek) sehingga dapat memenuhi (“memuaskan”) pelanggan (komunitas, jama’ah, umat).
  REASSESS: Mengevaluasi kembali kekuatan yang dimiliki PTAI (kajian keislaman) untuk kemajuan Kementerian Agama RI.
  REPOSITION: Memosisikan kembali identitas PTAI ( kajian keislaman).  
  RECLAIM: Merebut kembali keuntungan-keuntungan kompetitif Anda.
Dengan Repositioning, kita bisa menguasai “3C” dalam bisnis; Competition, Change, and Crisis.
Kita semua berkewajiban untuk “menggairahkan kajian Islam”. Ada yang berpendapat bahwa Islam yang kita warisi adalah sangat boleh jadi tidak seluruhnya “murni Islam”. Dr Yahya Muhammad berpendapat bahwa ada 95% atau lebih yang kita yakini sebagai ajaran islam, padahal itu bukanlah murni Islam. Selebihnya 5% yang murni ajaran Islam, bahkan kurang dari itu. Kita perlu kajian yang serius mengenai hal ini.
Terakhir, kita yakin bahwa Islam Indonesia memiliki kekhasan sendiri yang membedakannya dengan Islam Timur Tengah.  Tradisi mudik, beduk, kopiah, aneka bentuk arsitek rumah ibadah, dan lain-lain adalah kekhasan “Islam Indonesia”. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia, para pemikirlnya harus “tegak kepalanya” dengan bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi pemikir mandiri dan independen bukan selalu menunggu dan meminta fatwa dari ulama-ulama Timur Tengah.
Kita mestinya sudah memproduksi pemikiran Islam. Kita seharusnya sudah menjadi pemikir produktif, dan tidak lagi konsumtif. Tahun 1970-an sampai 1980-an kita menghabiskan banyak uang untuk pergi ke luar negeri untuk belajar. Sekarang mestinya orang lainlah yang belajar kepada kita. Kita harus menjadi lebih produktif dan menghasilkan karya-karya monumental.
Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Belanda mengirim calon-calon imam mereka untuk belajar ke Indonesia. Karena menurut keyakinan mereka, Islam Indoensia lebih pas dengan perkembangan masyarakat di Belanda. Ini hal yang sangat menarik. Pemerintah Belanda tidak mengirim para imamnya ke Timur Tengah, seperti Mesir, Sudan, Maroko, Syiria, Yordania, dll. Karakter Islam Indonesia menjadi penting di sini.
Ringkasnya, ada kebutuhan dunia terhadap corak pemikiran dan praktek keislaman di Indonesia. Ini tantangan intelektual muslim Indonesia untuk dapat bermain di tingkat dunia. Kontak-kontak intelektual di Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah harus segera dilakukan. Kita “menjual”. Kita harus memulainya dari sekarang.

Walhasil, tradisi akademik harus dibangun dan “dirajut” dengan penuh kesadaran serta dengan visi yang jelas. Tradisi akademik akan melahirkan sarjana yang percaya diri, hobby berpetualang dan sebagai pencerita yang handal. Dan semoga sukses.

Wa allah a’lam bi al-shawab. 
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.


                                                                                            Jakarta, 11-11-11 


[1] Catatan ini adalah sebagai kertas kerja dan belum layak disebar-luaskan.
[2] Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendis, Kemenag RI.
[3] Seorang dosen, harus terconnect dengan dunia maya. Internet, Google adalah perpustakaan raksasa yang dapat diakses mudah, murah, any time, any where dan oleh siapa saja.Meskipun Nicholas Carr mengingatkan bahwa internet dapat saja mendangkalkan cara berpikir kita. Membaca buku cetak lebih mudah dan lebih intuitif daripada buku dalam bentuk piksel di layar Komputer. Membaca buku cetak mendorong kita untuk lebih fokus dan dapat berpikir kreatif serta mendalam. Membaca buku di dunia maya akan terjadi yang sebaliknya, kita akan tergoda untuk mengklik informasi lainnya yang mungkin tidak terkait dengan bahan yang sedang kita baca. ( Nicholas Carr, The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains, 2010).
   Bill  Gates baru-baru ini menulis dalam sebuah pengantar buku yang berjudul: Total Recall. Gates menegaskan bahwa internet sekarang ini merupakan penyimpan data yang sangat aman, akurat dan memudahkan semua orang.
  Total recall, internet, google docs dapat membantu sebagai bank penyimpan data yang akurat terutama bagi seseorang yang mendekati umur tua akan semakin menurun daya ingatnya dan berkurang daya tangkapnya.

[4] Harian Kompas menurunkan rubrik: Kejujuran dalam Keluarga yang ditulis Agustine Dwiputri, seorang psikolog. Menurut Linda K Popov, dkk dalam buku: The Family Virtues Guide ( 1997), jujur adalah tampil tulus, terbuka, dapat dipercaya dan menyampaikan kebenaran. Orang jujur memiliki integritas. Kalau mengatakan sesuatu pasti tidak berbohong apalagi menipu. Kalau memuji pasti ia mangatakan senyatanya, bukan karena mau menginginkan sesuatu.
Untuk membentuk kejujuran dalam keluarga, ada beberapa kiat sebagai berikut:
(1) Cocokkan perkataan dengan tindakan. Jangan sekali-sekali membodohi anak, atau jangan biarkan seorang anak membodohi anda; (2) Janji harus ditepati. Buatlah janji yang dapat ditepati; (3) Akuilah kesalahan, jika orang tua sewaktu-waktu berbuat kekeliruan. Itu lebih baik. ((Kompas, Minggu, 7 Agustus 2011), h.18.
[5]Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an,edisi revisi dari karya sebelumnya dengan  judul: The Structure of the Ethical Terms in the Koran, 1959.   

[6] M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, (Jakarta: Gramedia: 2010;  Toeti Heraty, Rainha Boki Raja Ratu Ternate Abad Keenambelas,  Jakarta: Komunitas Bambu, 2011—raja-raja ternate banyak “mati diracun”. Rempah-rempah untuk mummy dan kebutuhan kesehatan seksualitas para raja di Eropa.
[7] Anthony Reid, Witnesses to Sumatra. A Travelers Anthology, New York: Oxford University Press, 1995 dan Wimar Witoelar, Still More About Nothing, 2011.
[8]Karya Ibnu Battutah sudah dielaborasi dengan sangat baik oleh Ross-e. Dunn, The Adventures of Ibn Battutah, a Muslim Traveler of the 14th century, 1986, University of California Press—sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul: Petualangan Ibnu Battutah, Seorang Musafir Muslim abad 14, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.

[9] Abd Rahman ibn Muhammad al-Khadramy (Ibn Khaldun w. 808 H), Ta>ri>kh ibn Khaldu>n yang judul aslinya: Kita>b al-‘Ibar wa Di>wa>n al-Mubtada’ wa al-Khabr fi> Ayya>m al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘As}rahum min Dhawy> al-Sult}a>n al-Akbar, (Beirut: Mu’assasah Jammal li al-Taba’ah wa al-Nasyar, 1979 M.

[10] Pertanyaan yang diajukannya, antara lain: Does God have a future in this age of aggressive scientific rationalism?; Why has the modern God become incredible?; Surely everybody knows what God is: the supreme being, a Divine Personality, who created the world and everything in it…..
 

         [11] Jeffry Lang sudah menulis beberapa buku lainnya, yakni: (a) Struggling to Surrender, 1994, Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Suharyono dengan judul: Berjuang untuk Berserah Pergulatan Sang Professor Menemukan Iman, Serambi, 2008, dan (b) Losing My Religion: A Call for Help, 2004. Buku ini juga telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agung Prihantoro dengan judul: Aku Menggugat, maka Aku Kian Beriman, Serambi, 2008.
[12]Tiga puluh tahun yang lalu, Jack Trout & Al Ries menulis Positioning: The Battle For Your Mind. Sejak itu buku tersebut diposisikan sebagai salah satu dari 100 buku bisnis yang terbaik sepanjang masa.

2 komentar:

sanad th khusus mengatakan...

nice blog ustaz... kalau boleh kami minta tulisan2 ustaz untuk di masukkan di blog sederhana kami mahasiswa tafsir hadis program khusus UIN Alauddin Makassar.

www.sanadthkhusus.blogspot.com

aji purnomo mengatakan...

Menarik Untuk di baca dan diimplementasikan