Gallery

Senin, 15 Juli 2013

Berdakwah

Seorang kawan yang telah menyandang titel professor datang bertamu ke kantor. Saya berbicang ringan dengan beliau. Tidak lama kemudian, sang professor bercerita bahwa ia baru saja datang dari sebuah kota untuk "al-khuruj" ( berdakwah keluar kota). Beliau bercerita dan kelihatan sangat menikmati keterlibatannya dengan sebuah gerakan dakwah tersebut. Saya membiarkan beliau untuk bercerita. Dan pada penghujung diskusi ringan itu, saya mengajukan pertanyaan yang cukup menghentak kawan tadi. Okelah pak Kyai, ikut al-khuruj baik-baik saja, dan sebagai misi mulia. lalu, siapa yang merawat ilmu? Siapa yang mengembangkan riset? Siapa yang mengembangkan ilmu pengetahuan, kalau pak Prof yang memiliki ilmu yang mumpuni ini juga ikut-ikutan seperti itu? Sang professor sepertinya terkejut, seraya berucap: "terima kasih dik atas pandangannya". Saya menyadari akan tugas berat sebagai ilmuan ini. Saya akan pikirkan saran dan masukannya. Tidak lama kemudian, sang professor pamit, dan kami salaman. Saya tidak habis pikir, bagaimana seorang yang sudah mumpuni ilmunya masih saja ikut-ikutan al-khuruj. Padahal, tugas keilmuan memerlukan konsentrasi penuh. Bagaimana mungkin ilmu dapat berkembang kalau para guru besarnya juga "berkeliaran" demikian itu. Kita membutuhkan ilmuan esketis. Ilmuan yang senantiasa menjaga integritasnya sebagai ilmuan. Ilmuan yang setiap harinya mengembangkan ilmu dan pengetahuannya. Bukannya menjelaskan hal-hal yang elementry yang sesungguhnya dapat dijelaskan oleh anak-anak muda yang baru pemula itu. Demikian

Tidak ada komentar: