Gallery

Minggu, 02 November 2014

LBE

LBE adalah laboratory based education. Semua proses pembelajaran berbasis laboratorium. Kunci sukses studi adalah interaksi dosen dengan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Itu berarti perpustakaan,laboratorium harus terus terbuka dan dimanfaatkan oleh dosen dan mahasiswa. Prof Satryo Brojonegoro menjelaskan bahwa pengalaman di Jepang, tidak banyak perkuliahan. Justeru yang banyak adalah team work untuk melakukan penelitian. Dosen tetap mengarahkan. Bahkan sudah jamak diketahui bahwa dosen di Jepang banyak yang menulis bersama dengan para mahasiswanya. Dosennya bertindak sebagai penulis kedua. Sedang mahasiswanya sebagai penulis pertama. Meskipun sang dosen dalam prakteknya sangat intensif membimbing mahasiswa bersangkutan. Tetap saja sang dosen menjadi penulis kedua.Tentu hal ini berbeda dangan praktek di negeri kita yang biasa sang dosen mengklaim tulisan para mahasiswanya. Ketika sang dosen membimbing mata kuliah tertentu. Tentu praktek seperti sungguh tidak terpuji dan sangat memalukan. Sesungguhnya di era revolusi IT semestinya onteraksi dosen dengan mahasiswa lebih intensif. Mahasiswa sudah menjadi hyperconnectek. Mereka sudah masuk kategori hiper terkonek. Mahasiswa lebih baik kehilangan pacar daripada kehilangan hand phone. Dalam kaitan transformasi sejumlah IAIN menjadi Universitas, maka world class university atau research university harus mengacu keaktifan proses perkuliahan dan pemanfaatan sumber sumber belajar seperti perpustakaan dan laboratorium. Tanpa ini, WVU hanyalah sebuah wacana dan cita cita luhur. Itu juga berarti bahwa penambahan tenaga laboran menjadi penting. Peningkatan kompetensi dan kualifikasi mereka juga perlu diperhatikan.

1 komentar:

Rohis Noer mengatakan...

Untuk mendapatkan izin penyelenggaraan Prodi baru bagi PTAI sangat memakan waktu dan banyak pengorbanan.
1. Sebelum izin penyelenggaraan Prodi tidak boleh menerima mahasiswa baru untuk Prodi tersebut;
2. Setelah Izin dikeluarkan :
- Tidak boleh menerima mahasiswa lebih dari 2 Lokal (@30 orang = 1 lokal)
- Tidak boleh menerima mahasiswa transfer selama 4 tahun terhitung tanggal izin dikeluarkan

Sementara Perguruan Tinggi Umum yang berada dibawah Diknas, semena-mena menyelenggarakan perkuliahan baik ekstensi-percepatan-kelas jauh tanpa terlalu banyak melewati birokrasi yang rumit.

STIT YPI Kerinci telah berjuang melengkapi bahan Prodi baru (PGRA)dan menunggu lebih kurang 1 tahun sampai terbitnya izin operasional.

Sementara Unja yang tidak memiliki basic jurusan PGTK/PGPAUD telah mulai merekrut calon mahasiswa untuk program ekstensi-percepatan di daerah untuk S1 PG-PAUD ditahun yang sama setelah izin operasional PGRA STIT YPI Kerinci diterbitkan.
Demikian pula dengan STKIP Muhammadiyah Kerinci.

Bukannya iri atau cemburu melihat hal tersebut, hanya saja LETIH melihat sistim yang berjalan.