Sabtu, 10 Agustus 2019
Idul Qurban dan Semangat Berderma
Setiap tahun, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha atau biasa juga disebut Idul Qurban. Idul Qurban, sesungguhnya adalah napak tilas Nabi Ibrahim dan Ismail, puteranya. Napak tilas nabi Ibrahim tersebut diabadikan dalam al- Qur'an, surah al- Shaffat, ayat 100 dst
Perayaan hari raya idul qurban di dunia ini berbeda-beda. Di Indonesia tidak seheboh Idul Fitri, hari raya puasa. Di Tiongkok yang bukan negara Islam liburnya empat hari. Bangladesh ramai, dan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga. Mudik lebaran idul Qurban sangat padat di Bangladesh. Bahkan mereka bisa naik punggung kereta Api seperti di Indonesia masa lebaran Idul Fitri. Mereka berlibur selama tiga hari berturut-turut. Masa libur tersebut digunakan untuk mengunjungi keluarga, dan sahabat. Tadarus atau membaca al Quran digalakkan. Demikian pula halnya dengan di Pakistan, negara Islam. Pemerintah Pakistan meliburkan warganya selama empat hari berturut-turut. Maroko libur selama tiga hari. Di Amerika juga libur selama tiga hari. Ada acara makan makan dan open house. Mesir tradisi bermaaf-maafan justeru pada hari idul Qurban. Di Saudi Arabia liburnya selama tiga hari. Saudi terkenal dengan pengekspor daging qurban terbesar di dunia. Daging dikirim ke negara negara miskin di Afrika Selatan, dan Asia Tengah, bisanya lewat armada laut dan bahkan udara.
(Tabloid Genie, edisi 17 -23 september 2015, h. 41).
Jauh sebelum nabi Ibrahim AS, dua putera Adam a.s, Habil dan Qabil juga melakukan qurban sebagai bentuk pengejewantahan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Qurban sudah menjadi bahasa Indonesia. Karib, kerabat adalah seakar kata dengan qurban. Semuanya bermakna dekat atau kedekatan. Qurban dimaksudkan untuk mendekatkan diri secara vertikal kepada Allah Swt, sekaligus mempererat hubungan horizontal kepada sesama manusia.
Hewan qurban, kambing, sapi, kerbau, onta yang kita persembahkan adalah hanya semata mencari ridha Allah Swt. Qurban hanya sebagai manifestasi taqwa kepada- Nya. Lan yanala Allah luhumuha wa la dima'uha, wa lakin yanaluh al- taqwa minkum...Bukanlah daging dan darah qurban itu yang sampai kepada Allah Swt, tetapi takwamulah yang diterima di sisi- Nya...Pada saat yang sama, daging qurban yang kita sembelih dibagi- bagikan kepada orang miskin dan kaum dhu'afa yang sangat mmbutuhkannya. Daging qurban dimaksudkan sebagai perekat kohesi sosial sekaligus sebagai bentuk emphaty kepada sesama.
Idul Qurban hadir untuk menyambung hubungan vertikal kepada Allah Swt dan kepada sesama manusia. Semangat altruisme, rasa empati dan rela berkorban kepada sesama harus terus ditumbuhkan. Keadilan sosial adalah cita- cita luhur Idul Qurban.
Makna metaforis menyembelih hewan qurban adalah menyembelih sifat hewaniyah dan kebinatangan kita. Bahwa musuh terbesar manusia adalah ego yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Sifat tamak, serakah dan loba harus kita sembelih. Serakah terhadap harta duniawi dapat membelenggu kehidupan manusia sehingga dengan tega bisa saling memangsa. Mahatma Ghandi pernah berkata, sesungguhnya Tuhan telah mencukupkan rezeki seluruh umat manusia dengan kekayaan alam raya dan segala isinya. Tetapi, alam dengan kekayaan yang melimpah- ruah itu tidak akan cukup bagi seorang yang serakah.
Haus akan kekuasaan akan membutakan nurani manusia. Nurani dan cahaya kebenaran bisa padam dalam sanubari manusia yang haus kekuasaan. Pada pagi hari, pertanyaannya adalah kita makan apa. Pada siang hari, kita makan di mana? Dan pada sore hari, kita makan " siapa"? Itulah gila kuasa yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Cukuplah bagi kita untuk mengambil pelajaran. Fir'aun yang thaghut, tiranik, haus kekuasaan pada akhirnya tumbang. Jatuh. Kekuasaannya hanya bertahan 40 tahun. Kekuasaan itu rapuh. Qarun yang gila harta, tenggelam dan ditelan bumi bersama harta yang dicintainya. Dari sinilah istilah harta Qarun. Haman, birokrat yang korup juga jatuh dan hancur. Segala bentuk keserakahan, monopoli, ketamakan akan berakhir dengan tragis. Fir'aun, Qarun, dan Haman jatuh dan hancur. Kuasa, harta, semuanya akan jatuh dan berakhir. Tidak ada yang abadi. Semuanya akan berakhir. Kullu man 'alaiha fanin. Illa wajhu rabbika zil jalali wal ikram. Semua di alam raya ini akan hancur, kecuali Tuhan yang Maha Agung dan Mulia.
Yang langgeng hanyalah karakter baik dan kebajikan.
Idul Qurban adalah hari raya menyembelih egoisme kita, dan marilah kita merayakan solidaritas antar sesama. Dengan Idul Adha, status kita meningkat dari saleh ritual menjadi saleh sosial.
Marilah kita terus menebarkan kebaikan kepada sesama. Marilah kita terus menyantuni kaum dhu'afa. Marilah kita meningkatkan altruisme yang genuine, otentik.
Muara Idul Qurban adalah menjadi manusia otentik. Manusia yang saleh secara ritual sekaligus saleh secara sosial. Kita boleh dan mungkin harus menjadi kaya, tetapi menyantuni. Kita bisa menjadi penguasa, tetapi yang bijaksana. Nabi Sulaiman a.s adalah Nabi terkaya sepanjang masa, tetapi menyantuni semua orang. Bahkan menyantuni binatang dan makhluk- makhluk Tuhan lainnya. Nabi Sulaiman bisa memahami bahasa binatang. Beliau bisa berkomunikasi dengan burung Hud- Hud. Bisa bercanda dengan ratu semut. Bisa memerintah bangsa jin. Bisa memerintah angin dan bisa membawanya ke ujung dunia mana saja yang diinginkannya. Tetapi Nabi Sulaiman terkenal sangat bijaksana, dan dermawan.
Nabi Ibrahim a.s dikenang karena kedermawanannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setiap beliau kedatangan tamu pasti menjamunya. Biasanya dengan memotong seekor atau beberapa ekor kambing dan domba. Di setiap wilayah di mana beliau berdomisili, Nabi Ibrahim selalu saja menjadi perhatian. Karena beliau selalu sukses dalam peternakan dan pertanian. Beliau memiliki gandum yang melimpah dan hewan ternak yang sangat banyak. Beliau sangat dermawan. Itulah sebabnya, nabi Ibrahim a.s dikenal sebagai khalil Allah, kerabat Allah. Nabi Ibrahim sangat dekat dengan Allah Swt.
Dalam sebuah kisah. Nabi Ibrahim bertamu di rumah Ismail puteranya. Ismail kebetulan sedang tidak berada di rumahnya. Hanya isteri Ismail yang ada. Lama kemudian, isteri Ismail ini tidak menjamu mertuanya layaknya seorang mertua. Nabi Ibrahim setelah pulang berpesan kepada menantunya. Bahwa kalau suamimu datang, beritahu agar segera mengganti "tangga rumahnya". Bahasa kiasan, bahwa Ismail harus mengganti isteri yang baru. Karena isterinya yang sekarang ini bakhil alias kikir. Tidak pandai berderma
Sabda Nabi, al.sakhiyyu qaribun min Allah. Wa qaribun min al nas, qaribun min al- jannah wa ba'idun min al nar.
Wal bakhilu, ba'idun min Allah, ba'idun min al nas . Ba'idun min al- jannah. wa qaribun min al- nar.
Orang dermawan dekat dengan Allah. Disenangi banyak orang. Dan jauh dari api neraka. Sebaliknya, orang bakhil, jauh dari rahmat Allah, dijauhi banyak orang. Jauh dari pintu surga. Dan sangat dekat dengan api neraka. Hati-hati kaum muslimin, salah satu makna kufur adalah kikir (kufur nikmat)...wa iz ta'azzana rabbukum, la in syakartum la azidannakum, wa la in kafartum inna 'azabi la syadidun....Dan ingatlah juga tatkala Tuhanmu mengabarkan dengan sangat jelas, apabila kalian pandai bersyukur atas nikmat-Ku, maka akan Kutambahkan nikmat- nikmat tersebut, tetapi sebaliknya, apabila kalian kufur nikmat, maka ketahuilah, azab- Ku amatlah pedih (Q.S Ibrahim, ayat 7).
Prof Quraish Shihab selalu mengamalkan do'a berikut dan beliau membacanya setiap selesai menunaikan shalat fardhu:
Rabbi awzi'ni an asykura ni'mataka al- laty an'amta 'alayya wa 'ala walidayya wa an a'mala shalihan tardhahu, wa adkhilny bi rahmatika fi 'ibadika al- shalihin. Ya tuhanku, berilah aku (bimbingan, kekuatan) dan ilham untuk tetap mensyukuri nikmat- Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh. (Q.S al- Naml, ayat 19).
Marilah kita terus mendawamkan Do'a Nabi Ibrahim AS:
....wa allazina yaquluna, rabbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a'yunin wa aj'alna li al muttaqin imaman. Dan mereka yang berkata:...Oh Tuhan kami, anugerahilah kepada kami pasangan ( suami-isteri) dan anak- anak kami sebagai pelipur lara dan penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang- orang taqwa dan saleh.
Apa makna qurratu a'yunin? Kesejukan mata. Ketika kita keluara rumah untuk mencari nafkah dan rezeki, mata kita hangat. Ketika kita kembali ke rumah bertemu dengan pasangan ( suami atau isteri), dan anak- anak, maka mata kita dingin, dan hati kita menjadi sejuk. itulah makna qurratu a'yun.
Orang- orang Arab pra Islam biasa menggunakan frase adkhana Allah 'ainahu, Semoga Allah membuat matanya hangat dan terbakar, sebagai ungkapan kutukan terburuk yang mereka ucapkan. Semoga dia menderita kesedihan dengan meneteskan air mata kepedihan. Sedang qurratu a'yun digunakan untuk mengekspresikan air mata suka cita.
Orang-orang Arab yang melakukan perjalanan di gurun pasir sering dilanda badai gurun. Mata mereka sampai- sampai tidak bisa berkedip karena khawatir akan kehilangan arah. Untungnya onta sebagai kendaraan spesial di gurun memiliki kelopak mata yang memiliki layar, sehingga pasir tidak sampai menyentuh mata si onta. Dan onta tidak perlu berkedip untuk menjatuhkan pasir tersebut. Subhanallah! Ketika mereka sampai pada sebuah gua dan berlindung di dalamnya, mereka biasa dengan puitis menyebut peristiwa tersebut dengan....qurrata 'ainayya: mataku akhirnya menjadi dingin, karena mereka mendapatkan perlindungan dari badai gurun.
Frase qurrata a'yun juga digunakan ketika Allah Swt memperkenalkan kembali Musa kepada ibu kandungnya, dengan firman- Nya:....fa raja'na ka ila ummika, kay taqarra 'ainuha wa la tahzan, jadi Kami ( Allah) mengembalikanmu wahai Musa kepada ibu kandungmu, supaya matanya kembali sejuk, dingin dan menangis tersedu-sedu, dan janganlah bersedih hati.
Jadi qurratu 'ainin memiliki dia makna: pertama, air mata suka cita, dan kedua, menemukan perlindungan dan keamanan. Keluarga, pasangan, dan anak- anak, sejatinya selalu menjadi qurratu a'yun, pelipur lara, pelindung, kebanggan dan terus menjadi penyejuk jiwa.
Semoga momentum Idul Qurban ini semakin mengasah kepekaan sosial kita untuk terus berbagi dengan sesama. Semoga kita dapat meneladani kedermawanan Nabi Ibrahim AS. Dan semoga kita dapat menjadi pribadi taqwa. Amin.
Minggu, 04 Agustus 2019
al-Qur'an Terjemahan
we have revealed the book, which manifests the truth about all things, a guide, a blessing, and good news for those who surrender themselves to God (Q.S al-Nahl/16: 89).
Menerjemah hakikatnya juga menafsir. Menerjemah berupaya menangkap makna bahasa asal. Menerjemah tidaklah sekedar mengalihbahasakan. Itulah sebabnya, kegiatan menerjemah harus memiliki kehati hatian. Apatah lagi menerjemah kitab suci. Kitab suci adalah firman Tuhan. Sebagai firman,Tuhan lewat kitab suciNya ingin berkomunikasi dengan hamba-hambaNya. Sementara manusia membangun komunikasi vertikal dengan Tuhannya melalui mediasi do'a.
Dalam Ijtimak Ulama al-Qur'an di Bandung tanggal
8-10 juli 2019 berkumpul untuk merevisi al-Qur'an terjemah terbitan Kementerian Agama RI.
Beberapa hal yang menghangat, antara lain:
1. Menghilangkan terjemah huruf waw ( al-wawu). Sebab, dari 11 macam huruf al wawu, kebanyakan dalam al-Qur'an adalah waw al-isti'naf yang dalam konteks bahasa Indonesia tidak memiliki makna yang signifikan. Tentu hal ini tidak boleh diterapkan untuk waw al-qasam( sumpah) dan waw al-'athaf. Meskipun hal ini tentu berbeda dengan pandangan Prof A'isyah Abd Rahman binti al-Syathi'. Beliau berpendapat bahwa setiap huruf dalam al-Qur'an memiliki makna dan rahasia tersendiri. Tidak ada huruf atau kata al-ziyadah ( tambahan atau sisipan) dalam al-Qur'an. Demikian pula halnya, tidak ada huruf al-mahdzuf dalam al-Qur'an.
2. Masih ditemukan banyak kata yang penerjemahannya debatable, seperti kata dhurrun yang diartikan bencana. Padahal dalam banyak ayat, dhurrun lebih tepat diterjemahkan dengan kemudharatan. Kemudharatan lebih pas dengan kata dhurrun. Dengan terjemahan tersebut, kita juga menyumbang kosa kata untuk pengayaan bahasa Indonesia. Seperti pada ayat...wa iza massa al-insana dhurrun, da'ana..Dan apabila manusia ditimpa kemudharatan, maka dia berdo'a ( memohon) kepada Kami.....
Demikian pula halnya dengan kata kafir yang terulang sekitar 525 kali dalam al-Qur'an. Kafir bermakna dasar: menutup, mengingkari, kafir ( unbeliever), tidak beriman, membantah, dst. Kita harus berhati-hati dalam menerjemahkan kata kafir ini.
Ayat ...fa-ma yujadilu diterjemahkan dengan...memperdebatkan, seharusnya "mendebat". Sebab mendebat memiliki arti: mencari dan memperlihatkan kelemahan...
3.
Jumat, 12 Juli 2019
Launching Buku Prof. Dr. Nasaruddin Umar dan Tasyakuran 60 tahun
Di Hotel Grand Hyatt, Prof Nasaruddin Umar menggelar Launching 20 buku karya beliau. Banyak tamu dan sahabat serta mahasiswa beliau yang hadir. Deretan pejabat tinggi negara juga berdatangan. Prof Tito, sang Kapolri, dan mantan-mantan Kapolri juga hadir. Menteri Agama RI, H. Lukman Hakim Saifuddin juga hadir. Bahkan bapak H.M. Jusuf Kalla, wakil Presiden RI juga hadir membuka dan memberi sambutan, singkat, padat, dan renyah. Sejumlah tokoh-tokoh nasional tersebut silih berganti memberi testimony mengenai kiprah dan ketokohan pak Nasar. Acara diawali dengan pemutaran video singkat tentang perjalanan hidup sosok Prof Nasar. Tampak juga Ibunda Hj Shinta Nuriyah, Gus Dur.
Saya sangat menikmati launching Buku tersebut, sambil membatin:...Prof Nasar hebat. Sebab, disamping 20 buku tersebut, Prof Nasar juga tengah mempersiapkan tafsir isyary yang bercorak tasawuf sekitar 20 jilid. Semoga karya monumental tersebut segera selesai. Sebagai bentuk al-tahadduth bi al-nikmah, saya ingin menyampaikan catatan reflektif, sebagai berikut:
1. Sebaik-baik kawan adalah buku. Buku baru adalah sumber inspirasi. Buku juga bisa menjadi sumber energi dalam kehidupan.
Peluncuran buku karya Prof Nasaruddin Umar adalah spesial karena dirangkaikan dengan peringatan tasyakuran 60 tahun. Selamat kepada Pak Nasaruddin Umar yang telah dan terus berbagi ilmu. Kita harus membangun literasi bangsa Indonesia lewat buku. Sebab buku adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya. Buku dapat menyimpan memori dan khazanah intelektual suatu bangsa. Buku juga dapat menjadi “penjaga” kewarasan bangsa.
Prof Nasaruddin Umar sebagai akademisi, cendekiawan dan ulama tidak pernah berhenti menulis. Respon masyarakat atas karya-karya beliau cukup antusias dan menggembirakan.
2. Pak Nasar Umar di tengah-tengah kesibukannya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, rektor Perguruan Tinggi Islam (PTIQ Jakarta), Pembina Pondok Pesantren al-Ikhlas, Ujung Bone, nara sumber seminar dalam dan luar negeri, tetapi masih sempat menulis karya-karya yang inspiratif. Sekarang ini, era disrupsi di mana informasi membludak dan otoritas agama mengalami pergeseran. Dulu, informasi agama yang sahih hanya bisa diperoleh dari seorang ulama dan atau orang tertentu yang mendalami ilmu-ilmu agama. Sekarang, hampir semua informasi telah tersedia di Google dan media elektronik lainnya. Kita khawatir informasi yang tidak otoritatif tersebut akan memengaruhi kita, keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Penerbitan buku adalah salah satu cara untuk menfilter informasi-informasi yang berseliweran tersebut.
Dari buku-buku Pak Nasaruddin Umar tergambar bahwa beliau adalah pemikir tasawuf sekaligus sebagai pengamal tasawuf. Saya sangat menyambut baik buku-buku pak Nasar yang mempertegas perlunya tafsir agama yang moderat dan toleran. Buku-buku sebelumnya tentang jender juga sangat menarik. Sebab, pemahaman relasi jender yang tepat dapat memberi pencerahan bagi hubungan yang baik dalam keluarga. Kita tahu bahwa ketahanan sebuah bangsa sangat tergantung pada ketahanan keluarga.
3. Bagaimana mengimplementasikan nilai dan pesan dari sebuah buku? Prof Muhammad Nuh berpandangan bahwa pada sebuah buku, paling tidak memiliki tiga makna.
Pertama, buku berfungsi untuk edukasi.
Kehadiran sebuah buku adalah untuk mengedukasi masyarakat. Cara terbaik untuk melakukan sebuah perubahan fundamental sebuah masyarakat dan bangsa adalah lewat buku. Bahwa masuknya informasi pasti akan berdampak perubahan.
Kedua, buku itu memberi pencerahan. Kehidupan itu biasa gelap dan tidak jelas, sehingga membutuhkan cahaya putih. Buku laksana cahaya yang menerangi.
Fungsi ketiga, buku memiliki fungsi empowering, pemberdayaan. Melakukan pemberdayaan individu dan masyarakat. Konsep dasar buku-buku pak Nasaruddin Umar adalah Islam rahmatan li al-’alamin. Pak Nasar terus menyuarakan gagasan universalitas Islam. Bahwa misi yang melekat pada semua agama adalah kasih sayang terhadap sesama manusia bahkan untuk seluruh makhluk. Universalitas agama-agama itu adalah substansi agama. Kita sangat membutuhkan pembentukan karakter bangsa dan umat yang berbasis pada kasih sayang dan cinta.
4. Agama harus tampil mencerahkan. Bahwa agama harus mendamaikan dan mensejahterakan umatnya. Bahwa agama sejatinya mengajarkan dan menganjurkan kebaikan dan kemashlahatan bersama.
Bahwa Islam wasathiyah harus menjadi common platform kita dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kita harus terus berdiskusi dan membuka "ruang dialog" untuk saling memperkaya dan mencari titik temu.
Islam Indonesia yang moderat, damai dan santun harus terus dirawat dan diperkuat agar dunia semakin damai, aman dan toleran. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana tatanan dunia Islam tanpa kehadiran Islam Indonesia. Pada sisi itulah makna kehadiran buku-buku Pak Nasaruddin Umar yang bercorak tasawuf yang mencerdaskan dan sekaligus mencerahkan umat.
Makna kehadiran buku telah terbukti membangun peradaban. Sebab, buku dapat mengumpulkan serpihan-serpihan sejarah kemanusiaan yang panjang. Buku juga dapat memperpendek jarak waktu. Lewat buku pikiran para ulama dapat dibaca dalam sebuah buku pengantar studi Islam. Seakan-akan tidak ada jarak antara masa lalu dengan waktu sekarang.
Selamat kepada Prof Nasaruddin Umar dan keluarga, dan semoga panjang umur serta terus menginspirasi umat dan anak-anak bangsa.
Filosofi Buku
Suatu hari saya menikmati berbagai koleksi Perpustakaan Nasional, di jl Medan Merdeka, Jakarta. Setelah puas membaca sejumlah buku, saya pun bergegas pulang ke kantor Kementerian Agama RI, Jl. Husni Thamrin, nomor 6, Jakarta Pusat. Sambil berjalan ke halaman depan perpustakaan yang megah itu, saya melirik ke samping kiri dan kanan. Ternyata pada ruang tamu di gedung depan terdapat satu dinding yang memuat pernyataan, pesan dan kesan para tokoh "perbukuan". Kata-kata dan "mantra" mereka, saya kutipkan sebagai berikut:
1. Bahkan Firman Tuhan disebut buku. (Prof. Dr. Koentowidjoyo, Sejarawan dan Novelis)
2. Perpustakaan adalah benteng terakhir kemanusiaan (Hawe Setiawan, 2014).
3. Dengan membaca, aku melepaskan diri dari kenyataan,
yaitu kepahitan hidup.
Tanpa membaca,
aku tenggelam dan sedih (Ahmad Wahib).
4. Bukalah setiap buku sejarah.
Sehalaman demi sehalaman.
Akan tuan dapati si penjajah
itu (Belanda) terlukis
sebagai pedagang yang rakus
(Cipto Mangunkusumo)
5. Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal (R.A Kartini).
6. Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu.
7. Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan (Gus Dur).
8. Kutu-kutu lebih rajin membaca buku dibanding mahasiswa, juga dosen-dosennya. Perpustakaan bekerja amat santai, bahkan ada hari ketika perpustakaan menganggur sama sekali. Mahasiswa hanya menjadi konsumen komoditas eceran di pusaran ilmu (Nurcholis Madjid).
9. Membaca surat kabar, ibarat meminum air laut (St Roehana, Kudus).
10. Buku dan perpustakaan harus ditarik segaris dengan dimensi manusia. Berpacaranlah di perpustakaan. Sepi dan sejuk.
Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman setia bersama anda, di mana saja, kapan saja, kecuali ketika menyelam di laut atau bersembunyi di kolong selama gerhana (Bondan Winarno).
11. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Pramoedya Ananta Tour).
12. Kalau cuma makan. Binatang juga bisa makan. Lantas, kalau cuma pakaian, binatang juga punya bulu. Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya keberagaman, punya kebudayaan, punya peradaban. (Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa).
13. Pembaca yang baik tidak ingin memperlakukan seperti orang dungu yang perlu dinasehati pengarang yang latah tanpa kepekaan, ibarat memancing atau menjaring di kolam mandul (Sejumlah esei sastra, Budi Darma).
Sabtu, 01 Juni 2019
Draft Khutbah Idul Fithri, 1440 H
Khutbah Idul Fithri 1440 H
Hakikat Puasa dan Kesucian Diri
Hari ini kita menyaksikan sekitar 23 juta umat Islam yang mudik di seluruh Indonesia. Mereka bergerak dari kota ke desa. Mudik adalah tradisi khas Indonesia. Mudik bukan sekedar perjalanan membayar rindu. Pulang kampung juga bisa dimaknai sebagai momentum untuk “menepikan” pikiran dai hiruk pikuk politik yang melelahkan paca pemilu. Ke desalah tempat yang tepat untuk menjemput ide-ide segar, kehangatan komunikasi, dan ketenangan hidup ( Agus Noor). Kehangatan komunikasi, dan rahasia panjang umur ada pada penduduk desa, demikian hasil riset Susan Pinker yang ditulisnya dalam buku: The Village Effect, Efek desa. Bahwa orang kota sangat membutuhkan suasana desa.
Pasaca pemilu, lebaran dapat dijadikan momentum untuk mendinginkan gesekan politik dan polarisasi di tengah masyarakat. Bercengkerama dengan keluarga dan berbagi cerita dapat membentuk ruang bertemu yang penuh kehangatan.
Puasa dalam bahasa Arab dikenal dengan kata shaum atau shiyam. Shaum biasa dimaknai sebagai puasa. al-shiyam memiliki makna lebih dalam daripada shaum. Imam al Raghib al Ashfahany dalam kitab Mufradat Alfaz al Quran menyebut al-shaum huwa al- imsak 'an al- fi'l math'aman kana aw kalaman aw masyyan. Shaum, puasa adalah menahan diri dari makan-minum, berbicara dan berjalan. Di kalangan ulama sufi, al-shiyam dimaknai sebagai puasa yakni tidak makan minum, berhubungan suami isteri pada siang hari, juga pikiran, mata, hati, telinga harus juga berpuasa. Itulah sebabnya, sehingga al-Quran menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa. Ya ayyuha allazina amanu kutiba 'alaikum al shiyam, kama kutiba 'ala llazina min qablikum la'allakum tattaqun. Ujung puasa ramadhan adalah mencapai derajat taqwa. Makna dasar taqwa adalah al-wiqayat hifdzu al-syai’i mima yu’dzihi wa yadhurruhu, memelihara sesuatu dari apa-apa yang bisa menyakiti dan mencelakakannya...Seperti quu anfusakum wa ahlikum naran....jagalah/peliharalah dirimu dan keluagamu dari api neraka....Jadi taqwa adalah menjadikan diri agar terpelihara dari sesuatu yang ditakutkan....dalam pengertian syari’at, taqwa adalah memelihara diri dari perbuatan dosa. Dengan demikian taqwa itu meninggalkan perbuatan maksiat. Bahkan ciri taqwa adalah memelihara diri dari sesuatu yang syubhat sekalipun...inna al-halal bayyinun, wa al-haram bayyinun....
Jadi, ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan suci ramadhan tidak sekedar menahan lapar dan dahaga pada siang hari. Tetapi lebih dari itu, puasa harus juha mencakup memelihara lisan, mata, telinga, hati dan pikiran dari hal-hal negatif.
Saya teringat cerita seorang kawan. Bahwa ayahnya seorang Kyai yang wara'. Begitu wara'-nya-- memelihara diri dari dosa-- sehingga setiap menghadiri suatu kenduri atau selamatan, beliau selalu membawa bekal sendiri. Bahkan beliau selalu memakai sorban yang dibiarkannya menjuntai ke bawah. Sesungguhnya beliau menutup telinganya dengan kapas. Beliau tidak mau mendengarkan kata-kata yang kurang bermanfaat. Apalagi perbincangan yang menjurus ke ghibah--perbincangan yang menceritakan keburukan orang lain--. Min husni Islami al-mar’i tarkuhu ma la ya’nihi, di antara ciri keutamaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.
Ada lagi kisah yang lain. Konon, ayah Said Nursi—ulama sufi Turki-- juga sangat zuhud. Ketika beliau menggiring kambingnya dan melewati kebun atau tanaman orang lain, maka kambing-kambing beliau ditutup mulutnya agar tidak memakan tanaman orang lain. Setelah itu, kambingnya diambil susunya untuk minum Said Nursi kecil. Betapa beliau sangat memelihara makan dan minum keluarganya. Beliau sangat wara'. Hasilnya, puteranya, Said Nursi memiliki kecerdasan yang luar biasa, hidup zuhud, dan menjadi seorang mujahid. Said Nursi juga melahirkan karya-karya akademik yang luar biasa menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Kitab al-Lama'at (Kitab Cahaya), thalath risalat (Tiga Risalah), untuk menyebut beberapa karya beliau. Betapa besar keberkahan hidup orang-orang yang hidup bersih ini.
Kegiatan menyambut Ramadhan sudah menggema. Yang paling banyak kirim-kiriman sms kepada sanak family dan handai taulan sudah dilakukan. Ada banyak pesan yang disampaikannya. Tapi biasanya seputar permohonan maaf atas segala keasalahan selama setahun lampau. Ada juga yang memuat do'a, harapan agar mudah rezeki dan dipanjangkan umurnya. Ada juga yang memuat do'a agar kiranya senantiasa diberi kesehatan yang paripurna. Demikian seterusnya. Dalam rangka menyambut ramadhan biasnaya pula kita memaknai ramadhan, atau ibadah puasa dengan bulan "pertobatan". Bulan di mana semua kita "mengekang" dan mengendalikan hawa nafsu. Mulai dari nafsu makan sampai nafsu birahi. Ada lagi satu nafsu yang terkadang kita lalai. Yakni mengendalikan nafsu "belanja". Menurut pengakuan CEO Lotte Group bahwa latar belakang perusahaannya didirikan di Korea Selatan, dan sekarang sudah menduduki peringkat ke-empat dunia adalah untuk menyalurkan nafsu belanja terutama bangsa Indonesia. Nafsu belanja orang Indonesia menurut pengakuan CEO ini sangat tinggi dan sulit untuk dikendalikan. Ketika ke Hong Kong University, saya juga mendapat cerita dari kawan-kawan Indonesia di sana bahwa para isteri pejabat di Jakarta--Indonesia-- sangat senang berbelanja di Hong Kong. Padahal, saya lihat harga di sana disamping mahal, juga tidak bebas pajak. Berbeda dengan Lotte Group yang memiliki barang berkualitas tinggi dan bebas pajak. Saya heran, mengapa para pejabat atau isteri pejabat itu gemar belanja? Semestinyalah kita mengendalikan nafsu belanja itu. Semoga dengan bulan suci Ramadhan kita dapat mengekang nafsu kita dan nafsu belanja kita. Lebih baik kita bersedekah daripada membiarkan diri kita terjebak dalam kehidupan yang konsumeristik-hedonistik. Semoga kita mendapatkan keberkahan hidup berkat bulan suci Ramadhan.
17 Ramadhan, Lailat al-Qadri
17 Ramadhan adalah hari yang sangat dinanti-nantikan semua umat muslim seluruh dunia. 17 ramadhan adalah momentum nuzul al Quran. 17 ramadhan juga diyakini sebagai malam untuk pertama kalinya al Quran diturunkan. Dan yang paling penting adalah 17 ramadhan diyakini sebagai malam turunnya lailatul qadar. Lailatul Qadar adalah suatu malam yang kemuliaannya lebih mulia dari seribu bulan. Semua orang yang melaksanakan puasa ramadhan menanti dan mengharapkan bertemu lailatul qadar.
Lailatul qadar adalah malam ditetapkannya nasib seseorang setahun ke depan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pada lailatul qadar itu pula dapat ditentukan perubahan nasib seseorang. Itulah sebabnya, do'a-do'a dipanjatkan agar seseorang dapat terhindar dari musibah, dipanjangkan umur, dan dimudahkan rezekinya.
Pada lailatul qadar, wirid dibacakan, mushhaf al Quran dilantunkan. Banyak orang yang pada malam-malam ramadhan membasahi bibirnya dengan zikir-zikir tertentu, shalat dan qiyamul lail ditunaikan. Dan pada siang harinya mereka bekerja keras dan memperbanyak sedekah.
Suatu waktu, A’isyah r.h.a bertanya kepada baginda nabi. Do’aapa gerangan yang dipanjatkannya ketika ia menemukan Lailat al-Qadri?. Nabi bersabda bacalah:
Allahumma innaa nas’aluka ridha-ka wa al-jannah,
wa na’udzubika min sakhthika wa al-nar.
Allahumma innaka ‘afuwun karim,
tuhibbu al-’afwa fa’fu ‘anna ya karim.
Duhai Allah, kami memohon ridho-Mu dan kenikmatan surga-Mu,
Dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksaan api neraka.
Ya Allah, Dikau Maha pemaaf lagi Murah Hati,
Engkau mencintai hamba-Mu yang pemaaf. Ampunilah kami, duhai Tuhan Yang Maha Mulia.
Nikmatnya Berbuka
Bagi orang yang puasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan ketika dia berbuka, dan ketika bertemu dengan Tuhannya. Berbuka ada momen yang sangat penting bagi orang yang menunaikan puasa ramadhan. Ada masa masa indah ketika berbuka bersama dengan keluarga di rumah atau dengan teman kantor. Atau sangat boleh jadi berbuka dirangkaikan dengan kerukunan keluarga suku atau daerah tertentu. Atau organisasi tertentu. Atau alumni sekolah atau perguruan tinggi tertentu. Ada kenangan tersendiri dalam berbagi kisah dan cerita. Suasana berbuka bagi keluarga yang super sibuk tentu memiliki makna tersendiri. Halmana dalam kehidupan di hari hari biasa mereka jarang bertemu dengan keluarga, justeru waktu sahur dan berbuka merupakan momentum yang memiliki makna yang dalam. Keluarga sakinah. Puasa ramadhan dapat meningkatkan kohesi antar keluarga. Ada lagi ta'jil yang disponsori oleh perusahaan tertentu sambil promosi produk produknya, mereka juga menyampaikan pesan pesan religius. Seperti Ta'jil: indahnya berbagi.
Berpuasa itu Sehat
Dalam suasan ramadhan para ustaz sering mengutip hadis yang berbunyi: ....shumu tashihhu...berpuasalah kalian niscaya akan sehat. Dengan berpuasa jadwal makan kita teratur dan ditakar. Asupan dan menu makanan juga rata- rata bergizi dan pasti halal. Ada riwayat lagi yang sering disebut- sebut sebagai hadis Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama. Riwayat dimaksud kira- kira berbunyi: ...,kami adalah umat yang tidak makan kecuali lapar. Dan berhenti makan, sebelum kenyan. Oleh pakar hadis Prof. K.H Musthofa Ali Ya'qub sudah dibantah bahwa riwayat tersebut bersumber dari seorang dokter berkebangsaan Sudan. Dalam kitab al- Rahmah fi al- Thibb wa al- Hikmah karya Jalaluddin al- Suyuthy, h. 22 disebutkan bahwa....berkumpullah empat orang ahli hikmah di istana Raja Kisra (Persia), dari Iraq, Romawi, India dan Sudan. Raja Kisra meminta agar mereka memberikan resep obat yang tidak memiliki efek samping. Li- yashifa ly kullu wahidin minkum al dawa'a al lazy la da'a ma'ahu. Dokter Iraq berkata...hendaknya Raja meminum air hangat tiga kali sehari. Dokter Romawi berkata, raja mengkomsumsi biji al- rasyad sedikit setiap harinya. Dokter India berkata, raja mengkonsumsi tiga biji ihlif setiap harinya. Raja menimpali, mengapa dokter Sudan tidak mengajukan resep. Anda diam saja, dan tidak bersuara. Fa qala lahu al maliku, fa ma al lazi taqulu anta? Fa qala, ya maulana al dawa'u al lazi la da'a ma'ahu an la ta'kula...dst. Dokter Sudan mengkritik kelemahan resep ketiga dokter dsri Iraw, India dan Romawi sambil mengajukan resepnya. Bahwa obat yang paling mujarab dan tidak memiliki efek samping adalah an la ta'kula illa ba'da al-ju'i. Wa iza akalta far fa' yadaka qabla al- syub'i. Fa innaka la tasyku 'illatun illa 'illatal maut-i. Jangan makan sebelum lapar. Hendaklah mengangkat tangan (berhenti makan) sebelum kenyang. Niscaya engkau tidak akan kena penyakit kecuali sakit yang mengantarmu kepada kematian. Dan mereka pun membenarkan resep dokter Sudan ini.
Buah Sabar
Dalam kitab al-Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengelaborasi dengan sangat indah sabar dan rasa syukur. Shabr itu laksana gaharu, sabr. Dan syukur itu adalah syakkar, manis. Allahlah yang menyelamatkan orang yang sabar, sebagaimana terlihat pada kisah para nabi dan rasul. nabi Yusuf a.s diselamatkan- Nya dari dslam sumur, dan keluar penjara. Bunga- bunga pada musim semi adaalh penerjemah kesabaran. Pada musim dingin, dedaunan berguguran. Hanya dengan kesabaran, pertumbuhan bisa dicapai. Dibutuhkan waktu bertahun- tahun lamanya untuk pertumbuhan sebuah pohon. Seperti halnya dengan manusia. Bayi adalah buah kesabaran. Bayi membutuhkan waktu bertahun- tahun untuk tumbuh menjadi manusia cerdas dan beriman. Rumi mengisahkan tamsil orang bodoh yang tidak bersabar. Seperti seorang lelaki yang ingin membuat tatto singa di punggungnya. Karena tidak tahan tusukan jarum, si lelaki memutuskan supaya gambarnya singanya tanpa ekor. Kemudian ia meminta singa tidak berkaki. Singa yang tidak berkepala. Dan singa tidak berbadan. Akhirnya, tato singanya tidak jadi. Kerang yang sabar dan menahan sakit dengan butiran pasir, pada akhirnya melahirkan mutiara. Indah, berkilau dan harganya sangat mahal. Ramadhan melatih kita untuk hidup menjalani cobaan. Sabar terhadap kemalangan hidup. Kehidupan ini, kata Rumi seperti bunga mawar. Ada tangkai, duri dan bunga. Lupakan tangkai dan durinya. Ingat saja bunga yang indah, harum dan menawan. Sabar harus dipadu dengan rasa syukur kepada Tuhan pemberi rahmat dan kasih- sayang.
Do’a Ramadhan
Di bulan suci Ramdhan ini, marilah kita untuk terus memperbanyak berdo'a sebagai ucapan terima kasih kita kepada Tuhan. Sebagai permohonan ma’af dan ampun atas segala dosa dan nista. Berdo’a juga untuk menghidupkan ruh religius kita. Sebab, dalam do’a, kita hanyalah debu. Dan pada akhirnya manusia akan menjadi...Dust on dust, debu di atas debu.
Allahumma ashlih lana dinana al lazi huwa 'ishmatu amrina. Wa ashlih lana dunyana al-lazi fihi ma'asyuna. Wa ashlih lana akhiratana al-laty fiha ma'aduna. Waj'al al-hayat ziyadatan lana fi kull khair-in Waj'al al- maut rahat- an lana min kull syarr-in.
Berikanlah kebaikan dalam menjalankan perintah agama, sebagai tempat menggantungkan segala urusan,
Anugerahilah kebaikan dalam kehidupan duniawi kami sebagai tempat mengadu nasib,
Limpahkanlah kebaikan untuk akhirat kami, sebagai tempat kembali (menghadap keharibaan-Mu),
Ya Allah, jadikanlah (sisa) hidup kami sebagai kesempatan untuk terus menambah kebaikan,
Dan jadikanlah kematian sebagai masa istirahat untuk berbuat keburukan (dan maksiat).
Ya Allah, tuntunlah kami ke jalan yang benar dan lempang,
dalam menjelajahi alur-alur sungai takdir kami,
dalam menyusuri lorong-lorong kehidupan penuh pesona.
Allahumma innaa nas’aluka al-huda wa al-tuqa wal-’afafah wa al-ghina.
Ya Allah, kami memohon petunjuk dan taqwa agar terjaga dari berbuat nista, kami memohon kemuliaan hidup, keberkahan dan kecukupannya.
Allahumma innaa nas’aluka ridha-ka wa al-jannah,
wa na’udzubika min sakhthika wa al-nar.
Allahumma innaka ‘afuwun karim,
tuhibbu al-’afwa fa’fu ‘anna ya karim.
Duhai Allah, kami memohon ridho-Mu dan kenikmatan surga-Mu,
Dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksaan api neraka.
Ya Allah, Dikau Maha pemaaf lagi Murah Hati,
Engkau mencintai hamba-Mu yang pemaaf. Ampunilah kami, duhai Tuhan Yang Maha Mulia.
Rabbana atina fi al- dunya hasanat-an, wa fil akhirat- i hasanat-an Wa qina 'azab-an nar. Wa Shalla Allah 'ala Muhammad-in. Wal hamdu lillah rabbil 'alamin.
Wassalamu 'alaikum wr,wb.
Langganan:
Postingan (Atom)