Gallery

Kamis, 02 Februari 2012

Prof Imam Suprayogo


The Extraordinary Rector[1]
Oleh: Muhammad Zain[2]

Suatu hari, saya berkunjung ke UIN Maliki Malang. Setelah shalat dzuhur di kampus, saya diajak Prof Imam Suprayogo untuk melihat lokasi kampus II. Lokasinya tidak jauh dari kampus yang sekarang. Lokasi kampus II tersebut sekitar 100 hektar. Konon,  pemilik tanahnya sekitar 450 orang. Lokasinya sangat strategis dan sudah ditanami kopi, tebu, dan pohon sengon.
Ada juga beberapa sapi yang sedang proses penggemukan. Dari ketinggian lokasi tersebut, kita memandang kota Malang sepertinya kita sedang menikmati pemandangan kota Marakesy, Maroko. Setelah itu, kami diajak berkeliling lagi melihat pembangunan gedung perkuliahan Program Pascasarjana UIN Maliki Malang yang pembangunannya sudah selesai sekitar 35%.     
Cerita singkat di atas adalah satu di antara sekian banyak kisah atau tesmoni yang menggambarkan sosok Prof. Imam Suprayogo sebagai seorang penggebrak. Ia memiliki talenta sebagai “leverage”; seorang pengungkit. Beliau dikenal sebagai  seorang yang sangat berpengaruh. Bahkan sangat boleh jadi beliau bisa dijuluki sebagai “entrepreneur sejati”. Menurut Pak Dr (HC) Ir. Ciputra, ciri seorang innovative entrepreneur ada tiga. Yakni: (a) opportunity creator ( pencipta peluang)—berani berpikir out of the box; (b) innovator (innovator); (c) calculated risk taker ( pengambil resiko terukur). Entrepreneur adalah mereka memiliki kreativitas dan mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.[3] Saya kira Prof. Imam memiliki tiga karakter ini. Coba kita bayangkan, di lingkungan Kementerian Agama RI, Universitas Islam Negeri Maliki Malang, dulunya hanyalah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Itupun, dulunya hanyalah sebagai filial IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh Prof Imam, STAIN Malang yang kecil dan tidak dikenal itu disulap menjadi Universitas Islam Negeri. Ini sebuah lompatan yang luar biasa, yang sepanjang pengetahuan saya belum ada perguruan tinggi yang bisa mengikutinya.  
Prof Imam—demikian kami menyapa beliau—adalah seorang yang berani bermimpi, dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Beliau dapat menciptakan masa depan. Karena tak seorangpun yang dapat memprediksi masa depan. Kata orang bijak, masa depan adalah zona yang paling nyaman untuk bermimpi.
Kampus adalah zona nyaman untuk menciptakan dan mambangun karakter bangsa. Di UIN Malang memiliki kekhasan tersendiri. Kalau kita berjalan-jalan mengitari kampus, maka kita dihadapkan dengan fenomena yang sangat menarik. Yakni hampir seluruh civitas akademikanya bersikap layaknya seorang santri. Duduk atau berdiri seraya membungkukkan badan pertanda penghormatan kepada dosen atau pimpinan perguruan tinggi. Baik itu satpam, atau para mahasiswanya. Semuanya memiliki sikap yang sama. Pemandangan seperti ini tentu kita sudah sulit ditemukan di kampus-kampus yang lain. Bahkan ada yang berjabat tangan sambil cium tangan sebagai tanda penghormatan kepada guru atau dosen. Sikap mereka reflektif. Memang UIN Maliki malang terkenal dengan kampus Universitas Islam yang kental dengan suasana santri.
Suasana santri ini didukung oleh berdirinya Ma’had ‘Aly Sunan Ampel. Di sana tempat yang subur untuk menggembleng mahasiswa layaknya santri di pondok pesantren. Semua mahasiswa baru harus mengikuti program Ma’had ‘Aly yang dibimbing oleh Kyai, ustaz/ustazah, musyrif/musyrifah. Mereka hidup dengan disiplin tinggi dengan peraturan Ma’had. Ada jam-jam tertentu untuk bertamu. Ada pemisahan antara blok mahasiswa dengan blok mahasiswi. Mahasiswa harus mengikuti shalat tahajjud, do’a bersama, sema’an al-Qur’an, dan lain-lain. Mereka juga difasilitasi dengan wi-fi, sehingga setiap mahasiswa dapat mengakses informasi dari dunia maya. Mungkin karena program Ma’had ‘Aly inilah sehingga mutu lulusan UIN Maliki Malang sangat prestisius. Ada alumni Program Studi Kimia lulus dengan predikat cum laude, dan hafal al-Qur’an 30 juz. Ada lagi mahasiswa yang menulis skripsi dengan 7 bahasa resmi dunia. Dan sejumlah prestasi akademik lainnya yang mencengangkan.
Prof  Imam Suprayogo, orangnya hangat. Kalau beliau kebetulan ke kantor Kementerian Agama RI tentu dengan sejumlah agenda untuk bertemu dengan para petinggi kementerian. Beliau selalu saja “bergerilya” untuk memasuki semua Subdit di Direktorat Pendidikan Tinggi untuk menyalami pegawainya satu per-satu. Ini wujud kerendahan hati seorang pejabat. Beliau juga dengan sangat bersemangat membawa sejumlah proposal dan atau master plan pembangunan kampus UIN Maliki Malang. Proposal tebal dan berat itu, dibawanya ke mana-mana. Beliau biasanya dengan sangat bersemangat menjelaskan isi dan visi proposal tersebut. Tentu dengan orang yang tepat, nyambung, dan dapat memehami visi beliau.
Kalau saya bertemu, beliau biasa menyapa saya dengan gelar: “Bapak Kepala”. Sambil menambahi kalimat; “sampean ini orangnya kecil tapi otaknya besar seperti pak JK ( Jusuf Kalla)”.
Beliau juga kalau mengkritik seseorang tanpa tedeng aling-aling. Bisa dengan memuji seseorang setinggi langit, tapi pada saat yang sama orang tersebut dapat “diterobos” dengan kritiknya yang sangat tajam. Sepertinya langit mau runtuh saja, kalau dikritik oleh Prof. Imam. Meskipun demikian, orang yang mendapat kritik tidak tersinggung. Mungkin karena beliau menyampaikan kritik dengan ketulusan hati beliau.
Saya ingat Noam Chomsky. Ia adalah seorang professor bidang filsafat bahasa dan etika yang sangat disegani. Bahkan ia dijuluki sebagai filosof abad ke- 21. Kalau Noam Chomsky bicara dalam sebuah seminar, orang berjubel dan sangat antusias untuk mendengarkannya. Ada seorang wartawan yang bertanya, mengapa kata-kata Noam Chomsky begitu ditunggu-tunggu dan menginspirasi jutaan penduduk dunia. Dengan enteng, ia menjawab: karena saya mengatakan sesuatu yang dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Ia mengatakan apa adanya[4].
Prof Imam Suprayogo—demikianlah karakternya. Mengatakan apa yang dipikirkannya. Dan melaksanakan apa yang telah dan sedang digagasnya. Ia memiliki kecerdasan mengeksekusi sesuatu sebagaimana digagas oleh Steven M.R. Covey dalam bukunya  The Speed of Trust,the One Thing That Changes Everything,  (2006).
Saya baru mengenal sosok Prof Imam Suprayogo dengan sosoknya yang utuh pada buku Imam al-Jami’ah Narasi Indah Perjalanan Hidup & Pemikiran Prof. Dr. H. Imam Suprayogo yang ditulis H.R. Taufiqurrohman ( 2010). Sosok Prof Imam yang humanis rupanya diwarisi dari orang tuanya, seorang Kyai kampung. Orang tuanya yang dapat mempekerjakan orang gila untuk mengusir burung pipit dari padi yang sedang menguning. Betapa dahsyatnya dan menggetarkan kisah beliau ini. Orang gila saja masih dapat diajaknya untuk bekerja. Saya termenung, betapa hebatnya Professor yang satu ini. Saya terkadang tertegun sendiri kalau mendengar atau membaca seorang seorang pemimpin yang terpaksa memecat bawahannya.
Bagi Prof Imam, orang gilapun masih manfaat baginya. Luar biasa. Sudah banyak buku dan literatur yang dibaca, rasanya baru kali ini saya mendapatkan kisah nyata yang begitu menghentak.
Beliau tidak pernah mengambil tunjangan jabatan rektornya selama beliau menjadi pimpinan di UIN Maliki Malang. Beliau sudah menjabat empat periode. Ini sesuatu tidak lazim di era sekarang.
Beliau juga sudah berkali-kali mendapat hadiah atau penghargaan MURI, di antaranya karena menulis artikel setiap shubuh hari selama 3 tahun berturut-turut tanpa henti. Kalau tidak keliru keseluruhan jumlah artikel yang sudah ditulisnya sebanyak 4.076. Hal seperti ini juga tidak lazim, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki energi yang melimpah. Rutinitas seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang mengerti “kehidupan”. Prof Imam memang seorang “The Extraordinary Rector”. Prof Imam adalah seorang yang luar biasa.
Selamat berulang tahun yang ke-60. Semoga Allah Swt memberkahi hidup dan kehidupan Prof Imam Suprayogo dan keluarga. Sekali lagi, selamat dan sukses untuk The Extraordinary Rector. Amin.    

Jakarta,  Desember 2011

Mz



[1] Tulisan ini dimaksudkan sebagai bentuk kesyukuran tiada akhir untuk peringatan 60 tahun bagi Prof Dr. H. Imam Suprayogo.
[2]Adalah Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik, DIKTIS, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI.
[3]Dr. (HC) Ir. Ciputra, Antonius Tanan, Agung Waluyo, Ciputra Quantum Leap 2 Kenapa & Bagaimana? Entrepreneuship Mengubah Masa Depan Bangsa dan Masa Depan Anda, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2011), 55-56.
[4]Justiani ( Liem Siok Lan) “Kata Pengantar”, dalam David Barsamian dan Liem Siok Land, Menembus Batas (Beyond Boundaries) Damai untuk Semesta (Jakarta: Yayasan Obor, 2008).

3 komentar:

Hajah Musyarrafah mengatakan...

subhanallah.. semoga masih banyak pemimpin seperti beliau.. cerita ini sangat menginspirasi saya untuk menjadi lebih baik dalam berbuat.. terima kasih pak Zain.. :)

Muhammad Zain mengatakan...

Semoga kita menjadi bagian dari anak bangsa yang dapat berbuat lebih banyak agar bangsa ini dapat "tumbuh" menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Salam

Obat Rambut Botak mengatakan...

masyaallah.. artikel ini menjadi inspirasi buat saya untuk menjadi lebih baik dalam berbuat.