Gallery

Senin, 25 Februari 2013

Makrifat Cinta

Saya baru saja membaca buku karya Candra Malik--sufi dan budayawan-- dengan judul: Makrifat Cinta (2012). Buku ini diberi kata pengantar oleh dua orang pakar, Prof. Dr. Damardjati Supadjar dan Dr. Haidar Baqir. Oleh Goenawan Mohamad diberi catatan: "Menngembirkan bahwa karya Candra Malik ini terbit. Ini merupakan buku pertama bahasa Indonesia dalam percakapan Sufi untuk pembaca yang lebih luas". Ulil Abshar Abdala menulis: "Inilah otobiografi "spiritual" yang menghidupkan corak keberagamaaan berdasarkan dua kata kunci: makrifat dan cinta. Ia memulainya dengan Syahadat cinta, sebuah interpretasi misitis". Prof. Ahmad Syafi'i Ma'arif menulis pujian untuk buku ini:" Doktrin sufisme bukan saja untuk mengungkap kebenaran, tetapi sekaligus untuk meraih kebahagiaan. Karya Bung Candra Malik ini semoga memperkaya wawasan spiritual dalam mendekati "Yang Ada" sebagai sebuah keharusan metafisika". Romo Moedji Soetrisno menulis pujiannya juga: " Candra Malik menulis oase religiusitas untuk mencintai, merawat, dan memuliakan kehidupan. Sangat bermanfaat untuk zaman yang kering makna hidup seperti sekarang". Sujiwo Tejo, budayawan juga menulis: " Buku Gus Candra Malik ini sebaiknya dibaca oleh orang yang sedang dilanda Cinta. sedang mengalami. Bukan sekedar sedang membayangkan apalagi cuma sedang berpikir-pikir tentang cinta". Buku ini ditulis oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang sufi. Bukankah ada pameo yang mengatakan bahwa la ya'rifu al-shufi illa al-shufi. Seseorang tidak mengetahui kadar kesufian seseorang kecuali yang bersangkutan itu adalah seorang sufi juga. Penulis buku yang kata pengantarnya oleh Dr Haidar Baqir ini adalah mantan wartawan beberapa koran. Yang bersangkutan juga sudah hampir dua puluh tahun menjalani tirakat dan berguru kepada beberapa orang yang ditengarai sudah mencapai derajat waliyullah. Penulis buku itu mengakui bahwa apa yang ditulisnya adalah ilmu ladunni. Ilmu hikmah yang bersumber dari Allah Swt. Kalaupun dalam bukunya itu dikutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadis itu hanyalah semacam konfirmasi saja dari kemakrifatan yang ditemukannya. Penulisnya mengakui juga bahwa inilah karya pertamanya di bidang tasawuf. Penulisnya juga biasa tampil di acara TV-sahur dengan budayawan Prie GS dari Semarang. Saya lalu bertanya-tanya, apa ia seseorang itu layak diberi gelar sufi. Atau apa sih sufi yang dia maksudkan itu? Apakah sufi dapat dilabeli kepada seseorang yang sudah menjalani puluhan tahun hidup "membersihkan diri", tazkiyat al-nafs. Apa toh sesungguhnya ukuran sufi itu.

Tidak ada komentar: