Gallery

Minggu, 27 Mei 2012

Kedahsyatan IT

Dr Alvin Toffler menulis The Third Waves untuk melukiskan perubahan zaman, yakni era agraris, era industri, dan era informasi. Pada era agraris yang berkuasa adalah mereka yang memiliki banyak lahan, tanah. Pada era industri, pemilik pabrik dan banyak produksi adalah mereka yang kaya dan berkuasa. Sedang pada era globalisasi informasi, siapa yang menguasai informasi, merekalah yang menguasai dunia. Pada era informasi, sektor-sektor jasa dan semacamnya telah diduduki oleh perempuan yang dulunya hanya didiominasi oleh kaum pria—yang oleh John Naisbitt—sudah dielaborasi dalam bukunya yang best-seller Megatrends Asia the eight Asian Megatrends that are changing the world, 1995. Peter F. Drucker menyebut perubahan sebagai change dalam bukunya: The Changed World Economy. Karl Albrucht dalam bukunya: At America’s Service menggunakan “age” untuk menyatakan pergantian struktural masyarakat dewasa ini. Semuanya untuk membenarkan bahwa setiap penemuan suatu energi baru, teknologi baru akan mengubah kehidupan manusia, mengubah perkembangan kebudayaan, struktur ekonomi dan politik. Alvin Toffler menarik sekali menguraikan sejarah manusia dalam kurun waktu 10.000 tahun hingga sekarang hanya tiga waves tadi.
Demikian pandangan dan refleksi Dr. Mochtar Riady, dalam bukunya: Mencari Peluang di Tengah Krisis, 1999. Sekarang, Google sedang membuat kecerdasan buatan yang diproyeksikan seperti “pikiran Tuhan”. Google AI , kecerdasan buatan akan menjawab pertanyaan sesuai dengan yang dibutuhkan. Ada hal yang sangat mengejutkan, ternyata Google dapat meng-updating ilmu, informasi per-tujuh hari. Ini betul-betul sebagai revolusi informasi. Mari kita simak pengakuan John Gaeta—penyelia efek visual dalam trilogy film The Matrix: Dalam tujuh hari terakhir, Google telah mengubah dan menambha persepsi saya mengenai tulip, pengendalian pikiran, sepatu datar dari Jepang, dictator Afrika yang kejam, kertas dinding tiga dimensi yang amat tajam, masakan olahan ayam yang pedas, bak mandi air panas yang bertegel, skema pengolahan gambar biologis, kesehatan anjing Chihuahua, dan banyak lagi topic-topik penting lainnya. Berkat Google, saya bukan lagi diri saya tujuh hari yang lalu. Perkembangan teknologi informasi berkembang sangat cepat. Menurut Riri Fitri Sari (dosen Universitas Indonesia), dalam lima tahun terakhir, peta pusat kekuatan teknologi informasi dan komunikasi dunia terpusat di Reidmond, Silicon Valley California ( Amerika Serikat), Shenzen ( China) dan Bangalore ( India). India merupakan fenimena baru dalam kebangkitan teknologi informasi. Dengan kekuatan demografi dan koneksi internasional berkecepatan tinggi, anak muda India lebih betah bekerja di Bangalore ( India). Sehingga, jumlah penduduk dan angkatan muda India menjadi kekuatan baru, dan bukan beban Negara. Tapal batas Negara, tidak ada lagi, tegas Bu Riri. Antara Bandung dan Bundang di Korea ( pusat Samsung Electronics) hanyalah nama, Bangalore dan Depok hanyalah nama, dan hanya terpisah oleh antusiasme dan etos kerja, imbuhnya. Indonesia bisa bangkit dan menjadi kekuatan nomor empat dalam bidang teknologi informasi setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Semoga saja. Wa Allah a’lam.

Tidak ada komentar: