Gallery

Sabtu, 12 Mei 2012

Kuasa Jawa

Prof Franz Magnis-Suseno menulis buku dengan judul: Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, 1984. Buku ini menurut sebagian penjual buku loakan di Taman Mini Indonesia Indah sebagai "buku langka". Mereka memasang tarif untuk buku Franz Magnis ini seharga Rp. 150.000,-. Sewaktu saya menemukan buku ini di TMII, saya mengurungkan niat untuk membelinya karena harganya yang tidak wajar. Suatu waktu ketika berkunjung ke Bandung, saya menyempatkan diri untuk belanja buku murah di Palasari. Saya bersyukur karena mendapatkan buku Franz Magnis dengan harga miring, yakni Rp. 20.000,-. Ada banyak hal yang menarik dalam buku Franz Magnis tadi. Salah satunya adalah kuasa Jawa. Dalam sejarah kerajaan di Jawa,para raja dikisahkan haruslah orang yang memiliki budi dan tutur kata yang halus. Para Raja biasanya bertutur dengan kromo inggil, bahasa Jawa halus. Disamping itu, raja juga harus memiliki kesaktian. Sebab, dengan kesaktian yang dimilikinya, ia dapat melindungi masyarakat dan rakyatnya, baik gangguan dari luar maupun bencana alam. Itulah sebabnya, dalam tradisi Jawa, kalau suatu ketika dalam suatu pemerintahan ditemukan banyak bencana, maka hal itu sebagai suatu pertanda akan "melemahnya" kesaktian sang raja. Dalam kondisi galau, biasanya sang ratu adil yang dinantikan. Dalam ilmu kalam dikenal Imam al-Mahdi al-Muntazhar. Seorang pemimpin yang memberi petunjuk ke jalan yang benar yang merupakan dambaan umat. Sang Imam diyakini dapat mengeluarkan umat dari derita yang sedang dialaminya. Sang Imam diyakini memiliki pengetahuan yang dapat menerawang masa depan. Sang Imam diyakini sebagai seorang yang memiliki kesaktian dan ilmu yang tinggi. Ada banyak riwayat yang mendukung teori ratu adil ini. Meskipun oleh banyak kalangan dipertanyakan keabsahan dan kesahihannya. Bagaiman dengan era modern sekarang ini? Apakah dengan banyaknya bencana, pesawat jatuh, kereta api dan mobil tabrakan, panen yang tidak merata, munculnya hama, merupakan pertanda bahwa sang penguasa sudah "tuna=kuasa"? Wa Allah a'lam.

Tidak ada komentar: