Gallery

Jumat, 11 September 2015

Psikologi Islam

Saya mewakili Direktur Pendidikan Islam, Kemenag sebagai Key Note Speaker dalam acara Konsorsium Psikologi Islam di Jogjakarta. Hadir dalam acara tersebut Prof Amin Abdullah, Prof Djamaluddin Antjok, Prof Mujib, Dekan Psikologi UIN Jakarta, dan sejumlah nama penggiat psikologi Islam. Ibu Erika salah seorang panitia penyelenggara yang saya kenal. Ada dua hal pokok yang sempat saya sampaikan, sebagai berikut: 1. Ada beberapa keilmuan yang terkait psikologi, yakni tasawuf dan psiko terapi, Konseling, Bimbingan dan Konseling Islam, Bimbingan dan Penyuluhan Islam. Apa benar ada Psikologi Islam? Menurut Prof Mujib, Psikologi telah dibelokkan oleh barat. Ilmu al nafs, menjadi behavior, ilmu yang mempelajari perilaku. Gejala gejala fisik saja. Al nafs tidak ada ruang yang luas untuk psikologi modern. Nabi saw dianggap seorang psikolog. Hindun yang sangat memusuhi Nabi, setelah keluar dari rumah Mabi, ia pun tersenyum ceria, gembira dan bahagia. Abu Sofyan, suami Hindun juga mengalami nasib yang sama. Dari sangt menbenci Nabi berbalik menjadi pengikut Nabi. Para sufi besar seperti Junaid al Baghdadi juga seorang psikolog yang luar biasa. Seorang ibu kaya menitipkan puteranya agar dididik oleh syeikh Junaid dari perangainya yang kasar. Suatu waktu, ibu kaya menjenguk puteranya. Ternyata ia mendapati buah hatinya sedang membersihkan toilet. Si ibu tersinggung. Ia menghadap syeikh Junaid. Syeikh, saya menitip puteraku ut belajar tasawuf kepada syeikh agar ia berubah menjadi lebh haik. Lebih empati. Bukan menjadi tukang bersih tolilet syeikh. Saya sanggup menggaji 11 Turki ut pekerjaan ini. Syeikh menjawab bahwa saya lebih tahu daripada Anda. Mengapa anda tidak pernah memprotes dokter yang memberi resep obat, 1 kali 1,atau satu kali dua, dst. Karena anda percaya kepada dokter. Anda tidak pernah protes kepada pendapat dan saran dokter. Saya dokter jiwa. Saya sudah berpengalaman 40 tahun. Obat "keras hati" dan congkak adalah pekerjaan sepele. Kelihatan kasar, mengepel, membersihkan toilet, dst. 2. Prof Mulyadi Kartanegara kalau ingin bicara adanya psikologi Islam, beliau biasa mengutip Ibnu Sina. Konon, ibnu Sina pernah menyamar. Dan hidup jauh dari keramaian kota. Ia meninggalkan ketenaran, dan kehidupan mewah di istana. Ia menyamar sebagai rakyat biasa. Suatu waktu, anak raja sakit keras. Badannya kurus krempeng. Sulit makan. Matanya cekung. Tidak bergairah lagi. Didatangkan tabib istana, tetapi tdk mengubah apa apa. Tabib dari berbagai penjuru datang mengibati tetapi tidak ada perubahan apa apa. Akhirnya, ibu sina didatangkan ke istana meskipun beliau masih dalam penyamaran. Sebelum pengobatan, beliau meminta ahli geografi yang mengerti letak daerah, wilayah dan desa. Ibnu Sina menyebut kota tertentu, desa, dan rtnya sambil memegang nadi putera mahkota. Semakin menyebut desa tersebut, dan nama nama penghuni lorong, semakin kencang nadi sang putera mahkota. Kesimpulan ibnu sina, putera mahkota tidak sakit fisik, tetapi mau kawin. Ibnu Sina, dokter cinta. Psikoterapi ada. Al nafs, al ruh itu ada, tidak terlihat, tidak nampak, tetapi gejala gejalanya bisa dipelajari. 3. Pentingnya psikologi Dalam meniti karier kematangan emosi sangatlah penting. a. Daniel Goleman, Emotional Intelligent. Mengapa orang ber IQ tinggi terkadang tidak atau kurang sukses. Dan orang yg ber IQ sedang sedang saja sukses? Karena ia mngasah kecerdasan emosionalnya. Ia tekun, simpatik, memiliki communication skill yg baik, sebagai sahabat yang hangat. Ia mampu mengontrol diri, dalam kata, sikap, dan perilakunya. Ia pribadi yang supel. Sdg yang ber IQ tinnggi cenderung angkuh, congkak, sulit memahami orang. Daniel Goliman, social intelligent, kecerdasan sosial. Orang sukses kaena banyak kawan. Banyak sahabat. Rezeki itu karena sahabat. b. Daniel Kahneman, thinking past and slow. Orang sukses bukan hanya karena pengetahuan matematika, dam kalkulasi akuntasinya, tetapi karena keputusan feelingnya yang kuat dalam menentukan arah kebijakan organisasi, perusahaannya. Kecenderungan ilmu terintegrasi dengan keilmuan lainnya, Kahneman memadukan antara ekonomi dan Psikologi. c. Mark Bowden, Tame the Primitive Brain. 28 ways in 28 days to manage the most impulse behavior 's at work. Bagaimana cara mengendalikan diri di tempat kerja . Membaca body language, membangun relasi di tempat kerja. Prof Amin Abdullah 1. Tidak semua orang beragama sehat. Itulah sebabnya dalam doa qunut, allhumma hdini fiman hadaita. Wa afini fiman afaita.... 2. Keilmuan kita sudah tersegmentasi. Hukum tidak berkaitan dengan politik, kata orang DPR. 3. Setiap ilmu ada "ruang atau pori pori yang terbuka" untuk menerima pengayaan dengan ilmu ilmu lainnya. Linearitas, bagaimana? Linieritas harus dipikirkan ulang. 4. Situs situs Islam on line, sangat mengerikan. 5. Saeed Abdullah, integrasi ilmu hanya bisa terjadi di Indonesia. Di luar sana, Negara Islam lainnya, sosiologi masih bid'ah. Kullu bidatin dhalalatin wa kullu dhalalatin fi al nar. 6. Sigmund Freud, Gustav jung, penelitian empirical. 7. Psycologi agama penting. Konversi agama dari Kristen ke Islam. Anaknya sebelas tahun. Karen aterputus semua dengan jaringan lama. Sangat potential dari radical group ut menjelek jelekkan agama yang ditinggalkan. Jadilah beragama sesuai dengan agama yang baik. 8. Kurikulum Psikologi Islam ditunggu semua orang.

Tidak ada komentar: