Gallery

Rabu, 15 Juni 2016

Kutu Buku

Aku rela dipenjara, asalkan saya bersama buku. Sebab dengan buku, saya bebas, kata Bung Hatta. Barangkali kalimat ini diucapkan sang proklamator kita ini ketika hendak bertolak ke penjara Digoel. Penjara Digoel terkenal seram. Tidak ada orang yang bisa melarikan diri. Sebab, kalau ke laut atau sungai, pasti akan bertemu dengan buaya yang ganas. Kalau melarikan diri ke gunung akan disantap oleh para kanibal. Dan kalau kelamaan di penjara, maka akan mati oleh nyamuk malaria. Mengapa Bung Hatta bisa bertahan? Berkat membaca buku. Itulah nikmatnya si kutu buku. Bahwa buku adalah sahabat di kala senang dan susah. Sewaktu saya ke Oxford, Inggeris, saya memndapat cerita dari sorang kawan dsri Kementerian Keuangan RI. Bahwa ternyata Andi Mallarangen ketika ditahan oleh KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ), beliau langsung membawa buku yang berjudul: Inferno karya Dan Brown. Novel ini berkisah tentang neraka dunia ynag paling gelap. Lalu, bagaimana seseorang penghuninya bisa bertahan? Barangkali dengan membaca buku, Dr Andi Mallarangen bisa mengusir kepenatan dan kegalauannya di dalam sel KPK. Sedikit pengalaman saya mengenai buku. Ke mana pun saya pergi, maka saya memperhatikan sudut- sudut dan belokan kota yang saya kunjungi. Adakah toko buku di sana. Toko buku penting, karena sebagai representasi minat baca masyarakat. Semakin tinggi literasi suatu masyarakat, maka semakin ramai kunjungan ke toko buku atau perpustakaan. Sayang sekali, di negeri kita ini tidak seperti negara- negara maju yang menyiapkan perpustakaan pusat yang menjadi kunjungan bagi masyarakat umum. Hong Kong umpamanya, memiliki perpustakaan besar di tengah kota. Masyarakat umum bebas mengakses informasi lewat perpustakaan kota tersebut. Ada juga ruangan besar khusus untuk anak- anak. Segalanya sudah disiapkan. Buku sangat penting. Sebab, buku sudah terbukti dapat melahirkan peradaban besar dunia yang kita rasakan sampai dewasa ini. Sehebat apa pun e- book atau digital library, kenikmatan membaca buku masih sangat penting. Disamping lebih mudah, juga kitabterhindar dari radiasi. Berbeda dengan membaca e- book, kita pasti membutuhkan tenaga listrik, dan pasti kita terkena radiasi. Kita mau mencoret- coret atau mencatat bagian tertentu pada buku yang sedang kita baca, tentu hanya bisa terjadi kalau kita membaca buku biasa. Toko buku bagi saya sangat penting. Toko buku ibarat oase dan dapat mengusir kepenatan kota metropolitan Jakarta. Setiap saya berkunjung ke kota- kota besar, pasti saya mencari buku. Bahkan setiap bandara yang saya lewati, pasti saya melirik sudut- sudut bandara, barangkali ada toko buku kecil. Kalau Cengkareng, pasti ada periplus. Bandara Juanda Surabaya, Adisucipto Yogyakarta, dst. Dan hal yang menarik adalah pada setiap kota seperti Malang, Surabaya, Ciputat, Banda Aceh, Makassar, saya memiliki kawan dekat yang menjual buku dan sekaligus mengerti isi bukunya. Di Malang di jalan Wilis, saya mengenal saudara Aan. Ia sudah lama menjual buku. Aan ini spesial bagi saya karena hampir semua buku yang dijualnya, juga dipahami isinya. Siapa penulisnya. Perhulatan apa yang melatari sehingga sang penulis menerbitkan karyanya itu. Cetakannya laris atau tidak. Sejauhmana pasar antusias membeli buku- buku tertentu. Mas Aan kelihatan sederhana. Tidak tampak kemewahan pada dirinya. Ia hidup sederhana. Baru saja ia membeli toko buku sendiri, sehingga ia tidak lagi harus berpindah- pindah tempat. Ia juga busa menerangkan dengan fasih perbedaan cetakan buku- buku yang terbit dengan penerbit yang berbeda. Adalagi Saudara Nasution dari Medan di Ciputat. Kawan yang satu ini juga unik. Ia sering tampil pada seminar dinkampus. Ia sangatakrab dengan buku- buku langka. Ia juga sangat menguasai buku- buku yang dijualnya. Ia akrab jug dengan literatur kiri di Indoensia. Tetapu belakangan, ia sudah pindah tempat berdagang. Ia sudah jauh ari kampus UIN syarifhidayatullah Jakarta. Ia terkadang mengeluh perihal kurangnya minat membaca mahasiswa. Saya bilang, barangkali karena sudah ada akses buku digital. Ia menimpali, tidak juga. Memang fenomena belakangan ini mahasiswa cenderung kurang minat belajar. Khawatir kalau anak-anak kita hanyalah menjadi generasi penonton. Hanya senang menonton televisi.