Gallery

Senin, 09 April 2012

Keutamaan Shalawat



 Prof. Musthafa ‘Azami[1] menulis kata pengantar bukunya yang berjudul: Studies in Hadith Methodology and Literature, 1977. Pada akhir kata pengantar tersebut beliau memohon ampun kepada Allah Swt karena mengizinkan penerbit untuk menerbitkan bukunya tanpa menulis shalla Allah ‘alaih wa sallama setelah kata Nabi.  Pernyataannya sebagai berikut:
Finally, I apologize to the readers for giving my cencent to the publication of this book even though the words shalla Allah ‘alaih wa sallama have not been printed after the name of the prophet shalla Allah ‘alaih wa sallama or after the words “the prophet”. I regret this omission but at the time of writing this introduction it was too late to fill in the words of the blessing. May Allah for give me.( Akhirnya, saya menyampaikan permohonan ma'af kepada para pembaca karena telah mengizinkan penerbit buku ini untuk tidak menyertakan frase: shalla Allah 'alaih wa sallama setelah nama Nabi. Saya sangat menyesalkan penghilangan tersebut, tetapi setelah menulis pengantar ini sudah terlambat untuk menyertakan shalawat tersebut. Semoga Allah mengampuni saya). Suatu pengakuan yang menunjukkan kerendahan hati penulisnya, dan kedalaman cintanya kepada Rasulullah shalla Allah 'alaih wa salllama.
Imam Ibn Hajar al-Haitamy –salah seorang juru bicara mazhab al-Syafi’iyah--menulis buku khusus keutamaan bershalawat kepada Nabi Shalla Allah ‘alaih wa sallama dengan judul: al-Durr al-Mandhud fi al-Shalat wa al-salam ‘ala al-Shahib al-Maqam al-Mahmud.  Kitab ini ditulis dalam waktu yang sangat singkat, yakni dimulai dari akhir bulan shafar tahun 951 H dan selesai pada tanggal 8 Rabi’ al-Awwal pada tahun yang sama.  Pada bagian akhir kitabnya ini, Ibn Hajar al-Haitamy menukilkan kisah dan mimpi para salaf al-shalih mengenai keutamaan shalawat. Imam al-Syafi’I pernah bermimpi bertemu dengan seseorang agar beliau menambahkan kalimat: Wa shalla Allah ‘ala Muhammad-in ‘adada ma zakarahu al-zakirun wa ‘adada ma ghafala ‘an zikrihi al-ghafilun: Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Muhammad sejumlah orang yang bershalawat kepadanya, dan sejumlah orang yang lupa bershalawat kepadanya. Pagi harinya, Imam al-Syafi’i melihat kalimat tersebut tertera pada kitab al-Risalah yang sedang ditulisnya. Menurut Imam Abu al-Hasan, bahwasanya Imam al-Syafi’I tidak dihisab pada hari kiamat karena beliau banyak bershalawat kepada Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama. Abu Thahir al-Mukhlis, suatu malam bermimpi melihat Rasulullah shalla Allah ‘alaih wa sallama memalingkan mukanya. Lalu, Abu Thahir mencari arah agar dapat melihat wajah Rasulullah. Rasulpun masih memalingkan wajahnya. Beliau, bertanya:  wahai baginda Nabi, ada apa gerangan sehingga Baginda memalingkan muka kepada saya? Karena engkau kurang bershalawat kepadaku, jawab Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama. Imam al-Baihaqy juga meriwayatkan bahwa Imam al-Syafi’I diampuni dosanya oleh Allah karena banyak bershalawat kepada Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama. Demikianlah keutamaan bershalawat kepada Baginda Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama.
 Wa Allah a'lam.



[1] Prof. Musthafa ‘Azami adalah penulis otoritatif di bidang kritik hadis terutama dalam membela al-sunnah dari serangan para orientalis. Bukunya yang cukup prestisius yang dapat dirujuk, antara lain: (a) Studies in Early Hadith Literature, 1968 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul: Dirasat fi al-Hadith al-Nabawi wa Tarikhu Tadwinih, 1976; (b) On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence, 1985.

Tidak ada komentar: