Gallery

Selasa, 20 Agustus 2013

Tarekat Muhdi Akbar

Adalah Mardi Adi Armin menulis disrtasi yang menarik dengan judul Tarekat Muhdi Akbar dalm kehidupan keberagaan di kabupaten Selayar: perbedaan dalam tinjauan etika, UIN Alauddin, Makassar, 2013. Tarekat Muhdi Akbar didirikan oleh Haji Abdul Gani. Konon, H. Abdul Gani ketika naik haji sempat menyeberang ke Mesir. Pada waktu itu, di Mesir sedang menyeruak semangat pembaruan pemikiran Islam oleh Syekh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al. Afghani. Penulis tidak menjelaskan data historis, apakah H. Abdul Ghani sempat mengikuti pengajian di majlis syekh Muhammad Abduh. Atau H. Abdul Gani sekedar melancong di negeri Piramida itu. Tarekat Muhdi Akbar ini unik. Ditengarai sebagai ajaran yang sinkretis dengan agama Kristen. Sehingga pemerintah Belanda mengirim pendeta ke Selayar dengan misi zending. Di Selayar mereka membangun sekolah untuk komunitas Muhdi Akbar. Tapi lama kelamaan, pihak Belanda memahami bahwa Tarekat Muhdi Akbar tidak identik dengan Kristen meskipun mereka sangat menghormati Isa al Masih. Dan cinta damai menjadi salah satu ajaran dan doktrin Muhdi Akbar. Muhdi Akbar tetap saja sebagai Muhdi Akbar. Belakangan muncullah aktifis gerakan dakwah Muhammadiyah yang bercorak puritanisme Wahabiyah. Muhdi Akbar terdesak dan terkucilkan dari arus besar Islam Muhammadiyah. Mereka dituduh syirik dan bahkan antek antek PKI. Mungkin itulah sebabnya,sehingga komunitas Muhdi Akbar terpaksa berafiliasi ke agama Hindu. Meskipun mereka tidaklah persis dengan Hindu. Mungkin beginilah cara mereka untuk "bertahan" agar tidak tergerus oleh gerakan puritanisme Islam ala Wahabi. Patut dicatat bahwa tarekat Muhdi Akbar ini memiliki ajaran yang unik. antara lain: mereka tidak menganjurkan umatnya untuk disunat. Tidak ketat dalam menentukan uang belanja dalam hal perkawinan, tidak boleh kawin cerai. Dalam artian mereka sangat ketat dalam hal perceraian. mirip mirip doktrin dalam agama Kristen. Sembahyang memakai dupa atau kemenyan. Komunitas mereka berjumlah sekitar 2. 700 an orang. Saya lalu teringat dengan Clifford Geertz dengan The Religion of Java, 1964. Geertz mengajukan tesis bahwa untuk memahami Islam Jawa, kita tidak boleh dari sejarah panjang agama agama di Jawa. Hindu, Budhdha, dan bahkan animisme harus menjadi perhatian. Islam Jawa dikategorikan menjadi Abangan, Santri, Priyayi. Geertz menginspirasi banyak antropolog dunia, sehingga hampir semua kajian Islam Jawa pasti merujuk pada buku-buku Geertz. Robert Hefner bahkan disebut-sebut sebagai "ahli waris" Clifford Geertz meskipun dalam karya-karya beliau banyak mengkritik Geertz. Hal ini dapat dilihat pada karyanya yang berjudul: Geger Tengger. Demikian juga halnya dengan Mark Woodwoork dalam bukunya: Islam Jawa. Islam Jawa bukanlah Islam Hindu dan Budhdha, tapi lebih merupakan varian Islam yang sama "posisinya" dengan Islam Arab-Saudi, Islam Syiria, Islam Mesir, Islam Maroko, dan Islam Yaman. Islam Jawa tidak "lebih rendah" dengan Islam Persia atau Islam Arab Saudi, dst. Kembali ke Tarekat Muhdi Akbar, Selayar. Ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah Muhdi Akbar adalah varian Islam atau agama sinkretis? Sebab menurut pak Mardi, meskipun pada KTP mereka ada yang berafiliasi ke agama Hindu dan sebagiannya agama Kristen, tapi kalau mereka ditanya mereka masih bersikukuh sebagai penganut Muhdi Akbar. Dan bukan sebagai Kristen dan Hindu. Apakah kekeristenan atau kehinduan mereka sesungguhnya hanyalah sebagai strategi untuk bertahan. Agar mereka tidak "dimusuhi" oleh komunitas muslim ortodoks atau "garis keras".

Tidak ada komentar: