Gallery

Rabu, 31 Oktober 2012

Standar Akademik

Saya pernah bertanya kepada seorang professor yang sudah lama belajar di luar negeri, Amrik dan Australia. Beliau menjelaskan bahwa belajar di Amrik lebih terarah dan lebih mantap daripada belajar di Australia. Di Australia biasanya kurang fokus dan terkadang "ngambang". Lalu, saya bertanya: "apa yang paling menarik sehingga banyak orang yang mau sekolah di Amrik"? Jawabnya, di Amrik itu semua sekolah dan perguruan tinggi memiliki standar kualitas akademik dan mereka konsisten dengan standar mutu yang telah ditetapkannya. Dia mencontohkan standar kualitas akademik itu seperti seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai A dari dosen tertentu dengan mata kuliah tertentu. Apa kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut dengan nilai A tadi. Apakah mata kuliah yang sama pada perguruan tinggi yang lain, tentu dengan dosen yang berbeda pula kompetensinya sama? Menurut beliau di negeri kita ini dalam banyak fakta, nilai itu bisa dikatrol. Bahkan ada kecenderungan perguruan tinggi tertentu memiliki kesepakatan diam-diam agar memberi nilai agak tinggi kepada mahasiswa agar kelak di kemudian hari para alumninya bisa mendapatkan pekerjaan cepat. Tentu ini sangat berbahaya kalau intansi pemerintah dan birokrasi kita diisi oleh orang-orang yang memiliki "nilai katrolan" tadi. Kita harus memiliki standar kualitas akademik, tegas beliau. Kalau tidak, kita selamanya tidak bisa menjadi bangsa yang maju. Selain itu, kita juga harus mengajarkan kepada mahasiswa berpikir kritis dan logis. Hal ini sangat penting agar para mahasiswa dapat menyalurkan pikiran dan cita-citanya secara rasional dan terukur. Untuk yang satu ini, beliau mengusulkan agar ada standar yang sama mengenai produk skripsi calon sarjana. Seorang dosen pembimbing harus melakukan bimbingan yang benar agar calon sarjana tersebut dapat berpikir kritis dan analitis. Tentu hal ini kita dapat lihat pada kegelisahan akademik yang diajukan, pokok masalah yang akan dibahas, dan metodologi penelitian yang akan digunakan. Dan terakhir, refleksi pemikiran yang digagas pada bab kesimpulan akan sangat jelas bahwa seseorang yang sedang menulis skripsi bahkan tesis itu berpikir kritis, rasional dan logik. Tentu hal ini membutuhkan proses yang panjang dan tenaga yang tidak sedikit. Kita membutuhkan kebijakan nasional agar mutu dan kualitas akademik lulusan perguruan tinggi agama kita bisa diakui dan diterima di pasar kerja. jangan sampai ada alumni kita sudah terkatung-katung mencari kerja, dan hanya biro jasa tenaga kerja ke luar negeri (TKI/TKW) yang terbuka peluang untuknya. Jangan-jangan ada almuni kita yang hanya bisa bekerja sebagai tukang kebun kelapa sawit di Malaysia. Kan kasihan banget!. Semoga bangsa kita dapat menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Amin. WA Allah a'lam.

Tidak ada komentar: