Gallery

Selasa, 14 Februari 2012

Prof Qodri Azizy dalam Kenangan


Guruku Sayang, Prof A. Qodri Azizy

Perkenalan Awal
Untuk pertama kali, saya mengenal Prof. Qodri pada tahun 1997. Ketika itu, beliau sebagai pengampu mata kuliah Quranic Studies pada program pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.  Sebagai alumni pesantren dan juga alumni Cichago University, U.S.A, beliau selalu mengemukakan pentingnya critical analysis bagi mahasiswa pasca sarjana. Dalam membuat paper beliau mengharuskan setiap mahasiswanya untuk menulis “kritik” pada akhir papernya.
Saya termasuk lama dan merasa sangat dekat dengan Prof. Qodri.  Pada waktu kuliah saya sudah masuk semester akhir program S2, Prof. Qodri sudah mengikutkan saya sebagai participant (mustami’) pada mata kualiah Quranic Studies yang beliau ampu pada Program Doktor. Beliau memperlakukan saya sebagaimana layaknya mahasiswa S-3.  Saya diberi kesempatan untuk merespon, menanggapi, dan sesekali mengkritik paper yang dipresentasikan mahasiswa kelas doktor tersebut.
Saya merasa mendapat perhatian khusus Pak Qodri.  Beliau sangat boleh jadi sedang mendidik, menempa, dan mungkin juga mengkader saya. Pada program doktor tersebut, saya mengikuti lagi kuliah-kuliah beliau.
Suatu ketika pada saat penerimaan CPNS dosen, beliau mengajak saya untuk bergabung di IAIN Walisongo Semarang. Sebagai murid saya dengan halus mengatakan bahwa saya akan memilih untuk kembali kampung, yakni ke UIN Alauddin Makassar.
Setelah itu, saya lama tidak ketemu beliau. Suatu ketika Prof. Qodri mendampingi Pak Menteri Agama RI yang waktu itu dijabat oleh Prof. Dr. Aqil Husin Al Munawwar untuk pelantikan Prof. Dr. Azhar Arsyad, MA sebagai rektor UIN Alauddin Makassar.
Pada acara pelantikan Rektor selesai di Aula Gubernur Sulawesi Selatan seluruh undangan dan civitas akademika UIN Alauddin Makassar dipersilakan untuk berjabat tangan dengan rombongan Menteri Agama RI. Pada saat itulah, Prof. Qodri mengajak saya untuk berbincang ringan di sudut ruangan VIP Aula Gubernuran. Beliau bercerita mengenai dua bukunya yang baru saja diterbitkan. Yakni: (a) Melawan Globalisasi, Reinterpretasi Ajaran Islam, Pustaka Pelajar, 2004; dan (b) Hukum Nasional: Eklektisisme Hukum Islam dan Hukum Umum, 2004.[1]
Sambil menikmati makanan khas Makassar seperti Barongko, Kue Lapisi', Prof. Qodri melanjutkan bincang-bincang ringannya, seperti menanyakan aktifitas dan kegiatan akademik saya. Saya menjawab bahwa saya hanya melaksanakan tugas rutin sebagai dosen biasa di UIN Alauddin Makassar. Rutinitas lain adalah sedang mengajukan usul pendirian Alauddin Press.
Selanjutnya, karena banyak pejabat lain yang menunggu giliran untuk bertemu pak Qodri, maka saya menarik diri dan mempersilakan para pejabat untuk menghadap beliau. Yang saya ingat waktu itu adalah Prof. Dr. Hj. Andi Rosdiana (mantan Dirjen Kelembagaan Agama Islam dan juga mantan Rektor UIN Alauddin Makassar), Prof. Dr. K.H Sahabuddin sebagai wakil Kopertais Wil. VIII.  Sebelum berpisah, saya diberi kartu nama berikut nomor hand phone Prof Qodri sambil berucap: "kalau ada apa-apa, bisa kontak saya ke nomor ini". Saya juga memberi tahu  nomor hand phone jadul (nokia 330) saya kepada beliau.
Dari situlah komunikasi saya dengan beliau kembali terajut. Sekali waktu saya ke Jakarta untuk mengurus sesuatu dan saya menyempatkan ketemu dengan beliau di kantor Departemen Agama RI, Jl Lapangan Banteng Barat, no. 3-4, lantai 7.  Umpamanya pada tahun 2004 saya mengajukan usul agar diikutkan pada Sandwich Program ke Timur Tengah. Saya meminta beliau agar saya diberi kesempatan melakukan riset perpustakaan di Mesir dan Iskandaria untuk menyempurnakan atau pengayaan disertasi yang sedang saya tulis, yakni Antropologi Sahabat. Waktu itu beliau meminta saya untuk melengkapi proposal atau syarat-syaratnya dan menemui Pak Affandi Mukhtar ( waktu itu sebagai Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama),  setelah itu saya balik ke Makassar.
Tidak lama kemudian saya ditelpon oleh ibu Rahmawati salah seorang staff Subdit Kelembagaan dan Kerjasama agar segera membuat passport  hijau untuk melengkapi berkas keberangkatan ke Mesir.
Saya segera melengkapi persyaratan berkas yang dimaksud dan menfax ulang lagi ke nomor fax Ditpertais berdasarkan telpon ibu Rahmawati.
Singkat cerita berangkatlah saya ke Mesir bersama Prof. Dr. Imron Abdullah, (almarhum) Ketua STAIN Cirebon  (waktu itu) dan KH. Malik Madani, Dekan Fak. Syariah UIN Suka Jogjakarta ( waktu itu). Setelah selesai dari Mesir, kami bertiga menghadap ke pak Qodri.
Berselang beberapa waktu kemudian, sekitar pukul 20.00 malam, (WIT) Hp saya berdering, dan ternyata Prof Qodri yang menelpon. Dalam pembicaraannya, beliau mengajak saya bergabung ke Jakarta. Saya gembira mendengarkan kabar tersebut.

Pemikir Reformis
Pada akhir juli 2003, saya mendapatkan kesempatan untuk bertindak sebagai editor buku Prof Qodri dengan judul: Reformasi Bermazhab. Pada akhir pengantar editor, saya memberi catatan sebagai berikut:

Buku ini dari segi jumlah halamannya bukanlah buku tebal. Tapi semoga saja buku kecil ini berdampak besar. Dalam sejarahnya, banyak ditemukan buku-buku kecil tapi sangat berpengaruh di dunia Islam. Kitab al-Munqidz min al-Dalal (penyelamat dari kesesatan) karya Imam al-Gazali (w. 505/1111),  masih berpengaruh di dunia Islam hingga sekarang. Demikian halnya dengan kitab Fashl al-maqal bain al-hikmah wa al-syari’ah min al-ittishal, karya Ibnu Rusyd. Kitab hadis al-arba’in dan al-taqrib. Keduanya karya Imam al-Nawawi juga masih dikaji sampai sekarang. Kita berharap semoga karya Bapak A. Qodri Azizy ini dapat memiliki “gaung” meskipun ukurannya bukanlah buku tebal.

Penulis buku ini juga merekomendasikan  bahwa ijmak ulama sekalipun dapat saja “ditolak” jika telah ditemukan ijmak yang sesuai dengan kehidupan kemoderenan kita. Patut dicatat bahwa ketika fatwa dan ijmak ulama telah “mengideologi”, maka buahnya hanyalah kejumudan.

Sekali lagi, meskipun bermazhab tidak identik dengan taqlid buta, tapi perlu reformasi dalam bermazhab dan berijtihad. Bukankah baginda Nabi Saw adalah mujtahid par excellence?.
Pribadi Berkarakter
Untuk menyebut beberapa kepribadian Prof Qodri, sebagai berikut:
1.      Perhatian sepenuh hati
Sebelum saya bergabung ke Departemen Agama RI, saya bekerja serabutan di Penerbit Teraju—cabang Penerbit Mizan Bandung--. Saya mengedit naskah-naskah yang sesuai dengan kapasitas saya. Adalah Drs Muhammad Shaleh Mude yang melempangkan jalan ke Teraju. Saya kos-kosan di Jl. Murtadho, Matraman, Jakarta. Sambil menekuni dunia penerbit, saya bolak-balik ke Makassar. Profesi sebagai dosen UIN Alauddin Makassar tetap saya jalankan.
Suatu hari, saya dipanggil Prof Qodri untuk bergabung ke Imposdev, Jl. Imam Bonjol, Jakarta. Saya menekuni lagi dunia editing. Beberapa buku yang sudah diterbitkan. Setiap hari saya ke jalan Imam Bonjol. Suatu malam, saya diajak makan malam di rumah dinas Direktur Jenderal Kelembagaan Islam, jalan Indramayu, nomor 14, Jakarta. Makan malam bertiga dengan Dr. H. Firdaus Nurul Huda. Setelah selesai makan malam, saya diajak diskusi serius dengan beliau. Di antara petuah beliau yang saya ingat antara lain:
a)      Kalau sudah hijrah ke Jakarta harus bermental Jakarta. Kita tidak boleh lagi bermental kampung. Kita harus bertarung di Ibu Kota.
b)      Jaga integritas. Kejujuran itu modal utama.
c)      Jaga dan pelihara silaturahim dengan kawan-kawan lama.
d)     Tegas dalam bersikap. Kalau cocok, katakan ya!. Kalau tidak sesuai dengan kemampuan, katakan tidak!.
        Setelah mendapat nasehat demikian, saya berpikir apakah saya tetap bergabung di Jakarta,ataukah saya lebih baik “balik kanan” hengkang dari Jakarta, pulang ke Makassar. Tapi tidak lama kemudian, Prof Qodri mengajak saya bergabung ke Departemen Agama RI.
Saya lebih awal mengajukan mutasi ke UIN Jakarta. Kemudian mengajar pada Fakultas Agama dan Filsafat. Setelah itu, saya dilantik sebagai Kepala Seksi Pengembangan Akademik Dosen pada Subdit Ketenagaan Ditpertais. Prof Arief Furqon sebagai direkturnya.
2.      Sangat teliti 
     
Berdasarkan penuturan Ibu Hj St Hajar, isteri Prof Qodri, bahwa salah satu tipe Prof Qodri adalah sangat teliti dalam meletakkan alat-tulis menulisnya di meja belajar beliau. Pensil, pulpen, karet penghapus diletakkan pada tempat yang pas, sehingga kalau benda-benda tersebut dibutuhkan, maka dengan mudah dapat mengambilnya tanpa perlu waktu lama. Bahkan untuk menjangkaunya tidak butuh konsentrasi khusus.
3.      Suka humor. Beliau terkadang melemparkan joke-joke ringan ketika sedang menghadapi persoalan-persoalan pelik ( ketika ada surat Dirjen Pendis ke Irjen Depag, apa Anda menyuruh saya untuk melihat cewek cantik?).
4.      Menjaga Integritas. Beliau menulis buku: Membangun Integritas, 2004.
5.       Menepati janji. Ketika saya sudah mendapatkan amanah sebagai Kepala Subdit Ketenagaan, beliau suatu hari berkata: Mas Zain, saya sudah menepati janji saya kan? Beliau berusaha untuk mewujudkan semua apa yang telah diucapkannya kepada seseorang. Kalau lagi sulit, bisanya beliau tetap berusaha untuk menepati janjinya meskipun waktunya yang agak mundur. 
6.      Sosok cerdas, brilian. Menulis cepat tanpa konsep. Suatu hari saya diajak untuk masuk ke kamar pribadi beliau. Beliau lagi menulis daftar isi sebuah buku yang sedang dirancangnya. Saya bertanya: berapa lama Bapak bisa menyelesaikan tulisan ini? Beliau berkelakar, sekiranya saya punya waktu dua minggu saja, maka saya dapat menyelesaikannya. Sudah banyak yang terpikirkan, tapi masih sulit waktu untuk menuliskannya.   
7.      Sangat hormat sama guru.
Dari penuturan Ibu St Hajar, beliau kalau kebetulan pulang ke Semarang, Prof Qodri tetap menyempatkan waktu untuk mencari guru-guru SD-nya. Mereka kebanyakan sudah pensiun. Lalu isterinya diberi kesempatan untuk memberi apa yang layak bagi guru-gurunya. Beliau sangat hormat pada guru-gurunya. Beliau terkadang berucap, kalau bukan karena jasa mereka, saya tidak mungkin seperti ini sekarang. Sudah barang tentu, guru-gurunya tersebut sangat bahagia kedatangan murid istimewa ini. Ada cerita, dulu waktu beliau di Pesantren Futuhiyah Mranggen, termasuk murid yang suka tidur. Tapi sangat tekun dalam mempelajari pelajaran yang didapatkannya di kelas.
8.      Awal pada Sebuah “akhir”.
Ketika beliau sudah masuk rumah sakit. Saya dengan kawan-kawan lainnya sering berkunjung ke beliau, baik ke rumah beliau di Pasar Minggu, ataupun ketika beliau sedang control di rumah sakit di Petamburan. Rumah sakitnya sederhana, tidak mencerminkan kemewahan seorang mantan dirjen, irjen dan sekretaris Kemensos. Ada juga murid beliau dari Semarang yang setia menunggu pak Qodri pada malam hari. Saya diskusi ringan dengan beliau. Sesekali beliau menanyakan kabar karier kami, keluarga dan kawan-kawan lainnya. Biasanya beliau bertanya mengenai kabar pak Dr Affandi Mochtar.
9.      Prof Qodri dalam kenangan.
Sewaktu beliau dilantik sebagai sekretaris Kemensos, beliau di ruang tamu berseloroh: apa Anda mau ikut saya ke sini? Tapi apa kata dunia kalau ada seorang doktor cum laude yang menjabat sebagai kepala seksi? Saya ikut dalam mobil beliau sewaktu dilantik sebagai sekretaris kemensos.
Untuk mengenang Prof Qodri—tentu dengan seizin beliau--, putera saya yang kedua diberi nama Athique Qodri Fauzy. Semoga putera kecilku dapat belajar dan meneladani beliau. Amin.

Wa Allah a’lam bi al-shawab



[1] Pada malam hari setelah pertemuan tersebut, saya langsung ke Gramedia untuk mencari buku yang dimaksud. Dan saya menemukannya. Saya membacanya, kemudian mengirimkan catatan-catatan singkat lewat sms kepada beliau.

4 komentar:

Unknown mengatakan...

terimakasih untuk tulisan ini..
saya sangat tertarik dengan sosok beliau..
bisakah saya mendapat tulisan-tulisan beliau?

Muhammad Zain mengatakan...

Terima kasih atas komentarnya. Insya Allah, tgl 6 nopember 2012, bertempat di Surabaya buku Prof Qodri akan dilaunching dengan judul: Meneladani Jejak Intelektual-Birokrat yg ditulis oleh Mas Rauf dan Mas Doni. Saya membutuhkan alamat Anda untuk kepentingan pengiriman buku-buku Prof Qodri. Semoga manfaat. Salam

hiez_bi mengatakan...

sebagai mahasiswa perbandingan madzhab dan hukum saya tertarik dengan buku beliau "reformasi bermazhab",
terimakasih pak atas ilmu yang diberikan lewat buku itu.
kalo boleh saya minta daftar buku beliau yang berkaitan dengan studi saya di perbandingan madzhab dan hukum ini.. terimakasih

siti rahmawati mengatakan...

Asslamualaikum,,,mohon maaf saya numpang nanya
Prof Qadry dikenal pencetus teori interdependensi hukum
saya lagi mencari buku beliau yang didalamnya mengenai teori2 itu tapi belum ketemu apakah bisa mendapatkan jalan untuk menemukan penjelasan teori tersebut ? terimakasih