Gallery

Senin, 25 Agustus 2014

Prof Nidhal Guessoum

Prof Nidhal guru besar fisika dan astronomi adalah sedikit dari sarjana dan saintis muslim yang sedang naik daun. Beliau sangat fasih dengan khazanah intelektual muslim klasik. Pada saat yang sama juga sangat canggih dalam hal penguasaan sains modern. Pada pengantar bukunya: Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition.....mengutip dengan sangat indah pandangan integrasi sains dan agama. Beliau mengutip karya monumental Ibnu Rusyd, Fashl al-Maqal bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min Ittishal. Bahwa syariah, wahyu tidak boleh dipertentangkan dengan sains, dan ilmu pengetahuan. Agama dan sains ibarat saudara sesusuan (a'ni anna al-hikmah hiya shahibat al-syari'ah, wa al-ukhtu al-radhi'ah). fa al-adziyyatu mimman yunsabu ilaiha asyaddu al-adziyyah, ma'a ma yaqa'u bainahuma min al-'adawah wa al-baghdh'i wa al-musyajarah. wa huma al-muthahibatani bi al-thab'i. al-mutahabbatani bi al-jauhar wa al-gharizah (Fashl al-Maqal, h. 66-67). Prof Nidhal kecewa melihat perkembangan ilmu dan sains dalam Islam. Bahkan pengetahuan para mufassir al-Qur'an juga menjadi sorotannya. Sangat menyedihkan persoalan i'jaz al-'ilmy dalam studi al-Qur'an masih berkutat pada masalah abad tengah. Seperti mujarrabnya air yang telah dido'akan dengan ayat-ayat tertentu, mencari hikmah di balik air cuka berdasarkan hadis Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama, dst. Demikian terbelakangnya pemahaman sains al-Qur'an yang sering mewarnai perdebatan para sarjana muslim sekarang. Pada bagian akhir buku ini, Prof Nidhal memberi solusi alternatif untuk perombakan kurikulum pendidikan di dunia Islam, dan negara-negara arab khususnya. Pertanyaan-pertanyaan krusial yang harus segera dijawab antara lain:
a. Apakah sains modern bertentangan dengan al Quran. Apakah sains modern justeru akan menjauhkan kita dari Tuhan?
b. Apakah teori evolusi Darwin berkesesuaian dengan al Quran dan Sunnah? Bagaimana dengan pembacaan kita terhadap ayat-ayat al Quran bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama. Proses penciptaannya sebagaimana tafsir-tafsir klasik menyebutkan bahwa Adam dan Hawa diciptakan bukan seperti proses evolusi Darwin. Keyakinan kita berdasarkan pembacaan yang demikian itu, apakah kebenarannya sudah pada tingkat qath'iy. Ataukah al syakk, kebenaran yang penuh dengan keragu-raguan. Atau temuan-temuan sains modern yang dipahami secara benar akan memperkuat keyakinan kita. Bahwa alam raya yang sangat rumit ini tentulah ada yang maha pencipta, yang maha Kuasa, yang maha Agung.
c. Mengapa sains modern dan agama terkadang tampak bentrok? Karena kebodohan kita terhadap sains itu. Di sinilah pentingnya mengubah kurikulum tadi agar sains modern dengan Islam bisa lebih akur. Ada lagi yang berpendapat lain. Bahwa al Quran bukanlah kitab sains dan kitab ilmiyah. Al Quran hanya memuat isyarat- isyarat sains dan ilmiyah. Al Quran sesungguhnya merupakan kitab etika yang memuat panduan moral manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Hati- hati terhadap program integrasi sains dan agama. Jangan- jangan hanya akan menghambat perkembangan ilmu. Sebab, "kebenaran ada di luar sana".
Bagi Nidhal, kurikulum dibuat untuk diberikan kepada mahasiswa. Kurikulum yang memuat seluruh teori-teori sains. Dengan demikian, mereka bisa memahaminya dan mengoreksinya. Dengan jalan ini Islam dan sains modern akan akur. Sejarah dan filsafat sains diajarkan kepada siswa SMA dan para mahasiswa. Antara saintis dan agamawan perlu berkolaborasi dan menerbitkan buku-buku sains. Singkatnya, kurikulum harus dirombak total. Untuk mencetak inovator dan saintis muslim sebagaimana yang telah dicapainya semasa renaisan Islam. Sebab, bagaimanapun, jika para saintis tidak lagi mengindahkan refleksi metafisika dan spiritual, berarti mereka telah sengaja memisahkan diri dari masyarakat.

1 komentar:

Hardiyanti Yunus mengatakan...

emm... sangat penasaran, deh untuk baca bukunya Prof. Nidhal Guessoum